Di Balik Layar

Meliput Perang Teluk

SW60Plus.com, 02 Mei 2026, 12:33 WIB
A. Ristanto
A. Ristanto
· 109x dilihat

Jadi ingat kembali pada 1991 meliput Konferensi Rakyat Kuwait di Jeddah, Arab Saudi. Penugasan dari Pemred Harian Suara Pembaruan ini memenuhi undangan Kedutaan Besar, Kuwait di Jakarta.

Pada saat itu ada semacam koordinator wartawan yang menjadi mitra Departemen Luar Negeri. Seingat saya yang memenuhi undangan tersebut selain dari Suara Pembaruan juga Harian Angkatan Bersenjata, Harian Berita Buana, Jakarta Times, Harian Kompas, Harian Pelita, Harian Merdeka juga PAB - kantor Pemberitaan Angkatan Bersenjata (maaf jika ada nama yang terlupa).

Sesampai di Jeddah rombongan wartawan Indonesia dijemput dengan Limousine Car, setelah urusan imigrasi mereka (panitia?) selesaikan. Pokoknya kami merasa dapat pelayanan khusus.

Setibanya di hotel International di Jeddah, langsung masing-masing wartawan dibuatkan ID Card agar bebas mengikuti konferensi dengan tema Free Kuwait. Petugas yang melayani menyatakan, dengan Id Card ini bukti anda ikut memperjuangkan pembebasan negeri kami. Sayang Id Card itu hilang!

Para pembicara dalam konferensi hampir semua berbahasa Arab. Namun masing-masing dari kami dipinjam headset yang bisa mendengar terjemahan Bahasa Inggris semua pembicara yang sedang berlangsung.

Sumber Migas

Inti konferensi mengungkapkan sengketa dua negara bertetangga Kuwait - Irak terkait sumber migas. Irak menuding, sumber migas yang diklaim Kuwait sesungguhnya milik Irak. Atas alasan itu Irak menganeksasi Kuwait.

Konferensi juga mengungkap ceritera warga Kuwait yang melarikan diri karena disebutkan tidak tahan dengan kekejaman pasukan Saddam Hussein (Presiden Irak).

Pada intinya konferensi mencoba mengungkap kondisi negara  Kuwait di bawah kekuasaan Irak.

Al Sabah (House of Sabah) yang memimpin negara Kuwait sudah berkuasa sejak sekitar tahun 1752/1756, yang berasal dari Bani Utbah. Memimpin negara Arab Teluk ini melalui jabatan Emir, dengan kepala keluarga saat itu  Al-Jaber Al-Sabah yang juga hadir di acara konferensi. Artinya sebagai kepala pemerintahan ia telah meninggalkan bangsa dan negaranya.

Cukup menarik saat hadir di konferensi internasional ini, karena tidak tampak para wartawan Arab Saudi. Seperti kebiasaan meliput Konferensi internasional, saya mencari latar belakang dari teman-teman media setempat.

Baru tahu ternyata di mata sebagian rakyat Arab Saudi, bangsa Kuwait dianggap "priyayi" Arab. Warga Kuwait merasa dari bangsa yang lebih kaya harta dan  menganggap Arab Saudi tidak selevel.

Minta Hotel

Ceritera warga Arab Saudi kepada saya, saat Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyediakan apartemen untuk penampungan, para pengungsi Kuwait menolak. Mereka minta di hotel berbintang sebagai tempat tinggal sementara.

Lebih menarik selain meliput Konferensi Free Kuwait, ternyata khusus untuk para wartawan dari Indonesia di-guide militer Amerika. Usai konferensi kami diajak melihat persenjataan tentara AS yang disiapkan di Dahran perbatasan Arab Saudi - Kuwait.

Guide kami fasih menjelaskan tipe dan kemampuan persenjataan yang siap membantu membebaskan Kuwait dari aneksasi Irak.

Dengan publikasi media internasional, AS ingin menggertak Irak dan menyerang tanpa harus menembakkan amunisi. Pola perang dengan media sebagai senjata, rupanya sudah AS praktikkan.

Gertakan ini rupanya termakan Irak sehingga walaupun ada operasi dessert storm yang terkenal, Irak sudah kalah nyali akibat bombardir opini lewat media bahwa AS siap bantu bebaskan Kuwait.

Di sela wartawan diajak keliling melihat pameran senjata AS; juga diarahkan mendengar kisah terbaru para pengungsi asal Kuwait. Para pelarian ini pun mengungkap kisah kondisi terkini di negerinya saat Irak menjajahnya.

Tiba- tiba dari Jakarta saya pun mendapat perintah, jangan pulang sebelum Kuwait dibebaskan. Selama menunggu perang berakhir, kami para wartawan dari Jakarta menginap di Wisma Indonesia di Jeddah atas arahan Konsul Jenderal RI di Jeddah.

Di sela menunggu saya dan Sdr. Jubaidi dari Harian Pelita diantar Wartawan perwakilan Antara di Jeddah (Halilintar?) kami manfaatkan melaksanakan umroh di Mekkah dan juga Ziarah di Masjid Nabawi di Madinah.

Moment ini sekaligus saya manfaatkan untuk mencatat situasi dari apa yang kemudian kita kenal peristiwa Perang Teluk Pertama.

Keterlibatan AS tidak kita pungkiri; karena negara-negara Teluk Arab memang kaya sumber daya alam khususnya minyak dan gas bumi. Siapa bisa menguasai negara-negara kaya migas, berarti akan memiliki cadangan bahan bakar minyak bahan energi yang sangat dibutuhan dunia


Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000