Renjana, Guruh, dan Indonesia yang Kita Rindukan
KETIKA Guruh Soekarnoputra merilis lagu “Renjana” saya masih kuliah semester terakhir di Yogyakarta. Saya menontonnya di TV milik tetangga saat lagu ini memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1976. Terus terang saya tidak segera menyukainya karena sebagai lagu pop ‘Renjana” terdengar berat di telinga saya.
Aransemen yang diolah Idris Sardi memang sangat bagus. Lagu itu kemudian dilombakan di Tokyo, Jepang, dengan penyanyi yang membawakannya tetap Grace Simon. Renjana memang tidak memenangkan kompetisi di Jepang tapi tampaknya ada kemenangan lain yang jauh lebih panjang umurnya: Renjana tetap tinggal di hati pendengarnya.
Saya tiba-tiba teringat Renjana saat mendengar Guruh Soekarno berpulang, Sang maestro musik dan tari itu meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2029) pagi. Saya mengingat lirik Renjana yang sangat puitis dan penuh makna. Liriknya mengusik nurani, melewati masa-masa yang sangat panjang. Lirik Renjana terasa seolah baru saja ditulis.
“Terkungkung langit nan kelam
Hatiku merintih
Ditindih derita beku
Merana berkawan sunyi.”
Apakah Guruh sedang berbicara tentang kondisi politik Indonesia pada masa ketika menulisnya? Kita tidak tahu. Tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Renjana secara khusus diciptakan sebagai kritik terhadap keadaan politik pada masa itu. Karena itu, kita tidak perlu memaksakan tafsir tersebut.
Tetapi seorang seniman tidak pernah sepenuhnya hidup di luar zamannya. Apalagi, Guruh adalah putra Soekarno. Ia tumbuh dalam sejarah Indonesia yang penuh pergolakan. Ia menyaksikan perubahan zaman, perubahan kekuasaan, dan perubahan cara bangsa ini memandang dirinya sendiri. Namun ia memilih berbicara terutama melalui seni. Mungkin di situlah keistimewaannya. Guruh tidak berteriak di jalanan. Ia menciptakan sesuatu yag bisa diterima masyarakat luas. Ia menulis musik. Ia tidak sekadar mengenang Indonesia melalui masa lalunya. Ia mencoba membayangkan Indonesia melalui seni yang mempertemukan tradisi dan modernitas.
Renjana adalah salah satu jejak dari pencarian itu. Indonesia yang terkurung
Ironi kita
Setengah abad kemudian, kita membaca Renjana dalam suasana yang berbeda, tetapi menemukan kegelisahan yang terasa akrab. Kita melihat kerusakan lingkungan. Bencana datang silih berganti. Hutan, sungai dan ruang hidup manusia terus berada dalam tekanan pembangunan. Di tempat lain, masyarakat berhadapan dengan ketimpangan, biaya hidup, korupsi dan berbagai persoalan yang seolah tidak pernah selesai.
Kita juga melihat kekuasaan. Dalam negara demokrasi, kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk melayani rakyat. Tetapi demokrasi mempunyai ironi sendiri: mereka yang diberi mandat untuk mengurus kepentingan publik kadang begitu sibuk mengurus kekuasaan sehingga lupa kepada alasan mengapa kekuasaan itu diberikan.
Di sinilah satire Renjana terasa tanpa Guruh harus menulis satu kata pun tentang politik. “Terkungkung langit nan kelam.”
Barangkali kita memang sedang berada di bawah langit yang mendung. Kita hidup di zaman ketika banyak hal disebut sebagai kemajuan. Jalan dibangun, gedung menjulang, investasi masuk, angka pertumbuhan diumumkan, proyek dirayakan. Namun pertanyaannya sederhana: apakah manusia yang hidup di bawah semua kemajuan itu ikut merasa hidupnya semakin baik?
Jangan-jangan kita terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa memastikan bahwa manusia masih mempunyai tempat yang layak untuk hidup di dalamnya. Itulah satire paling pahit pembangunan: kita bisa mempunyai gedung yang semakin tinggi, tetapi sungai yang semakin dangkal; ekonomi yang semakin besar, tetapi rasa aman masyarakat yang semakin kecil.
Renjana berbicara tentang malam, kabut, mendung dan embun.
Hari ini, alam berbicara dengan bahasa yang jauh lebih keras. Banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan berbagai bencana seharusnya tidak hanya dibaca sebagai peristiwa alam. Sebagian memang merupakan fenomena alam, tetapi sebagian dampaknya berkaitan erat dengan bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya.
Pesan Guruh
Tetapi Guruh tidak berhenti dalam kegelapan dan kemurungan. Di sinilah Renjana menjadi berbeda karena lagu ini tidak berakhir pada ratapan. Lihat liriknya:
"Kuterjaga
Kumeronta
Kutinggalkan mimpi hampa.”
Guruh mengajak kita bangun dan menyadari keadaan alam sekitar yang rusak. Ini memperlihatkan keberaniannya untuk meninggalkan sesuatu yang sudah tidak memberikan kehidupan.
Lihatlah lirik Guruh lagi:
“Angin kembara
Menebar wangi bunga
Menepis mendung
Mengusap embun.”
Ia menebar harapan. Jangan terus bermimpi, tapi bergeraklah ke depan. Barangkali inilah pesan paling penting Renjana untuk Indonesia hari ini. Kita tidak boleh berhenti pada keluhan terhadap keadaan. Tetapi kita juga tidak boleh terbuai kata “harapan” untuk menutupi kenyataan.
Guruh Soekarnoputra telah meninggalkan banyak karya. Musik, tari, koreografi, busana dan pertunjukan kolosal yang mencoba mempertemukan Indonesia dengan dirinya sendiri. Ia tampaknya percaya bahwa modernitas tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Bahwa menjadi modern tidak berarti menjadi asing terhadap akar sendiri.
Dan mungkin itulah salah satu warisan pemikirannya yang paling penting.
Hari ini, ketika Indonesia berlari mengejar investasi, teknologi, industrialisasi dan pertumbuhan, pertanyaan Guruh terasa kembali relevan: Indonesia seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Sebuah negeri yang kaya tetapi alamnya rusak? Sebuah negeri yang tumbuh tetapi ketimpangannya melebar? Sebuah negeri yang demokratis tetapi rakyatnya semakin jauh dari pusat pengambilan keputusan? Atau sebuah negeri yang benar-benar menjadi tempat kehidupan bersemi?
Hari ini kita mendengar kembali perasaan dan pesan Guruh melalui Renjana:
“Hasratku menderu
Menuju dataran hijau
Tempat bersemi hayatku.”
Kalimat itu terasa seperti sebuah kerinduan. Kerinduan terhadap Indonesia yang mungkin belum selesai kita wujudkan. Indonesia yang tidak hanya megah dalam slogan, tetapi nyaman ditinggali. Indonesia yang pembangunannya maju tanpa harus menghancurkan rumahnya sendiri. Indonesia yang membuat anak-anaknya tidak perlu bertanya, apakah masa depan masih menyediakan tempat bagi mereka?
Tetapi Guruh tidak berhenti dalam kegelapan dan kemurungan. Di sinilah Renjana menjadi berbeda karena lagu ini tidak berakhir pada ratapan. Lihat liriknya:
“Kuterjaga
Kumeronta
Kutinggalkan mimpi hampa.”
Guruh mengajak kita bangun dan menyadari keadaan alam sekitar yang rusak. Ini memperlihatkan keberaniannya untuk meninggalkan sesuatu yang sudah tidak memberikan kehidupan.
Lihatlah lirik Guruh lagi:
“Angin kembara
Menebar wangi bunga
Menepis mendung
Mengusap embun.”
Ia menebar harapan. Jangan terus bermimpi, tapi bergeraklah ke depan. Barangkali inilah pesan paling penting Renjana untuk Indonesia hari ini. Kita tidak boleh berhenti pada keluhan terhadap keadaan. Tetapi kita juga tidak boleh terbuai kata “harapan” untuk menutupi kenyataan.
Guruh Soekarnoputra telah meninggalkan banyak karya. Musik, tari, koreografi, busana dan pertunjukan kolosal yang mencoba mempertemukan Indonesia dengan dirinya sendiri. Ia tampaknya percaya bahwa modernitas tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Bahwa menjadi modern tidak berarti menjadi asing terhadap akar sendiri. Dan mungkin itulah salah satu warisan pemikirannya yang paling penting.
Hari ini, ketika Indonesia berlari mengejar investasi, teknologi, industrialisasi dan pertumbuhan, pertanyaan Guruh terasa kembali relevan: Indonesia seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Sebuah negeri yang kaya tetapi alamnya rusak? Sebuah negeri yang tumbuh tetapi ketimpangannya melebar? Sebuah negeri yang demokratis tetapi rakyatnya semakin jauh dari pusat pengambilan keputusan? Atau sebuah negeri yang benar-benar menjadi tempat kehidupan bersemi?
Hari ini kita mendengar kembali perasaan dan pesan Guruh melalui Renjana:
“Hasratku menderu
Menuju dataran hijau
Tempat bersemi hayatku.”
Kalimat itu terasa seperti sebuah kerinduan. Kerinduan terhadap Indonesia yang mungkin belum selesai kita wujudkan. Indonesia yang tidak hanya megah dalam slogan, tetapi nyaman ditinggali. Indonesia yang pembangunannya maju tanpa harus menghancurkan rumahnya sendiri. Indonesia yang membuat anak-anaknya tidak perlu bertanya, apakah masa depan masih menyediakan tempat bagi mereka?
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar