Hendropriyono: Kita yang Sudah Melewati Sungai Penderitaan, Lempar Tali, dan Tarik!
JAKARTA— Di hadapan tiga anak muda yang segera meninggalkan Indonesia untuk menuntut ilmu di Tianjin University, China, Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono menyampaikan sebuah metafora yang sarat makna. Hidup, katanya, ibarat menyeberangi sungai penderitaan. Mereka yang telah berhasil mencapai tepian seberang tidak boleh sekadar berdiri dan menikmati keselamatan sendiri. Mereka harus berbalik, melemparkan tali, lalu menarik orang-orang yang masih berjuang melawan derasnya arus.
“Kita yang sudah melewati sungai penderitaan, lempar tali dan tarik!” demikian inti pesan Ketua Yayasan Warga Bumiputra Indonesia (YWBI) itu dalam acara Pelepasan Penerima Beasiswa Dharma Bumiputra untuk Indonesia di Jakarta, Sabtu (29/08/2026). Program beasiswa tersebut diselenggarakan YWBI bekerja sama dengan Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) dan Tianjin University. Pada tahap pertama, tiga penerima beasiswa—Nadira, Farrel, dan Vidya—akan diberangkatkan untuk menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di China.
Di balik metafora “sungai penderitaan”, Hendropriyono mengemukakan pandangannya tentang bagaimana sebuah bangsa bergerak maju. Menurut dia, sejarah memperlihatkan dua pendekatan besar dalam pembangunan: memacu kelompok terpilih yang memiliki kapasitas untuk bergerak lebih dahulu atau berusaha mengangkat seluruh massa secara serentak.
Hendropriyono berpendapat, upaya mengangkat masyarakat secara serentak tanpa terlebih dahulu membentuk manusia-manusia unggul, pemimpin, inovator, dan institusi yang kuat berisiko gagal. Bangsa memerlukan orang-orang pilihan di berbagai bidang yang didorong lebih dahulu untuk menembus batas, menguasai ilmu, membangun usaha, serta menghasilkan inovasi. Setelah berhasil, mereka memikul kewajiban moral untuk menarik kelompok lain agar turut maju.
Elite dalam pemikiran tersebut bukan semata-mata mereka yang lahir dari keluarga kaya, memiliki jabatan, atau dekat dengan kekuasaan. Elite yang dimaksud adalah manusia-manusia terbaik karena ilmu, kompetensi, integritas, kerja keras, dan keberpihakan kepada kepentingan bangsa. Keunggulan mereka tidak boleh menjadi tembok yang memisahkan, tetapi harus menjadi jembatan yang memperluas kesempatan.
“Inilah yang sekarang dikerjakan oleh kawan-kawan kita, para elite yang sukses dalam bidang ekonomi dan sosial. Mereka menarik masyarakat yang belum maju agar ikut maju. Saya sangat bangga karena orang dekat saya, Boy Thohir, termasuk salah seorang perintisnya,” ujar Hendropriyono.
Ia menyampaikan penghargaan kepada Ketua KIKT Garibaldi Thohir atau Boy Thohir beserta jajaran dan seluruh mitra yang membantu mewujudkan program beasiswa tersebut. Gagasan yang telah lama dipersiapkan itu akhirnya mulai dijalankan melalui pemberangkatan tiga putra-putri Indonesia ke Tianjin University.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pak Boy Thohir dan seluruh jajaran sehingga rencana lama kita ini dapat terlaksana,” katanya.
Bukan Sekadar Meneteskan Kemakmuran
Gagasan Hendropriyono bersentuhan dengan perdebatan panjang dalam ekonomi pembangunan mengenai peran elite, modal manusia, pemerataan kesempatan, dan mobilitas sosial. Namun, secara ilmiah, “melempar tali” tidak dapat disamakan begitu saja dengan teori trickle-down economics—anggapan bahwa kemakmuran kelompok atas dengan sendirinya akan menetes kepada masyarakat bawah.
Penelitian Dana Moneter Internasional (IMF) justru menunjukkan bahwa peningkatan bagian pendapatan kelompok 20% terkaya tidak otomatis mempercepat pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah. Sebaliknya, peningkatan pendapatan kelompok miskin dan kelas menengah berkaitan dengan pertumbuhan yang lebih kuat. Artinya, kemajuan kelompok elite tidak dengan sendirinya akan mengangkat masyarakat apabila tidak diterjemahkan menjadi akses pendidikan, pekerjaan, modal, teknologi, dan perlindungan sosial yang nyata. Kajian IMF tentang ketimpangan dan pertumbuhan.
Di sinilah metafora Hendropriyono mendapatkan relevansinya. Tali tidak akan terlempar dengan sendirinya. Orang yang telah sampai di seberang harus secara sadar berbalik, mencari mereka yang tertinggal, lalu menggunakan kekuatan, jaringan, pengetahuan, dan kekayaannya untuk menarik mereka.
Program beasiswa merupakan salah satu bentuk tali tersebut. Ia tidak memberikan bantuan yang segera habis dikonsumsi, melainkan kemampuan yang dapat mengubah perjalanan hidup seseorang. Pendidikan memberi manusia alat untuk berpikir, bekerja, mencipta, serta mengambil keputusan secara mandiri.
Bank Dunia menempatkan modal manusia—pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan yang dikumpulkan sepanjang kehidupan—sebagai penggerak utama pertumbuhan berkelanjutan dan penurunan kemiskinan. Pendidikan yang bermutu bukan hanya menguntungkan penerimanya, tetapi juga meningkatkan produktivitas, inovasi, dan kapasitas sebuah bangsa. Bank Dunia tentang Human Capital Project.
Namun, pendidikan baru benar-benar menjadi tali mobilitas sosial apabila dapat dijangkau anak-anak berbakat tanpa memandang kemampuan ekonomi keluarganya. Bila hanya tersedia bagi mereka yang sudah berada, pendidikan justru dapat memperkuat kesenjangan antargenerasi.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD menyebut kondisi itu sebagai sticky floors dan sticky ceilings. “Lantai yang lengket” membuat anak-anak dari keluarga miskin sulit naik, sedangkan “langit-langit yang lengket” membuat kelompok mapan terus mempertahankan keunggulannya. Kesempatan, jaringan, dan sumber daya akhirnya diwariskan dalam lingkaran yang sama. Laporan OECD tentang mobilitas sosial.
Karena itu, tindakan elite yang paling bermakna bukan sekadar memberikan sedekah, melainkan meruntuhkan penghalang yang membuat anak berbakat dari keluarga sederhana tidak bisa maju. Beasiswa, pendampingan, akses magang, pembiayaan usaha, laboratorium, pusat penelitian, serta jalur karier merupakan bentuk-bentuk tali yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan.
Elite Harus Menjadi Pembuka Jalan
Ilmu pembangunan mengakui pentingnya orang-orang unggul sebagai pelopor perubahan. Hampir semua lompatan kemajuan mempunyai figur penggerak: ilmuwan yang menemukan teknologi, pengusaha yang membangun industri, birokrat yang memperbaiki pelayanan publik, pendidik yang melahirkan generasi baru, dan pemimpin yang menciptakan institusi.
Namun, sejarah juga memperlihatkan bahaya apabila elite hanya mengukuhkan kepentingannya sendiri. Elite dapat menjadi pembuka jalan, tetapi bisa pula berubah menjadi penjaga gerbang yang menghalangi orang lain masuk.
Penelitian Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A. Robinson—penerima Nobel Ekonomi 2024—menunjukkan bahwa kemakmuran jangka panjang sangat ditentukan oleh kualitas institusi. Negara cenderung berkembang ketika institusinya inklusif, memberikan kesempatan yang luas, melindungi hak, dan membatasi penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, institusi yang ekstraktif memungkinkan kelompok elite mengambil manfaat ekonomi tanpa memperluas kesempatan kepada masyarakat. Penjelasan Nobel Ekonomi 2024 tentang institusi dan kemakmuran.
Dengan demikian, tesis bahwa elite menentukan kemajuan bangsa memerlukan satu syarat penting: elite itu harus produktif, inklusif, dan bertanggung jawab. Mereka tidak cukup hanya menjadi orang sukses. Mereka harus menjadi pembuka jalan bagi lahirnya ribuan orang sukses baru.
“Lempar tali dan tarik” karena itu bukan pembenaran atas keistimewaan kelompok atas. Pesan tersebut justru merupakan teguran moral: semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar tanggung jawabnya kepada mereka yang belum memperoleh kesempatan.
Negara juga tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab itu kepada filantropi individu. Tali yang dilemparkan para pengusaha dan tokoh masyarakat harus diperkuat oleh “jembatan” yang dibangun negara melalui pendidikan dasar bermutu, layanan kesehatan, gizi, perlindungan sosial, infrastruktur, kepastian hukum, dan kesempatan kerja.
Pengalaman Asia Timur memperlihatkan bahwa pertumbuhan cepat dan meluas tidak lahir hanya karena munculnya segelintir elite. Kemajuan ditopang oleh kombinasi kepemimpinan yang efektif, investasi pendidikan secara luas, industrialisasi, orientasi ekspor, peningkatan produktivitas, dan kebijakan publik yang memungkinkan jutaan orang mengambil bagian dalam pertumbuhan. Kajian Bank Dunia mengenai pertumbuhan inklusif Asia Timur.
Jadi, pembangunan tidak semestinya dipertentangkan secara mutlak antara “memacu elite” dan “mengangkat massa”. Keduanya harus berjalan bersama. Negara memberikan fondasi dasar yang merata kepada semua orang, sementara talenta terbaik diberi kesempatan khusus untuk melaju lebih jauh. Setelah berhasil, mereka kembali memperbesar kapasitas masyarakat.
Belajar dari Lompatan China
Hendropriyono melihat China sebagai salah satu tempat penting bagi generasi muda Indonesia untuk belajar. Negara tersebut berhasil melakukan transformasi ekonomi yang sangat besar sejak memulai reformasi dan keterbukaan pada 1978. Menurut Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi China rata-rata melampaui 9% per tahun sejak periode itu dan hampir 800 juta penduduk berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem. Profil pembangunan China oleh Bank Dunia.
Keberhasilan tersebut tidak lahir dari satu faktor. Reformasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, investasi dalam pendidikan dan kesehatan, industrialisasi berorientasi ekspor, adopsi teknologi, serta peningkatan kapasitas pemerintah saling memperkuat. China membentuk kelompok ilmuwan, insinyur, pengusaha, dan birokrat berkemampuan tinggi, tetapi pada saat yang sama memperluas produksi dan kesempatan kerja bagi ratusan juta orang.
Hendropriyono karena itu meminta generasi muda Indonesia mempelajari kemajuan China tanpa dihantui sekat dan ketakutan ideologis. Belajar dari sebuah negara tidak berarti menyalin seluruh sistemnya. Indonesia dapat menyerap ilmu, disiplin, teknologi, dan etos kerjanya, kemudian menyesuaikannya dengan demokrasi, kebudayaan, serta kepentingan nasional Indonesia.
“Yang penting adalah bagaimana kita bisa maju. Tujuan kita ke sana adalah belajar. Kaum muda kita harus belajar,” ujar Kepala Badan Intelijen Negara periode 2001–2004 tersebut.
Ia juga menyinggung Singapura sebagai pelajaran. Hendropriyono mengenang kunjungannya pada 1971, ketika kondisi negeri pulau itu masih jauh dari wajahnya sekarang. Ketika kembali beberapa tahun kemudian, ia menyaksikan perkembangan yang sangat cepat.
“Singapura itu kecil. Kita yang besar seharusnya memiliki kekuatan dan kemajuan berlipat ganda. Itulah tujuan kita bersama melalui konsep ini,” katanya.
Kecilnya wilayah dan terbatasnya sumber daya alam tidak menghalangi Singapura membangun pendidikan, birokrasi, infrastruktur, dan daya saing. Sebaliknya, kekayaan sumber daya alam yang besar tidak otomatis menjadikan suatu negara maju apabila kualitas manusia dan institusinya lemah.
Mencari Mutiara yang Tersembunyi
Bagi Hendropriyono, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari generasi muda. Anak-anak muda disebutnya sebagai roh peradaban karena merekalah yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.
“Tujuan kita tentu saja mengangkat dan memajukan kualitas sumber daya manusia, dimulai dari rohnya, yaitu para pemuda. Kaum muda adalah roh dari peradaban bangsa,” tuturnya.
Beasiswa Dharma Bumiputra dirancang untuk menemukan anak-anak dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi menghadapi keterbatasan finansial. Lebih dari 50 peserta mengikuti proses pendaftaran. Setelah melalui persyaratan akademik dan seleksi yang ketat, hanya Nadira, Farrel, dan Vidya yang dinyatakan lolos.
Jumlah itu memang masih kecil. Namun, Hendropriyono memandang ketiganya sebagai perintis. Mereka merupakan bukti bahwa anak-anak unggul dapat ditemukan di berbagai lapisan masyarakat apabila ada pihak yang bersedia mencari, mempersiapkan, dan membuka jalan.
“Tidak penting hanya tiga. Ini berarti anak-anak tersebut pintar luar biasa. Mereka menjadi contoh untuk program berikutnya. Nanti kita usahakan kuotanya terpenuhi dan mencari lebih jauh anak-anak dari keluarga tidak mampu, tetapi memiliki kemampuan seperti mereka,” katanya.
Pada titik inilah program beasiswa tidak boleh berhenti sebagai seremoni keberangkatan. Keberhasilannya harus diukur dari perjalanan panjang para penerima: apakah mereka menyelesaikan pendidikan dengan baik, menguasai ilmu yang relevan, membangun jaringan, pulang ke Indonesia, memperoleh ruang berkarya, dan akhirnya ikut menarik generasi berikutnya.
Satu tali idealnya melahirkan tali-tali baru. Satu penerima beasiswa yang berhasil semestinya kelak membimbing puluhan anak muda lainnya. Dengan cara itulah filantropi berubah menjadi ekosistem mobilitas sosial.
Menjawab Pertanyaan “What Next?”
Hendropriyono juga mengingatkan bahwa Indonesia mempunyai banyak talenta unggul dalam bidang kecerdasan buatan, keamanan siber, dan pertahanan siber. Sebagian bahkan mampu menjuarai kompetisi internasional. Masalahnya, setelah memperoleh medali dan pulang ke tanah air, mereka tidak selalu menemukan jalur pendidikan, riset, atau karier yang sepadan.
Negara dan dunia usaha, katanya, harus menjawab pertanyaan penting: what next? Apa yang harus dilakukan setelah seorang anak ditemukan berbakat? Siapa yang membiayai pendidikan lanjutannya? Di mana ia dapat melakukan penelitian? Bagaimana kompetensinya digunakan untuk menjawab kebutuhan nasional?
“Kita harus memikirkan apa langkah berikutnya. Mereka perlu disekolahkan dan diberi ruang untuk membangun negeri. Jangan sampai anak-anak berbakat hanya dipakai oleh orang-orang tertentu untuk kepentingannya sendiri,” ujarnya.
Peringatan tersebut relevan di tengah persaingan global memperebutkan talenta. Negara maju tidak hanya mencari sumber daya alam dan modal, tetapi juga ilmuwan, insinyur, ahli AI, serta pakar keamanan siber. Apabila Indonesia tidak menyediakan lingkungan kerja, pendanaan penelitian, penghargaan, dan masa depan yang layak, putra-putri terbaik bangsa akan mencari tempat lain untuk bertumbuh.
Menahan talenta tentu bukan berarti melarang mereka bekerja di luar negeri. Pengalaman global justru dapat memperkaya pengetahuan dan jaringan. Yang diperlukan adalah ekosistem yang memungkinkan ilmu dan jaringan tersebut kembali mengalir kepada Indonesia—melalui kepulangan, investasi, penelitian bersama, transfer teknologi, maupun jejaring diaspora.
“Kita jangan sampai kehilangan kekuatan sendiri. Kita harus mengonsentrasikan kekuatan di negeri kita supaya Indonesia maju,” tegas Hendropriyono.
Berangkat untuk Kembali
Kepada Nadira, Farrel, dan Vidya, Hendropriyono berpesan agar terus memelihara rasa ingin tahu. Mereka diminta tidak merasa cepat mengetahui segalanya, melainkan terus mencari pengetahuan baru, menjaga kerukunan, membangun relasi, berprestasi, berdisiplin, serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik dan kebudayaan China.
“Jangan kebanyakan memberi tahu. Teruslah ingin tahu dan mencari tahu apa yang belum diketahui,” katanya.
Ketiganya juga membawa nama Indonesia. Sikap, kedisiplinan, prestasi, dan hubungan mereka dengan orang lain akan turut membentuk pandangan lingkungan kampus terhadap bangsa Indonesia. Karena itu, mereka diminta belajar sungguh-sungguh dan membangun hubungan baik dengan mahasiswa Indonesia maupun komunitas internasional.
Namun, pesan terpenting Hendropriyono adalah pulang dan mengabdi. Ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti sebagai tiket mobilitas pribadi. Pendidikan harus menjadi kekuatan untuk memperbesar kemampuan bangsa.
Di sinilah perjalanan Nadira, Farrel, dan Vidya memperoleh makna yang lebih luas. Mereka bukan sekadar tiga mahasiswa yang berangkat ke China. Mereka adalah tiga orang yang sedang diberi tali untuk menyeberangi sungai. Kelak, ketika telah mencapai tepian seberang, tali itu tidak boleh dilepaskan. Mereka harus berbalik, melemparkannya kembali, lalu menarik yang lain.
“Mudah-mudahan langkah kecil kita ini memacu teman-teman yang lain untuk mencari lebih banyak anak-anak potensial yang dapat kita kirim belajar. Setelah itu, mereka harus kembali dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia,” kata Hendropriyono. (PD)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar