Gerbang Perang Dunia III Kewalahan AS-Israel Melawan Iran
Saya sudah menulis tentang Iran sejak 1978 ketika Revolusi Iran masih pada tahap awal. Pusat perlawanan ada di Paris. Tokoh utamanya adalah Ayatollah Khomeini yang saya kenal sejak Khomeini memimpin para opposisi.
Awal Februari 1979, saya menyertai beliau terbang ke Iran dalam pesawat Air France. Saya duduk hanya beberapa baris dari beliau. Setelah 10 hari pemerintahan Shah Iran menyerah. Selesailah sebuah sejarah ribuan tahun Iran sebagai sebuah Empire. Dimulailah babak baru dengan didirikannya Republik Islam Iran.
Perjalanan hidup republik ini saya liput untuk harian sore ‘Sinar Harapan’ dari Iran selama 2 tahun pertama dengan intensif. Enam bulan setelah didirikan Iran di bawah Presiden Bani Sadr
diserang secara masif pasukan Iran. Pada saat yang sama Iran diisolir dan semua aset keuangannya yang ada di banyak bank di dunia dibekukan atas permintaan Amerika Serikat.
Selama 47 tahun Amerika memusuhi dan memberi sanksi ekonomi yang sangat kejam terhadap
Iran. Tetapi Iran bukannya runtuh namun makin digjaya. Ketika diminta membuat sebuah tulisan cukup mendadak untuk sebuah media baru yang saya belum tahu apa fokus informasi dan
bentuknya milik SW60Plus maka saya menulis artikel berikut berdasarkan informasi yang saya dapat. Dengan serangan yang paling dahsyat dalam sejarah Amerika setelah Perang Dunia II dengan dibantu Israel Iran tetap tegak. Dan melawan dengan gagah berani. Begini.
Tentara
Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran Sabtu pagi di bulan suci Ramadhan, 28 Februari 2026. Kehadiran pasukan USA secara besar-besaran di Timur Tengah sudah berjalan secara bertahap selama beberapa bulan. Pada tanggal 28 Februari kekuatan maksimum
pasukan Amerika sudah terkumpul untuk sebuah perang besar yang bisa berlangsung lama di Iran dan di seluruh Timur Tengah Adalah Israel yang pertama mengabarkan serangan mereka ke
Tehran, Ibu Kota Iran melalui berbagai media.
Dalam pidatonya yang bernada keras selama 8 menit, Trump mengatakan sudah lama ia mempersiapkan serangan ini setelah Iran menduduki Kedutaan Besar Amerika di Tehran dan menyandera ratusan diplomat dan personil Amerika 47 tahun yang lalu. Serta ikut menyerang
pasukan Amerika di Lebanon bersama Hezbollah di tahun1980an yang memakan ratusan militer Amerika.
Trump minta agar tentara Iran menyerah. Bila tidak akan dihancurkan oleh perang yang disebut “Operation Epic Fury” oleh Donald Trump. Amerika katanya akan membantu oposisi Iran melawan pemerintah sampai mereka menang.
Serangan udara Amerika bersama Israel fokus membunuh Ayatolah Khamenei, para pimpinan militer dan pemerintahan dan target-target instalasi militer utama Iran. Hampir semua pucuk pimpinan pemerintahan Iran terbunuh. Yang terakhir adalah Ali Larijani, mantan Ketua Parlemen Iran. Meski pun tanpa pemimpin, pemerintahan Iran tetap berlangsung mengelola negara dan mempertahankannya. Putra Ali Khamenei menjadi pemimpin tertinggi. Dia dikenal lebih keras dari ayahnya.
Sebelum meninggal, Ali Khameni telah menunjuk empat lapis pemimpin di bawahnya. Iran juga telah memakai strategi perang mosaik di mana peperangan dilancarkan oleh setiap wilayah setingkat propins yang independen. Strategi ini sangat efektif melawan USA dan Israel.
Selama 24 jam pertama perang saja 200 orang Iran telah dibunuh dan 747 orang terluka oleh serangan Amerika-Israel menurut Palang Merah Iran. Ada 165 siswi sekolah putri di Iran Selatan dibunuh dalam serangan AS-Israel itu. 900 sasaran pada 12 jam pertama serangan.
Israel sendiri mengaku telah mengerahkan lebih dari 200 pesawat tempur yang telah menjatuhkan ratusan bom pada 500 target operasi yang terbesar dalam sejarah Israel.
Setelah perang berlangsung 47 hari ternyata duo AS-Israel mengalami kesulitan besar untuk menaklukkan Iran. Iran melawan dengan meluncurkan berbagai tipe rudal dan ribuan drone ke Israel dan negara-negara Teluk Persia yang mempunyai pangkalan militer AS. Sampai 13 April 2026, tercatat 2076 orang Iran terbunuh dan 26.500 luka-luka. Di pihak Israel ada 26 terbunuh dan 7,693 orang luka-luka.
Amerika mencatat matinya 13 tentara dan 200 orang terbunuh. Sebanyak 14 negara terlibat dalam perang. Perang telah menjelma menjadi perang regional melibatkan selain Amerika, Israel, Iran, Saudia Arabia,Libanon, Irak, Suriah, Kuwait,Jordania, Bahrain, Qatar, UAE,
Oman, Cyprus, Palestina dan Yaman. Dari situ tinggal selangkah lagi menjadi Perang Dunia III.
Mengapa Amerika-Israel menyerang
Trump menyatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan AS berjanji akan menghancurkan misil Iran. Bagi Israel, Iran adalah ancaman besar untuk eksistensi Israel
sebagai sebuah negara. Pentagon mengakui ada tiga serdadu mereka yang tewas di hari
pertama. Sementara itu tiga pesawat tempur F-15E Amerika jatuh ditembak tentaranya sendiri akibat kekacauan transponder IFF yang yang keliru mengirim sinyal setelah diacak Iran sehingga pesawat sendiri dikira pesawat musuh. Selain itu kapal induk Abraham Lincoln yang dibuat dengan biaya 13 miliar dollar AS berhasil.diserang rudal Iran.
Dengan sensor militer yang ketat Israel berusaha menyembunyikan jumlah korban-korban yang berjatuhan mati dan luka-luka berat yang bisa mencapai ratusan jiwa. Belum lagi akibat kerugian hancurnya infrastruktur ekonomi dan perdagangan Israel di Haifa, Tel Aviv dan Yerusalem Timur.
Iran juga meluncurkan misil ke Doha, Dubai dan Oman, Saudia Arabia serta bertekad melakukan pembalasan sehebat mungkin. Perang kali ini tidak sama seperti ketika Iran melawan Irak selama 8 tahun yang kekuatannya setara. Perang kali ini perang yang sama sekali tidak seimbang secara persenjataan dan jumlah tentara. Pesawat-pesawat tempur Iran sedikit dan itu pun sudah tua. Kapal- kapal perang mereka sedikit juga. Begitu juga jumlah tank yang dimiliki.
Andalan Iran adalah pada kemampuan ribuan peluru kendali mereka dan puluhan ribu drone yang cukup efektif untuk merusak musuh.
Kecuali bila Iran mendapat bantuan persenjataan super modern yang dapat mengimbangi persenjataan Amerika. Dalam hal ini hanya Rusia dan Tiongkok yang mempunyai kemampuan
menyuplai Iran dengan alutsista yang mumpuni. Kemungkinan juga dalam skala yang lebih kecil dari Turki dan Pakistan Iran bisa mendapatkan tambahan senjata.
Iran membuktikan negeri ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan Israel dan menghantam negara negara tetangga yang berbagi Teluk Persia serta Yordania yang memiliki pangkalan Amerika Serikat.
Reaksi Dunia
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan perang itu ‘undermine international peace and security”. Pemerintah China dan Rusia mengutuk serangan duo AS-Israel
Di Indonesia kecaman keras terhadap serangan AS-Israel disampaikan oleh organisasi seperti MUI. Di hari kedua perang, ada 75 lembaga civil society dan 64 tokoh masyarakat meminta agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP) karena BOP digunakan untuk menyerang Iran oleh dua negara anggota yaitu USA dan Israel.
Organisasi besar Muhammadiyah membuat sebuah pernyataan yang menyatakan “prihatin dan belasungkawa atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei”. Muhammadiyah ‘mengecam dengan sangat serangan tersebut dan kami memandangnya sebagai pelanggaran Hak-Hak Asasi Manusia, hukum internasional, dan pengabaian atas keputusan-keputusan PBB”.
Lebih lanjut organisasi tertua di Indonesia ini “menyerukan agar PBB memberikan sanksi tegas terhadap AS dan Israel atas pelanggaran tersebut dan mewujudkannya dengan langkah yang nyata”. Muhammadiyah “mendorong dilakukannya dialog dan langkah-langkah
diplomasi untuk menyelesaikan konflik di kawasan Timur Tengah
tersebut”.
Setelah banyak kritik Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan di mana hadir elite politik Indonesia dan hampir semua mantan Presiden dan Wakil Presiden kecuali Megawati Soekarnoputri. Ketidakhadirannya menjadi perhatian masyarakat. Presiden juga mengadakan pertemuan dengan para ulama di Jakarta setelah ada kritik terhadap BOP dan belum adanya ucapanduka dan simpati Indonesia pada Iran.
Sikap Amerika
Sejak Perang Dunia II, apapun yang dilakukan oleh Amerika umumnya didukung oleh negara-negara Barat yang berbagi sejarah, ras dan agama yang sama sejak akhir Perang Dunia II.
Munich Conference yang berlangsung Februari 2026 merupakan reaffirmasi dari common principle itu. Melalui pidato Menteri Luar Negeri Amerika, Marco Rubio, Uni Eropa diajak untuk
memperkuat ‘Western Civilization’ dengan menguasai dunia.
Dengan demikian semua perjuangan anti kolonial yang marak pada Abad XX akan diputar balik kembali seperti pada masa Abad XIX. Israel dimanfaatkan sebagai ujung tombak dalam ambisi
global itu. Duta Besar Amerika untuk Israel Mike Huckabee menyatakan Amerika setuju bila Israel melanjutkan ekspansi Israel dalam mewujudkan Israel Raya yang meliputi wilayah Suriah,
Lebanon, Jordania dan sebagian wilayah dari Israel sebagai cita- cita dari kelompok Zionis.
Terjadi pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri Amerika di bawah Trump. Dia ingin mengambil alih Greenland. Dia juga membiarkan Rusia mengambil wilayah Ukraina. Sebagai imbalan ia juga tidak terlalu ingin melindungi Taiwan dari serangan Tiongkok.
Saat ada tiga super power yang bersikap seperti Empire yaitu Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok.
Di luar itu ada negara-negara berkekuatan menengah (middle power) dan negara-negara berkekuatan kecil. Di Uni Eropa yang masuk negara menengah adalah Perancis, Inggeris, Jerman, Italia dan Spanyol. Di Asia di antaranya terdiri dari India, Pakistan,
Indonesia, Jepang, Saudia Arabia, Iran dan Mesir. Di Amerika Latin di antaranya ada Brazil, Mexico, Argentina.
Tentunya aliansi strategis dengan negara-negara middle- power itu akan menambah kekuatan dari sebuah super-power. Maka terjadi perlombaan untuk menguasai negara-negara middle-
power dan negara-negara kecil namun kaya raya seperti Singapura dan negara-negara Teluk.
Trump berusaha menjadikan PBB sebagai sebuah organisasi yang tidak mempunyai pengaruh lagi dalam hubungan internasional.
Untuk itu lah ia membentuk Board of Peace (BoP) di mana ia menjadi Ketua dengan wewenang luar biasa. Proyek pertamanya membangun Gaza sebagai sebuah pusat ekonomi
pariwisata de luxe dunia. Hal ini sejalan dengan bisnis yang dimilikinya yaitu bidang properti.
Untuk membungkam protes-protes dari negara-negara Islam Trump mengundang delapan negara dengan penduduk mayoritas Islam seperti Saudia Arabia, Mesir, Maroko, Pakistan, Indonesia menjadi anggota BoP. Israel pun masuk. Posisi Presiden Donald Trump melemah dengan kegagalan menghancurkan Iran padahal ia berharap supaya perang itu bisa selesai
dalam hitungan hari supaya tidak ada korban terlalu banyak. Meskipun usaha meng-impeach Trump belum berhasil namun perpecahan di dalam negeri Amerika makin nyata dan tajam.
Trump pernah meminta jasa Italia dengan cara diplomasi back door agar perundingan dibuka kembali namun Iran menolak tawaran itu. Begitu juga Inggris dan Perancis.
Mitos kekuatan angkatan udara Amerika dan pertahanan Iron Dome Israel sudah runtuh karena serbuan rudal hipersonik Iran dan hujan drone berbiaya murah mereka. Amerika sudah kehilangan kemampuan mendominasi eskalasi perang. Perang sekarang adalah
antar negara langsung tanpa proxy yang intensitasnya sangat jauh di atas Operasi Desert Storm 1991 melawan Irak.
Pelajaran
Setelah berperang satu bulan, Iran dan Amerika setuju untuk gencatan senjata selama dua minggu untuk memberi kesempatan berunding guna mencapai perdamaian. Namun perundingan pertama di Pakistan gagal. Kemungkinan perundingan ke dua sedang dibicarakan
ketika tulisan ini dimuat. Seandainya perang berlangsung lagi, sulit diketahui berapa lama
perang besar ini bisa berlangsung. Dan berapa banyak korban yang jatuh, berapa besar dampaknya bagi stabilitas sosial politik Timur Tengah dan pengaruhnya bagi ekonomi dunia. Harga minyak, gas, makanan, pupuk, sektor kesehatan dan sektor teknologi memasuk chips
akan membubung tinggi.
Beberapa pelajaran yang bisa diambil: Pertama, pangkalan udara Amerika di negara-negara Timur Tengah bukan lagi sebagai pelindung tetapi sasaran tembak Iran. Kedua, keunggulan di udara tak berguna ketika lapangan pacu, sistem radar bandara dan tempat isi bahan bakar hancur. Ketiga, kedaulatan pegang IFF mutlak seperti kejadian di Kuwait. Tidak boleh tergantung pada kode dan sistem yang dipegang negara asing. Keempat, banyaknya sorti kapal terbang mengangkut korban ke pangkalan udara militer Amerika di Ramstein. Jerman, menunjukkan tidak sedikit korban mati dan luka-luka berat mencapai ratusan. Sesuatu fakta yang
ditutup-tutupi oleh Amerika.
Iran menunjukkan sikap bahwa mereka akan mengambil jalan perang karena sudah tahu bila mereka mengalah dalam perjanjian maka musuh akan membuat syarat-syarat baru lagi. Iran bersiap-siap menjalani perang yang panjang yang sudah terbukti dengan
kemampuan. Iran berperang selama delapan tahun melawan Irak. Iran sudah memiliki persenjataan dan amunisi yang cukup untuk itu. Sedangkan Amerika lebih memilih perang yang cepat selesai dan tidak banyak korban yang mati karena dapat menimbulkan protes-protes
besar seperti halnya ketika melawan Vietnam.
Dalam sebuah perang yang lama, Iran bisa saja memiliki strategi defensif yang unggul disertai mental baja seperti pasukan Jepang pada Perang Dunia ke-2 di Pasifik. Mereka terus melawan
tentara Amerika yang malah cukup kewalahan. Akhirnya hanya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima yang bisa membuat Jepang bertekuk lutut.
Perkembangan Terakhir
Ada perobahan sikap dari RRC dan Rusia yang tadinya masih bersikap netral namun kini terlihat mulai melibatkan diri menentang Amerika setelah negeri ini melakukan blokade pada pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia terutama di Selat Hormuz.
Negara-negara Arab seperti Saudia Arabian dan GCC juga menentang blokade Amerika yang akan membunuh ekonomi mereka karena tidak lagi bisa menjual minyak, gas dan komponen
pembuat pupuk seperti fosfat.
Negara-negara anggota NATO di Uni Eropa juga menentang perang. Mereka tidak mau membantu Trump dengan memberi fasilitas pangkalan udara, apalagi persenjataan dan tentara.
Trump sendiri sudah kehilangan dukungan sebagian anggota militer Amerika yang tidak mau berperang karena ia mengganti para perwira tinggi yang punya pengalaman perang di Timur
Tengah semata-mata karena mereka menolak perintah Trump untuk terus menyerang Iran.
Serangan Trump terhadap Paus Leo XIV yang menentang perang dan tayangan Trump di mana seakan ia menjadi Jesus telah membuat penganut Katolik yang berjumlah 50 juta orang marah.
Padahal selama ini ada aliansi antara Protestan dan Katolik mendukung Trump.
Media massa Amerika dimusuhi Trump karena melaporkan kenyataan di medan tempur di mana tentara Amerika kewalahan dan berbagai persenjataan yang dimiliki ternyata
berhasil dihancurkan oleh Iran.
Musuh utama bagi Amerika selama ini adalah RRC yang angkatan perang dan semua peralatannya utuh. Sedangkan tentara Amerika sudah memakai begitu banyak rudal dan peluru yangmembutuhkan waktu lima tahun untuk mencapai jumlah sebanyak
yang telah dipakai melawan Iran.
Seandainya RRC melakukan penyerangan terhadap Amerika yang menjadi lemah dan RRC dibantu oleh Rusia maka akan terjadi Perang Dunia ke-III yang akan dapat mengalahkan Amerika. Bila terdesak Amerika akan menggunakan bom nuklir. Dan tentu akan dibalas dengan bom nuklir juga oleh RRC dan Rusia. Maka dunia akan hancur!!!***
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar