Menatap Jejak Cahaya Rachmat Gobel
KEPADA jiwa yang kini telah luruh ke dalam keheningan yang paling purba, yang bersemayam di sebuah koordinat tatkala jarak tidak lagi diukur dengan meter, dan rindu tidak lagi disekat oleh detak jarum jam. Kepada raga yang beristirahat di balik lipatan mega, di sebuah tempat tatkala waktu tidak lagi menghitung usia, dan air mata tidak lagi mengenal gravitasi.
Pak Rachmat Gobel yang terkasih, bagaimanakah rasanya merdeka dari gravitasi dunia? Bagaimanakah cuaca di alam keabadian hari ini? Apakah keabadian sewangi tanah basah di Gorontalo selepas hujan? Atau apakah secerah pendar lampu-lampu elektronik yang dulu pernah dinyalakan ayahandamu di sudut-sudut rumah jutaan rakyat Indonesia? Apakah di sana langit selalu meneduhkan jiwamu yang lelah?
Di bentangan bumi yang pernah engkau jejaki dengan langkah-langkah santunmu, angin sore bertiup membawa aroma tanah basah. Dan juga sisa-sisa doa yang belum selesai diucapkan. Udara masih terasa pekat oleh sisa-sisa keterkejutan. Waktu seakan berhenti berputar pada fajar hari Jumat itu, tanggal 10 Juli 2026 lalu. Embun pagi belum sempat luruh. Jiwamu melesat mendahului matahari, kembali pulang ke pangkuan pemilikmu dalam keheningan yang paling benderang.
Kami berdiri menatap langit barat yang perlahan melarutkan warna emas menjadi jelaga. Persis seperti caramu pamit dari panggung yang fana ini: sunyi, anggun, tanpa riak badai. Menguap begitu saja ke dalam pelukan sang pemilik rahasia pada sebuah fajar Jumat yang suci dalam usia 63 tahun.
Kepergianmu ibarat puisi yang tenang, namun menyisakan dentum kehampaan yang bergema panjang di lorong-lorong dada kami yang ditinggalkan. Caramu berangkat begitu senyap, seperti lampu yang padam tanpa kedipan peringatan. Engkau pergi tanpa keluh kesah. Tanpa isyarat rasa sakit. Menggenapi takdir dalam keadaan yang paling ideal yang diimpikan setiap hamba.
Ketika malaikat maut mengetuk pintu tidurmu, ia tidak membawa pedang atau rasa sakit yang menghunjam. Ia datang bagai pelayan yang membawakan jubah sutera. Menjemput seorang musafir yang telah kelelahan menempuh ribuan kilometer jalan pengabdian. Engkau pun berpulang dalam keadaan yang paling membikin kami cemburu. Dalam tidur yang damai, di hari yang penuh ampunan.
Kepergianmu yang tenang justru meninggalkan dentuman duka
yang teramat bising di dalam dada. Kami terhenyak, menyadari bahwa sosok yang selama ini menjadi tiang tempat bersandar, payung kala hujan badai nasional menerpa, kini telah menjelma menjadi kenangan yang terbingkai dalam keabadian. Mengapa kematian yang begitu indah dianugerahkan kepadamu, Pak RG? Jawabannya mungkin tertulis jelas pada setiap jejak tapak kakimu yang tertinggal di permukaan tanah Nusantara.
Mari kita memutar kembali rol-rol memori yang kini tersimpan di perpustakaan langit. Engkau dilahirkan dari rahim Gorontalo, di utara Sulawesi, di Semenanjung Minahasa, sebuah tanah yang sangat kau cintai, yang diberkati dengan nyanyian ombak dan keteguhan bukit-bukit kapur. Dari sana, darah sang ayahanda, Thayeb Mohammad Gobel, mengalir dalam nadimu bukan sebagai privilese kemewahan. Melainkan sebagai beban amanah yang teramat berat.
Beliau menanamkan filosofi yang kelak menjadi jangkar jiwamu: bahwa industri bukan sekadar mencari keuntungan. Industri adalah sebuah pohon rindang, tempat ribuan manusia bernaung dan menjemput martabatnya. Kau pegang wasiat itu, Pak Rachmat, bagai memegang bara api—tak pernah kau lepaskan, walau telapak tanganmu melepuh diterpa badai krisis ekonomi.
Di bawah kibaran bendera Panasonic Gobel, engkau tak pernah memandang pabrik-pabrikmu sebagai mesin pencetak uang. Bagimu, deru mesin-mesin perakit elektronika adalah simfoni kehidupan. Di dalam setiap tabung radio dan televisi yang diproduksi, di dalam setiap pusaran kipas angin, dan di dalam setiap pendar lampu pijar yang menerangi rumah-rumah bambu di pelosok Indonesia, ada keringat dan doa yang kau titipkan.
Pak Rachmat selalu meyakini bahwa teknologi harus memuliakan manusia. Bukan memperbudak mereka. Ketika berjalan di antara ribuan buruh pabrik, dirimu tidak berjalan sebagai seorang majikan yang congkak, tapi membungkuk. Kau ajarkan arti sebuah penghormatan. Tradisi membungkuk hormat di hadapan ribuan pekerjamu di pabrik bukan sekadar tata krama korporasi Jepang yang kau pelajari di Chuo University. Melainkan pancaran dari ketundukan jiwamu terhadap keagungan sang pencipta yang menitipkan mereka di bawah kepemimpinanmu.
Engkau melihat mereka bukan sebagai buruh. Melainkan sebagai saudara sejiwa yang bersama-sama menegakkan martabat keluarga besar Gobel. Tradisi ojigi yang kau bawa dari negeri Sakura bukan sekadar formalitas korporasi. Tapi cerminan dari ketundukan batinmu yang terdalam kepada sesama ciptaan Tuhan. Kau melihat mereka tak hanya sebagai rekan sejalan. Bahkan saudara sekandung dalam rahim perjuangan hidup.
Oh iya, setelah Pak RG melangkah melewati pintu gerbang keabadian, bagaimana kabar ruangan-ruangan megah di gedung parlemen itu? Kursi Wakil Ketua DPR yang dahulu kau duduki, kini tampak begitu terasa lengang, dingin dan kehilangan jiwanya. Kursi tempatmu duduk dan merumuskan kebijakan kemakmuran rakyat seolah kehilangan bobotnya.
Tersebab engkau menembus batas-batas kaku politik. Meruntuhkan sekat antara sang pembesar dan rakyat jelata. Di tengah riuh rendah dunia politik yang kerap kali diwarnai pamrih, engkau hadir bagai oase—membawa ketulusan, kesantunan, dan kebaikan yang murni. Engkau tak pernah mendendam. Tak pernah membalas kekecewaan dengan amarah. Jiwamu begitu lapang, melebihi luas samudra yang membatasi pulau-pulau di negeri ini.
Sudah kau fahami jika dunia politik sering kali menyerupai pasar malam yang bising. Penuh dengan teriakan kepentingan, transaksi di balik tirai, dan kepulan asap ambisi. Namun, kehadiranmu di sana bagaikan sebatang lilin yang menyala di tengah kegelapan gua. Engkau membawa politik ke tingkat yang berbeda: politik kebudayaan, politik kemanusiaan, politik yang berbicara dengan bahasa hati.
Kami ingat betul, Pak Rachmat, bagaimana wajahmu tetap tenang ketika badai kritik atau gesekan kepentingan politik menghantam. Engkau tidak pernah membalas makian dengan makian yang lebih tajam. Senyumanmu adalah tameng terbaikmu. Ketika badai fitnah menerpa, engkau hanya memilih untuk tersenyum. Merunduk layaknya padi yang sarat akan isi, lalu kembali bekerja dengan keriangan batin yang hanya dimengerti oleh orang-orang berhati bersih.
Di saat orang lain berebut panggung untuk berteriak, engkau memilih merunduk. Mendengarkan keluh kesah para petani di hamparan sawah Gorontalo. Atau menemui para pedagang pasar tradisional yang tangannya kasar oleh kerja keras. Engkau melarutkan dirimu ke dalam jelata. Gelar adat Pulanga Ti Bulilango Hunggia—Sang Pemberi Cahaya Negeri—bukanlah sekadar barisan kata tanpa makna. Kau benar-benar menjadi lentera di saat kegelapan ekonomi mengancam. Menjadi pemandu ketika arah bangsa ini sempat limbung.
Uang pribadimu mengalir bukan untuk membeli suara. Tapi untuk membangun peradaban kecil di sudut-sudut daerah yang terlupakan: menghidupkan tenun karawo, membuka akses pasar bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atawa UMKM. Tak kalah penting, menyekolahkan anak-anak miskin agar mereka bisa menatap masa depan dengan mata berbinar. Engkau mempraktikkan apa yang disebut dalam falsafah Jawa yang sufistik: sepi ing pamrih, rame ing gawe—sunyi dari pamrih ego, namun riuh dalam kerja-kerja nyata.
Nama rahim Gorontalo, negeri leluhur yang sangat kaucintai, akan selalu mengukir namamu dalam setiap helai nafas pembangunannya. Jasadmu telah terbaring pasrah di bawah gundukan tanah Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tanah merah di Jakarta itu kini merawat tubuh yang dahulu tak pernah lelah bergerak demi bangsa. Namun, rohmu pasti sedang bertamasya di tempat yang jauh lebih indah.
Kami membayangkan dirimu sedang duduk di tepi telaga surgawi bersama ayahanda. Mungkin engkau sedang menyeduh secangkir kopi hangat berbincang tentang bagaimana Indonesia hari ini. Engkau mungkin tersenyum lega, menunjukkan raport perjuanganmu yang telah selesai, yang paripurna, yang ditandatangani dengan tinta husnul khatimah.
Tidak ada lagi beban inflasi yang harus kau pikirkan. Tak ada lagi rapat kerja yang melelahkan fisikmu hingga larut malam. Tak ada lagi beban berat untuk menjaga kesejahteraan puluhan ribu karyawan di pundakmu. Engkau telah bebas. Keabadian telah menyembuhkan segala lelahmu.
Namun bagi yang ditinggalkan—istri tercinta Retno Damayanti, serta putra-putrimu Mohammad Arif Gobel dan Nurfitria Sekarwillis—perpisahan ini adalah sebuah pisau sunyi yang mengiris malam-malam mereka. Rumah terasa teramat luas ketika sosok yang biasanya mengisi sudut ruang dengan petuah-petuah bijak, kini hanya bisa ditemui dalam bingkai foto hitam putih berlapis kaca. Namun, mereka tidak menangis dengan ratapan yang merusak takdir. Di dalam mata mereka, ada kebanggaan yang mengkristal menjadi ketabahan. Mereka tahu bahwa kepergianmu di hari Jumat yang agung adalah stempel kemuliaan dari langit.
Warisan yang kau tinggalkan untuk mereka bukanlah sekadar angka-angka di rekening bank, sertifikat kepemilikan saham atau bisnis yang menggurita. Melainkan sebuah nama baik yang harumnya melebihi wewangian kasturi. Nama baik yang melampaui batas zaman. Karena nama Rachmat Gobel adalah sebuah sinonim dari integritas, ketulusan, dan cinta tanah air yang tak bersyarat. Sebuah teladan tentang bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Para pelaku industri kreatif dan pertelevisian juga kehilangan teladan terbaik mereka. Gagasanmu melahirkan Panasonic Awards puluhan tahun lalu, bukan sekadar pesta pora dunia hiburan. Itu adalah caramu memanusiakan para pekerja seni. Memberikan mereka panggung kehormatan agar terus berkarya dengan martabat yang tinggi. Engkau selalu percaya bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya-karya estetik dan kebudayaannya sendiri.
Coba perhatikan sahabat-sahabatmu yang kehilangan. Mereka, para pekerja kreatif yang dahulu bersama-sama membidani lahirnya Panasonic Awards, kini hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Acara penghargaan yang dahulu kau gagas demi mengangkat harkat industri pertelevisian nasional, kini berdiri tegak sebagai monumen sejarah kegigihanmu menghargai jerih payah sesama manusia.
Pak Rachmat, dirimu kini berada di balik misteri tirai kematian. Kontemplasi kami malam ini bermuara pada satu kesadaran: bahwa hidup ini sesungguhnya adalah sebuah upacara penanaman benih. Ada orang yang menanam benih duri, yang kelak ketika ia pergi, orang-orang akan bersyukur karena terhindar dari luka. Namun dirimu sungguh berbeda. Pak Rachmat telah menanam benih-benih pohon peneduh di sepanjang jalan hidupmu. Kini, ketika tiada, pohon-pohon itu telah tumbuh besar, daun-daunnya yang rimbun menjadi tempat berteduh bagi jutaan jiwa yang kedinginan. Buah-buah kebaikanmu akan terus dipetik oleh generasi yang bahkan belum sempat menjabat tanganmu.
Doa-doa kami tak akan pernah putus mengalir bagaikan arus sungai yang bermuara ke samudra keabadianmu. Setiap kali selawat dilantunkan, setiap kali surah Al-Fatihah dihadiahkan untukmu dalam lingkaran tahlil tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari dan seterusnya, akan terus mengalir bagai mata air yang tak pernah kering. Semoga menjelma menjadi cahaya yang mengusir pekatnya liang lahat. InsyaAllah menjadi pelita di alam kuburmu. Menjadi bantal sutra yang menemani tidur panjangmu. Menjadi syafaat yang menuntun langkahmu menuju jajaran hamba-hamba yang diridai-Nya.
Ruang fana ini sungguh merindukanmu. Namun alam keabadian tentu lebih berhak atas keindahan jiwamu. Kami selalu membayangkan engkau di sana, berjalan di taman-taman surga yang dialiri sungai-sungai jernih. Tanpa perlu lagi memikirkan beban inflasi, neraca perdagangan, atau hiruk-pikuk sidang-sidang parlemen yang melelahkan fisikmu.
Selamat jalan, sang pembawa cahaya. Selamat beristirahat dalam dekapan kasih sayang Allah yang maha tak terbatas. Kegelapan malam di dunia ini tidak akan mampu meredupkan binar keteladanan yang telah Engkau tinggalkan di hati kami. Hingga saatnya tiba bagi kami semua untuk menyusul langkahmu ke balik tirai misteri kematian, namamu akan tetap abadi. Sehangat mentari pagi. Seindah lantunan selawat yang mengantarkan kepergianmu. Kami yang masih terjebak dalam pusaran waktu yang fana ini akan terus merawat nyala api yang pernah kau sulut di dada kami.
Semangatmu untuk mengentaskan kemiskinan, ketulusanmu dalam merangkul yang lemah, dan kecintaanmu yang tanpa batas pada Republik ini akan selalu menjadi kompas bagi langkah-langkah kami yang tersisa. Kami akan terus belajar bagaimana menjadi manusia yang tangguh namun tetap lembut. Menjadi pemimpin yang berkuasa namun tetap menghamba pada kepentingan rakyat banyak.
Suatu hari nanti, pastilah takdir menjemput kami satu per satu. Takdir untuk menyeberangi jembatan kematian. Lalu memasuki ruang sunyi yang sama denganmu. Kami berharap bisa melihat senyuman teduhmu kembali menyambut kami di gerbang keabadian. Tidurlah dalam damai, wahai pahlawan kemanusiaan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Sekian dulu surat kami yang merindukan cahayamu. Surat sakral dari jiwa-jiwa yang kau sentuh dengan kebaikan-- meski terasa berat, namun ikhlas melepas kepergianmu.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar