Pengantar Buku Rachmat Gobel: Saksi Sunyi di Ujung Pena Sahabat
MENULIS buku seorang Rachmat Gobel bukan lagi tentang merangkum deretan angka keberhasilan industri atau menghitung tinggi menara kekuasaan politik yang pernah ia duduki. Tapi bagi kami, Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI), laku ini merupakan ikhtiar sunyi mengumpulkan sisa-sisa nafas, ketulusan, dan kesedihan yang ditinggalkan oleh seorang anak manusia yang sepanjang hidupnya menenun cahaya bagi negeri.
Buku ini diterbitkan bukan sebagai selebrasi komersial yang megah. Penerbit Buku Kompas yang bekerjasama dengan SWSI menerbitkannya sebagai sebuah ratapan rindu kepada almarhum yang spektrum persahabatannya sangat luas, dari wartawan, penguasa sampai pengusaha dan manusia pinggiran. Membukukan kesan dan komentar mereka lewat buku ini merupakan monumen pertanggungjawaban moral dari para perekam sejarah yang menyaksikan bagaimana seulas senyum tulus itu kini telah abadi dalam pelukan bumi.
Alih-alih sekadar menyajikan fakta-fakta beku, kami justeru ingin mengajak Anda melangkah melintasi waktu. Meraba luka dan cinta yang tumbuh dari aroma tanah basah Gorontalo, hingga dinginnya mesin pabrik yang berdentang layaknya denyut nadi perjuangan. Apalagi sebagai wartawan yang rambutnya telah memutih oleh debu waktu dan ribuan berita, kami kerap kali dirundung kegelisahan mendalam di tengah bisingnya zaman digital yang serba instan.
Barangkali tak berlebihan jika bangsa ini kami anggap sering kali kehilangan arah. Bangsa yang kami rasakan sangat kekurangan cermin jernih untuk berkaca tentang apa artinya pengabdian yang sejati tanpa kepalsuan. Di tengah keputusasaan itulah, sosok Rachmat Gobel hadir dalam ingatan kami seperti oase di padang yang gersang.
Kami merupakan saksi mata yang mencatat dengan mata basah bagaimana sahabat kami, Rachmat Gobel, dibentuk oleh kedisiplinan yang nyaris asketis. Keputusan Serikat atau SW60+ untuk melahirkan buku ini bersumber dari rasa kehilangan besar. Sebuah kesadaran bahwa ketika seorang tokoh berintegritas berpulang, ada lubang besar yang menganga di dada ibu pertiwi.
Melalui halaman demi halaman buku ini, kami mengikat kembali benang kenangan yang terserak. Lalu, menjadikannya lentera agar generasi hari ini tidak meraba-raba dalam gelap. Kami teringat sepotong memori yang begitu perih jika diingat kembali, sebuah wasiat abadi dari sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, yang selalu terngiang seperti mantra di telinga putranya. “Lihatlah pohon pisang,” bisik suara masa lalu yang merayap di sela-sela waktu, “ia menolak mati sebelum melahirkan tunas yang baru.”
Filosofi itu bukan sekadar penghias pidato, tapi sebuah luka pengorbanan. Rachmat kecil tidak disiapkan tempat tidur dari sutera, melainkan dikirim langsung ke lantai pabrik yang bising dan gerah. Di sanalah kami para jurnalis senior, bersama sahabat almarhum merekam momen paling rapuh sekaligus perkasa: seorang pewaris takhta bisnis yang rela merangkak dari bawah. Menjadi tukang sapu pabrik saat masih remaja, mencium jelaga timah, dan membiarkan peluhnya menyatu dengan keringat kaum buruh jelata.
Pak RG, begitu kependekan namanya yang biasa kami sapa, belajar memimpin bukan dengan telunjuk yang angkuh dari menara gading. Melainkan dari kedalaman rasa sakit dan kerja keras di lantai terbawah. Lembar-lembar buku kesan dan komentar sahabatnya ini membuka gerbang menuju ketabahan itu. Menggambarkan cara dia mengambil alih kemudi kapal besar di tengah badai krisis yang mencekam. Lalu menuntunnya dengan jangkar kebudayaan yang tak pernah lepas dari tanah leluhur.
Lagi halnya, mereka yang hanya mengenalnya dari balik kilatan lampu kamera wartawan, atau jepretan media di podium parlemen. Pak RG mungkin hanya menjelma sebagai pengusaha sukses atau pejabat tinggi yang tenang. Namun, kami menyusup ke ruang-ruang sunyinya, menemukan seorang kurator jiwa bangsa yang sesungguhnya. Bahkan teknologi moderen dari Jepang, bagi RG tak boleh datang menggusur dan menginjak kearifan lokal. Melainkan hadir sebagai pelindung dan pelayan bagi harkat kemanusiaan.
Pak Rachmat memandang selembar kain karawo Gorontalo atau guratan batik Jawa dengan tatapan penuh takzim. Kain tradisional itu baginya bukan sekadar barang dagangan. Melainkan sebagai simbol martabat sebuah bangsa yang menolak menjadi budak di rumahnya sendiri. Sungguh menyayat hati melihat caranya menghargai setiap tetes keringat pengrajin kecil dengan penghormatan yang sama tingginya seperti ketepatan sirkuit elektronik.
Sahabat dan rekan sejawatnya menuangkan kesan beragam. Kesan mendalam tapi tenang itu ditorehkan seorang Karni Ilyas, Chris Kanter, Ilham Bintang, Suryopratomo, Timbo Siahaan, Intan Abdams Katoppo, Antarina S.F. Amir, Usman Kansong dan Nasihin Masha, untuk sekedar menyebut sebagian sahabatnya. Dua nama terakhir layak diberi apresiasi sebagai penanggungjawab dan editor buku ini.
Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan. Membawa langkah kaki Rachmat Gobel mengarungi riuh rendah dunia kebijakan publik. Jabatan sebagai Menteri Perdagangan hingga amanah agung sebagai Wakil Ketua DPR RI, ia pandang bukan sebagai puncak kejayaan. Melainkan sebagai sebuah pengabdian yang harus dipikul dengan punggung yang lelah namun menolak menyerah.
Buku ini memotret fase tersebut secara jujur, tajam, dan penuh empati khas wartawan senior yang telah kenyang melihat drama politik. Kami merekam momen ketika ia berdiri di tengah pasar tradisional yang becek, mendengarkan keluhan para pedagang kecil dengan mata yang berkaca-kaca mencerminkan ketulusan sejati.
Rachmat Gobel menjalani semua laku luhur ini jauh dari panggung pencitraan musiman. Tersebab baginya, politik adalah seni yang sunyi untuk memperluas ruang kebahagiaan bagi publik. Terutama bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dan telantar di sudut-sudut gelap pembangunan.
Melalui penerbitan buku sekumpulan pesan para sahabat ini, SW60+ sekaligus ingin mengetuk kesadaran kita semua. Bahwa seorang jurnalis mungkin bisa pensiun dari hiruk-pikuk ruang redaksi. Tetapi pena mereka tidak akan pernah berhenti menjaga kesucian sejarah dari kelupaan.
Buku ini adalah air mata dan cinta kami. Merupakan wujud kesaksian otentik dari para juru warta lintas generasi, selain juga dari pelbagai profesi lainnya, yang mengagumi sepak terjangnya. Pak RG menunjukkan dengan cara mengagumkan, betapa dedikasi, harga diri, dan kecintaan yang tak bersyarat pada tanah air dirajut hingga embusan nafas terakhirnya.
Haji Rachmat Gobel kini telah beristirahat dalam keabadian, meninggalkan kita semua dalam kerinduan yang sunyi. Kisah hidupnya bukan sekadar monumen kertas mati untuk merayakan masa lalu. Riwayat perjalanan hidupnya merupakan sebuah kompas yang dibasahi doa. Sebuah suluh yang terus menyala di tengah kegelapan zaman globalisasi yang kerap mencabut akar kemanusiaan kita.
Biarkan bait-bait kisah ini mengalir ke dalam lubuk hati Anda seperti aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Kisah tauladan seorang tokoh berjiwa besar, murah senyum dan dermawan, yang membawa pesan abadi. Bahwa di tangan orang yang tepat, seluruh peluh dan cinta pada tanah air dapat menjelma menjadi untaian puisi kehidupan yang takkan pernah mati.
Selamat membaca.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar