Feature

Mengenang Operasi Woyla 45 Tahun Silam

SW60Plus.com, 19 April 2026, 15:14 WIB
Bambang Wiwoho
Bambang Wiwoho
· 203x dilihat
Pembebasan pembajakan pesawat Garuda Woyla di Don Muang, Thailand berlangsung super kilat. Hanya tiga  menit pada Selasa menjelang dini hari, 31 Maret 1981, 45 tahun silam. 

Peristiwa itu menggemparkan dunia.  Bersamaan dengan itu  terjadi  penembakan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Jika tak terjadi penembakan Reagen, berita pembebasan pesawat Woyla akan menjadi berita utama di surat kabar internasional.

Atas persetujuan Jenderal Yoga Sugomo, operasi pembebasan pesawat tersebut dinamai Operasi Woyla,telah  dijadikan judul buku. Bagi pramugari Deliyanti, hari pembebasan pesawat Woyla sangat istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-21. Peristiwa luar biasa itu dirayakan sederhana dengan berfoto bersama – anggota Pasukan Komando, awak pesawat Woyla dan awak pesawat yang membawa mereka pulang kembali ke Tanah Air.

Pasca Operasi Woyla, penulis bersama sahabat antara lain keluarga mantan Ko-Pilot Woyla Hedhy Juwantoro,  beberapa kali memprakarsa silaturahmi dengan  mantan awak pesawat, sandera dan anggota pasukan pembebasan. Silaturahmi tersebut terhenti tatkala muncul wabah Covid 19, bahkan ada yang karena wafat komunikasi terputus serta kehilangan kontak satu sama lain, kecuali dengan Hedhy Juwantoro dan Deliyanti.

Dalam lebaranlalu, Deliyanti bermaksud berkunjung ke kediaman penulis. Maka kami sepakati silaturahmi kekeluargaan antara keluarga Hedhy Juwantoro, keluarga Deliyanti dan penulis yang direncanakan pada Rabu 1 April 2026, seraya mensyukuri ulang tahun Deliyanti, juga ulang tahun Hedhy Juwantoro (22 Maret).
 
Dengan berkah Tuhan, acara menjidi penuh makna dan agak meriah tatkala pada Sabtu pagi  28 Maret 2026, Direktur Utama Garuda Letjen TNI (Purn) Glenny Kairupan menelepon menanyakan kabar sahabat-sahabat para awal pesawat Woyla. Saya sampaikan kepada beliau  rencana silaturahmi tadi. Spontan beliau mengatakan, “Saya ikut hadir ya!“. 

Rabu 1 April 2026 bertempat di Sanggar Suluk Nusantara, Depok, Dirut Garuda Glenny Kairupan pertemuan itu berlangsung. Hadir Wakil Pimpinan Umum Kompas/Penerbit Buku Kompas P.Tri Agung Kristanto. Sahabat anggota DPR Komisi V Sofwan Dedy  dan sahabat pengusaha Dolf Maweru berkenan hadir. 

Dirut Garuda yang datang disertai antara lain seorang pilot senior dan seorang pramugari yunior mengatakan, kehadirannya bersama tim dilandasi niat menghidupkan hubungan emosional antar generasi di Garuda, khususnya dengan para pahlawan Garuda.

Pahlawan itu  bukan hanya mereka yang sudah berkorban jiwa dan ditandai batu nisan, tetapi juga yang masih hidup seperti Hedy Juwantoro dan Deliyanti. Ia dan jajarannya ingin memetik pelajaran dari mereka berdua yang mengalami langsung pembajakan pesawat yang pertama kali terjadi di Indonesia dengan operasi penanggulangannya yang berhasil.

Glenny Kairupan bertekad menggalang semangat sebagaimana dicontohkan pahlawan itu. Tekad ini disambut doa hadirin agar Garuda yang sekarang sedang merugi besar, bisa segera bangkit, menjadi maskapai penerbangan kebanggaan nasional yang sehat dan kuat secara operasinal maupun keungan, yang dilandasi semangat korps yang tinggi.

Tiga hal penting

Harapan Dirut Garuda mengingatkan penulis pada silaturahmi yang diprakarsai Onto Subagyo HS, yaitu putera mantan Kepala Staf Angkatan Darat JenderalSubagyo yang pada saat operasi pembebasan pesawat bertugas sebagai penembak tepat, 28 Maret 2016. 

Dalam pertemuan yang dihadiri beberapa orang anggota pasukan Komando Indonesia (Kopassandha), awak pesawat dan beberapa orang mantan  sandera, mantan sandera warga negara Amerika Serikat, ThomasR Heischman, menyatakan terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi pembebasan mulai dari LaksamanaSudomo dengan Pusat Pengendalian Krisis di Jakarta, Jenderal Yoga Sugama dengan timnya di Pusat Pengendalian Krisis di Don Muang sampai dengan para pasukan komandonya. 

“Sebuah rangkaian operasi yang hebat,” katanya. Kepada  purnawirawan pasukan komando yang hadir ia menambahkan, “ Terima kasih sehingga saya masih hidup sampai sekarang.”  Pada hemat Tom Heischman, sayang sekali bersamaan dengan itu juga terjadi peristiwa penembakan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Jika tidak niscaya berita pembebasan pesawat Woyla akan menjadi berita utama di suratkabar internasional.

Dua hal lain yang ia sampaikan untuk menjadi bahan pengalaman dan pelajaran bagi peristiwa semacam ini adalah, pertama, pentingnya peranan negosiator atau juru runding. Dalam hal peristiwa Woyla, dilakukan oleh Jenderal Yoga Sugama dengan sangat hebat. Pendapat ini dikuatkan oleh Hedhy. Yoga pandai melakukan buying time dengan sabar dan percaya diri. Dari semula di maki-maki secara kasar, dihina dengan sumpah serapah, tapi tidak terpancing emosinya. Pelan-pelan Yoga membalikkan situasi sampai pembajak menurut dan memanggilnya Jenderal. 

Kedua, pentingnya dilakukan penanganan trauma healing  atau pendampingan psikologis kepada sandera setelah pembajakan selesai. Thomas R.Heischman melihat, begitu pembebasan selesai seorang penumpang berkewarganegaraan asing sudah terlihat shock dan stress. Seorang penumpang yang lain juga berbulan-bulan mengalami stress.

Rasa terima kasih Tom Heischman kepada Pemerintah Indonesia, diungkapkan tiga bulan setelah pembajakan dengan mengunjungi dan mengucapkan terima kasih kepada Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Laksamana Sudomo selaku pimpinan puncak Pusat Pengendalian Krisis.

Semoga apa yang diungkapkan Tom Heischman serta diharapkan Direktur Utama Garuda Glenny Kairupan menjadi bahan Pelajaran dan perhatian kita, bangsa Indonesia***
Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000