Speaking Truth to Power
KEPERGIAN Abdillah Toha pada 26 Mei 2026 dikenang melalui peluncuran buku Penjaga Akal Sehat: Abdillah Toha di Mata Kerabat dan Sahabat di Universitas Paramadina, Jumat 4 September 2026. Buku terbitan Mizan itu berisi testimoni orang-orang yang dekat dengan Abdillah Toha. Di antara para penulis terdapat nama Boediono, Jusuf Kalla, Goenawan Mohamad, Haidar Bagir, Didik J. Rachbini, Najwa Shihab, Sidarto Danusubroto, dan sejumlah penulis lainnya.
Esai Abdillah tersebar di berbagai media, termasuk Kompas. Di Kompas, antara lain, dapat ditemukan esainya tentang negara bayangan dan oligarki. Abdillah juga pernah menulis “Sepuluh Alasan Mengapa Saya Memilih Presiden Jokowi” pada 2014. Dalam esai lainnya, ia menulis “Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi”.
“Presiden saya telah banyak berubah,” kata Abdillah tentang Jokowi yang pernah didukungnya.
Menikmati esai-esai Abdillah terasa begitu lugas. Tak banyak politisi yang berani menulis secara terus terang dengan bertumpu pada akal sehat. Sebagaimana ditulis M. Syafi’i Anwar, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Ummat, Abdillah adalah politisi sekaligus intelektual publik yang organik.
Syafi’i mengatakan, Abdillah mempraktikkan apa yang kerap dikatakan Edward Said sebagai speaking truth to power. Mengingatkan atau mengkritik kekuasaan yang dirasakan telah melenceng dari substansinya adalah moral calling, sebuah panggilan moral.
Cara pandang speaking truth to power itu sejalan dengan gagasan P.K. Ojong, salah seorang pendiri Kompas, bahwa “tugas pers bukanlah untuk menjilat penguasa, tetapi untuk mengkritik yang sedang berkuasa.”
Syafi’i menceritakan pengalamannya ketika Majalah Ummat pada Maret 1998 menurunkan judul “Wes Ewes Bablas Kabinetnya” sebagai respons atas pembentukan kabinet pada penghujung Orde Baru. Syafi’i sempat deg-degan dengan judul tersebut. Namun, ketika berkonsultasi dengan Abdillah, Abdillah hanya mengacungkan jempol sambil berkomentar, “Ini menarik dan pasti gempar.”
Kesaksian Sidarto Danusubroto menyebut Abdillah bukan sekadar seorang politisi. Ia adalah intelektual yang memilih politik sebagai jalan pengabdian. Kecerdasannya tidak membuatnya elitis dan idealismenya tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan siapa pun. Ia membuktikan bahwa politik masih dapat dijalankan dengan etika, integritas, dan keberanian moral.
Kelugasan Abdillah disebut Haidar Bagir sebagai “tidak njawani”, meskipun Abdillah lahir dan besar di Solo. Haidar menyebut pandangan Abdillah kerap dianggap antikemapanan. Ia bahkan pernah diancam akan digeruduk. Namun, bukan Abdillah jika ia takluk pada tekanan.
Abdillah adalah politisi yang sangat menghayati bahwa menjadi politisi merupakan sebuah panggilan (calling), bukan sekadar menjadi pekerja politik. Sebagaimana dikatakan Sutrisno Bachir, mantan Ketua Umum PAN, Abdillah adalah sosok politisi yang berpegang pada prinsip benar dan salah, bukan politisi yang berprinsip menang dan kalah.
Ia politisi yang berani bersikap dan mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Bukan politisi yang sekadar bermain aman asal selamat.
Di tengah kebekuan dunia politik Indonesia yang dipenuhi pujian dan pujaan hingga meminggirkan akal sehat, di tengah politisi yang menjadikan mencla-mencle sebagai prinsip, Abdillah Toha adalah pengecualian.
Ia teguh. Ia jujur. Ia berani bersikap.
Jika melacak lebih jauh pandangan Abdillah, dalam esai berjudul “Teka-Teki Nasional”, 5 Januari 1998, ia menulis:
“Tahun 1997 hanya menggarisbawahi bahwa persoalan-persoalan politik kita sebetulnya berhulu pada satu soal besar yang selama ini dianggap remeh-temeh: bangkrutnya etika politik dan kekuasaan....”
Pandangan Abdillah tentang kebangkrutan etika politik dan kekuasaan pada 1997 masih terasa menyayat ketika kita menyaksikan kebangkrutan etika politik negeri ini yang kini merambah hampir semua lini kehidupan.
Abdillah telah pergi. Namun, pemikiran politiknya yang tersebar di sejumlah media selayaknya dikumpulkan dan kemudian dibukukan. Jejak pemikiran Abdillah tetap relevan sebagai bahan pembelajaran, termasuk bagi generasi baru politisi Indonesia dan kader-kader partai yang pernah ikut didirikannya, Partai Amanat Nasional.
Sebab, di tengah politik yang semakin pragmatis, warisan Abdillah mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana tetapi semakin langka: politik membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar kepada kekuasaan.
Speaking truth to power.
Kutipan itu mengingatkan saya pada Timothy Snyder dalam On Tyranny, “Jika tak seorang pun di antara kita siap mati demi kebebasan, maka kita semua akan mati di bawah tirani…” *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar