Gus Dur, Khomeini dan Gotbzadeh
MEDIO Agustus, 1991…
KIAI Haji Abdurrahman Wahid berjalan perlahan mendekati mimbar kayu yang rada reyot. Sisi depan kopiah hitamnya didongakkan menjauhi dahi. Debu kota Qom sedikit hinggap di kacamatanya yang tebal. Kedua tangannya bertelekan sejenak sembari mengelus kursi kusam yang kerap dipakai Ayatullah Ruhullah Khomeini menggelorakan semangat perlawanan melawan imperium Shah Reza Pahlevi.
Gus Dur yang kala itu berjas biru dengan pantalon abu-abu, tercenung memandang suasana sekeliling. Tatkala berkunjung ke kota santri di Negeri Mullah itu, kami semua berjas, tak berdasi demi menghormati kebiasaan di sana. Memakai dasi dianggap gharbzadegi, istilah Persia yang berarti keracunan Barat. Perlawanan ideologis ini dipopulerkan Jalal Al-e Ahmad pada 1960-an sebagai kritik terhadap modernisasi Shah Iran yang mengikis nilai budaya dan agama lokal.
Saya menjepret berulangkali saat Gus Dur berdiri di sebelah kursi kayu ikonik itu. Rombongan tampak takjub mengamati bilik mungil yang dijadikan “museum” itu. Berdiri di sebelah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu, ada cendekiawan Jalaluddin Rakhmat dari Yayasan Muthahhari, Bandung, Hasyim Wahid (Gus Im), adik bungsu Gus Dur, Mustafa Zuhad, pengurus PBNU dan Agus Abubakar.
Ada saja topik yang kami diskusikan di sela muhibah ibarat mencari titik temu Sunni-Syiah itu. Kadang membahas sosok Ayatullah Murtada Muthahhari, atau Morteza Motahhari, Ketua Dewan Garda Revolusi Islam Iran murid Khomeini yang dijuluki guru martir. Ia tewas ditembak kelompok Furghan (Furqan), militan garis keras yang anti ulama, seusai menghadiri pertemuan di Teheran pada 1 Mei 1979. Saking pentingnya peran Muthahhari, sang ayatullah mengaku seperti kehilangan bagian tubuhnya.
Dalam suasana hening saat mengaso seusai shalat rawatib di masjid Teheran, Masyhad mau pun Qom, Agus Abubakar berkisah soal Mulla Sadra, filsuf terkemuka yang wafat pada 1640 di era Dinasti Safawiyah, kerajaan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Persia (sebelum menjadi Iran) yang berkuasa antara tahun 1501 hingga 1722. Dinasti ini berjasa menyatukan wilayah Persia dan menetapkan mazhab Syiah Dua Belas Imam (Itsna 'Asyariah) sebagai identitas nasional.
Gus Im bertutur soal siapa saja yang masuk kategori ahl al-bayt, keluarga Nabi Muhammad SAW. Mulai dari ashabul kisa’ (lima orang suci), hingga perdebatan lantaran isteri-isteri Nabi yang dinilai sebagian besar ulama Sunni termasuk di dalamnya. Sembari lesehan, ia mendemonstrasikan hafalan merunut nasab atau garis keturunan Syiah Dua Belas Imam yang tersambung sampai ke Rasulullah SAW.
Kesempatan emas bagi saya saat diajak mendampingi Gus Dur ke Iran, salah satu negara penting di kawasan Timur Tengah. Sebagai reporter Tempo, saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk sekaligus bertugas mereportasekan suasana keseharian di negara yang perekonomian dan bisnisnya diblokade Amerika Serikat dan sekutunya itu.
Iran diembargo tak lama setelah Revolusi Islam dan krisis drama sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran. Presiden Jimmy Carter menjatuhkan sanksi ini, membekukan aset Iran di luar negeri. Lalu Presiden Clinton melarang investasi di industri perminyakan dan dagang. Perserikatan Bangsa Bangsa bahkan pernah memberlakukan sanksi internasional menyusul kekhawatiran terhadap program nuklir Iran.
Sanksi keras terhadap bank sentral dan ekspor minyak Iran ini terus berlanjut dan diperketat hingga kini di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Alasannya sering kali difokuskan pada sektor nuklir dan pendanaan militer untuk kelompok radikal. Alhasil, Iran adalah negara dengan sejarah sanksi terlama, lebih dari empat dekade.
Sebelum mengunjungi Iran, Gus Dur bersama Hasyim Wahid, menerjemahkan buku cendekiawan Seyyed Hossein Nasr, Ideals and Realities of Islam. Buku yang sudah diterjemahkan lebih dari lima bahasa ini merupakan kumpulan ceramah ilmiah Nasr di Universitas Amerika, Beirut, pada 1964-1965. Hanya enam makalah yang kemudian diterjemahkan menjadi Islam dalam Cita dan Fakta pada 1983.
Nasr, cendekiawan muslim terkemuka alumni Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Universitas Harvard. Ia gurubesar studi Islam di Universitas George Washington, Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai intelektual Muslim kontemporer terdepan yang mengenalkan khazanah spiritualitas, metafisika, dan sains Islam klasik kepada dunia barat. Modernisme dan sekularisme? Nasr pengkritik utamanya.
Karya Nasr ini memberi kerangka tentang pandangan Islam tradisional yang bersinggungan dengan pemikiran Gus Dur dalam sejumlah masalah, termasuk menyikapi perkembangan zaman dan rumusan mengenai masa depannya yang terbentang antara cita dan fakta. Buku ini mengawali penerjemahan karya-karya pemikir Iran yang mencapai puncaknya pada dekade berikutnya.
Lalu apa yang sedang dipikirkan Gus Dur saat tercenung di bilik perjuangan Khomeini saat itu? Beberapa hari sebelumnya, kami berziarah ke makamnya di kompleks Behezt-e Zahra (The Paradise of Zahra), di Selatan Teheran. Boleh jadi terbersit keunikan sejarah Iran yang berliku melalui dua tokoh sentralnya: Ruhullah Khomeini dan Sadek Gotbzadegh. Kedua figur ini dianggap representasi kemerdekaan bangsa, sekaligus perlambang sisi gelap teokrasi di Iran.
Ruhollah Mostafavi Musavi Khomeini, pencetus Revolusi Islam di Iran, didaulat sebagai marja’, supreme leader atau pemimpin tertinggi sejak memimpin revolusi hingga akhir hayatnya pada 3 Juni1989. Penulis 40 kitab ini lahir di Khomeyn, di tempat yang sekarang menjadi Propinsi Markazi. Ayah sang mujtahid dibunuh pada tahun 1903 ketika ia berusia dua tahun.
Khomeini melawan kebijakan Mohammad Reza Pahlevi yang pro Amerika dan Israel. Ia tinggal di pengasingan selama 14 tahun, di Turki, Irak dan akhirnya beberapa bulan di Perancis. Ia memimpin oposisi dari jauh, merumuskan teori Wilayatul Faqih, konsep politik dalam fikih Syiah yang menyatakan bahwa otoritas tertinggi dalam pemerintahan dan keagamaan dipegang oleh seorang fakih yang memenuhi syarat.
Menjelang kemenangan Revolusi Iran, Khomeini membentuk Dewan Revolusi dan Pemerintahan Sementara. Nama besar Khomeini justru persepsi simpang siur dalam benak Barat. Sulit memahami kontradiksi antara penghargaannya yang begitu tulus dalam mempertaruhkan nilai-nilai paling mendasar manusia dan sikapnya yang konon membatasi ruang bergerak wanita. Begitu rumit gambaran tentang agamawan yang disanjung dan sekaligus ditakuti ini. Bahkan, menurut Gus Dur,”rada susah memahami siapa sejatinya Khomeini.”
Pejuang kawakan ini makin susah difahami manakala suasana pemerintahan di Iran yang tak jelas pasca revolusi. Kala itu belum jelas kesudahannya setelah pemerintahan Perdana Menteri Shapour Bakhtiar tumbang dan Shah Mohammad Reza Pahlevi terbuang. Belum lagi cara menyelesaikan perbedaan kebijakan antara sang ayatollah dengan Perdana Menteri Mehdi Bazargan.
Lebih membingungkan lagi adalah munculnya kelompok oposisi yang mengganggu pemerintahan. Kelompok Furghan yang mengklaim mampu membedakan kebenaran dari kesesatan, sukses meneror tokoh-tokoh tangan kanan Khomeini dengan serangkaian penembakan dan pembunuhan, Kelompok inilah yang membunuh Murthada Muthahhari.
Beda lagi sikap para mendukung pandangan keagamaan Khomeini. Ia dianggap sebagai dewa penolong yang tidak mungkin berbuat kesalahan. Semua yang dikatakan dan diperbuatnya mutlak benar. Sebaliknya, mereka yang tidak menyetujui sistem nilai yang dianutnya menganggap Khomeini bakal membawa bangsa Iran ke zaman kegelapan.
Khomeini membawakan moralitas berdimensi sosial yang berwatak politis. Gus Dur menamakan keagamaan yang berwajah politik itu merujuk tokoh post-modernisme Michel Foucault, spiritualite politique, kerohanian berdimensi politik. Wajah ini semakin kuat setelah kematian salah seorang pejuang kontra Shah Iran, Ali Shariati, yang dibunuh Dinas Rahasia Savak dalam pengasingannya di London.
Satu lagi sosok lain yang mengganggu pikiran Gus Dur. Ini berkaitan momentum usang yang patut dikenang pada September 1982 silam. Peristiwa mengejutkan yang bisa terjadi dalam setiap sejarah revolusi: seorang arsitek revolusi dimakan ciptaannya sendiri. Dialah Sadek Ghotbzadeh, sang arsitek yang juga Menteri Luar Negeri Iran paska Revolusi. Ia tewas di ujung peluru regu tembak.
• Padahal Ghotbzadeh berjuang mengubah wajah Iran. Pada tahun 1971, ia menemui Ayatullah Khomeini di tempat pembuangannya di Nejef, Irak, lalu membawanya ke tempat pengasingan baru setelah diusir dari sana. Analisa Gus Dur, mungkin ia menjadi penghubung kekuatan sebenarnya yang bergerak waktu itu, yakni para mullah yang membentuk jaringan kontak dengan kaum pedagang kecil (bazari) dan para aktivis gerakan Islam yang non-mullah, seperti Ali Rajai.
Para mullah menghendaki negara teokratis dengan pelaksanaan hukum agama yang legal-formalistik secara tuntas--semacam “kerajaan surga” yang ingin ditegakkan di muka bumi. Ghotbzadeh satu biduk dengan mereka yang menolak otoritas mutlak di tangan para mullah. “Banyak orang membenci Ghotbzadeh,” tulis Abdurrahman Wahid dalam artikel yang kemudian dimuat Majalah Tempo No.30, Th.XII, 25 September 1982. Namun tak ada yang memungkiri peran pentingnya pada awal revolusi Islam di Iran.
Beda lagi sikap Abolhasan Bani Sadr, Presiden Iran pertama semenjak revolusi dan tumbangnya dinasti Pahlevi. Pada 1980, ia membentuk pemerintahan koalisi. Masa jabatannya ditandai dengan krisis terhadap AS dan serangan Irak ke Iran. Ia lalu melarikan diri ke tempat pembuangan di Prancis bersama pemimpin gerilyawan Mujahedin-e-Khalq, Massoud Rajavi. Iran dia pantau dan kendalikan dari jarak jauh sebelum pulang kandang di saat yang tepat.
Ghotbzadeh tak memiliki optimisme sebesar itu. Tetapi, ia juga tak sabar melihat “penggusuran umat” oleh kelompok mullah militan. Kekuasaan yang begitu mutlak bagi Ghotbzadeh adalah trauma, sesuatu yang secara prinsip harus ditentang, tidak peduli itu berada di tangan Shah Iran yang sekuler maupun para mullah yang teokratis.
Nahas menimpa Ghotbzadeh. Penguasa Iran kala itu tak main-main: menuduh sang pahlawan terlibat percobaan pengulingan kekuasaan. Ia bahkan dituding berencana membunuh Khomeini, lalu dieksekusi mati di Penjara Evin, di kaki pegunungan Alborz, di Utara Teheran pada 1982. Bekas kepala stasiun radio dan televisi ini bersahabat dengan ulama terkemuka Ayatullah Kazem Shariat-madari, yang ilmu agamanya tak kalah mumpuni ketimbang Khomeini.
Shariat-madari berpendirian moderat dalam segala hal. Ia menolak konfrontasi dengan suku bangsa Kurdi. Terhadap kelompok agama Baha’isme, ia tak mau melakukan persekusi. Shariat-madari tenang-tenang saja meski pemerintahan Khomeini melucuti jabatan keagamaannya. “Orang yang seperti ini sudah berada pada tingkat kesadaran tertinggi tentang kekuasaan, bahwa kekuasaan tidak dapat ditaklukkan oleh anti kekuasaan,” tulis Gus Dur.
Kematian perlawanan moral di tangan Shariat-madari inilah yang sangat disesalkan. Akhirnya opsi yang tersisa hanyalah perlawanan bersenjata seperti yang dicoba Mujahedin-e-Khalg. “Kematian Ghotbzadeh, dan dilucutinya Shariat-madari dari semua jabatan keagamaan, adalah kemalangan bagi Iran yang berpotensi melahirkan revolusi sekali lagi,” ujar Gus Dur dalam artikel kolomnya yang dimuat Majalah Tempo No.23 Th.IX, 4 Agustus 1979.
Begitulah, satu dekade setelah menulis artikel opini itu, Gus Dur bersemangat berangkat ke Iran. Ia diundang bertemu petinggi dan sejumlah ulama terkemuka. Mungkin Gus Dur hendak menguji kebenaran premisnya: seberapa tangguh Negeri Persia yang kini bercorak teokrasi itu mampu berdikari menghadapi blokade ekonomi negara adikuasa.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar