Karni di Geneva
SUHU sore hari itu di Geneva begitu dingin, tetapi Karni Ilyas kegerahan. Ia terus-terusan merokok. Sebungkus rokok Gudang Garam sudah hampir ludes. Redaktur Pelaksana majalah Tempo ini sangat capai dan mengantuk karena baru saja menempuh perjalanan panjang Jakarta- Geneva. Tetapai, ia tak berani tidur. Ia lebih sering duduk di dekat pesawat telepon.
Akhirnya apa yang ia tunggu-tunggu datang juga. Pukul 18.00 lewat sedikit waktu setempat, Sabtu dua pekan lalu telepon berdering, lalu dari seberang sana terdengar suara, “Anda saya tunggu di Coffe Shop Hotel Beau Rivage, berangkat dengan taksi kesana.”
Di pintu Coffe shop, sudah berdiri seorang wanita tua bersama seorang lelaki kulit putih. Dia adalah Kartika thahir (57 tahun), di dampingi pengacaranya, Francis L. Spagnoletti, “Nice to meet you,” ujar Kartika dengan senyum.
Karni Ilyas pun berhasil mewawancarai Kartika panjang lebar dalam beberapa kali pertemuan. “ Saya benar-benar tak habis pikir. You are lucky….,” ujar Spagnoletti keheranan.
Karni memang beruntung. Inilah wawancara khusus pertama yang diberikan Kartika untuk wartawan, sekalipun cukup banyak yang berupaya mengejarnya. Ia selalu bersembunyi, sehingga terkesan misterius. Ketika berita Kartika muncul, 1978, sejak itu kami sudah berupaya mengejarnya: ke Singapura, ke Belanda, atau Swiss. Tetapi, janda miliarder bak raib ditelan bumi. Tak sekalipun ia muncul di persidangan Singapura. Malah, tak diketahui di mana ia berada.
Repoter Tempo Najib Salim, ketika itu, hanya berhasil mendapatkan foto Kartika dari sebuah kantor pengadilan agama. Foto itu kemudian banyak dikutip media lain disini. Beberapa wartawan Tempo yang kebetulan bertugas di Eropa selalu dititipi tugas khusus mencari jejak Kartika. Apakah itu melalui KBRI ataupun orang-orang Indonesia yang menetap disana.
Seorang petugas KBRI di Swiss, misalnya, ketika dihubungi reporter kami Iwan Qodar Himawan, November 1991, mengaku telah kehilangan jejak Kartika empat tahun lalu.
Sejak enam bulan lalu, persidangan mengadili harta Haji Thahir, bekas pejabat Pertamina itu, kembali dibuka. Kali ini ada perkembangan baru. Dua anak Kartika –Bing Budiarto dan farida (Fay)- muncul di Singapura.
Karni Ilyas Redaktur Pelaksana yang membawahkan Rubrik Hukum di Tempo- karenanya bergelut akrab dengan kasus ini- kembali menaruh harapan untuk menemukan Kartika. Ia menghubungi kedua anak Kartika dan pengacara Kartika di Singapura, Arumugam, dan Francis L. Spagnoletti, serta sumber-sumber lain.
Hasilnya, September lalu, ada jawaban bahwa Kartika bersedia bertemu, hanya Karni disuruh bersabar, Tiba-tiba, Senin dua pekan lalu, telepon dirumah Karni berdering. “Anda ditunggu kartika di Geneva pekan ini juga. Ingat, Anda harus datang sendiri,” pesan seorang utusan Kartika.
Sabtu sinag waktu setempat –dua pekan lalu- Karni mendarat di Geneva dan langsung ke Hotel Movenpick yang sudah dipesankn Kartika. Begitu tegangnya Karni, sampai-sampai ia tak berani menggunakan telepon hotel, kecuali ke kantor Tempo di Jakarta atau rumahnya di Depok. “ Siapa tahu telepon di hotel itu sudah dimonitor Kartika. Salah-salah pakai telepon, saya bisa dicurigainya,” kata Karni.
(Diambil dari Surat Dari Redaksi Tempo, 22 Februari 1992)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar