Feature

Nona Kwitang Bukan Pelacur

SW60Plus.com, 22 Agustus 2026, 07:29 WIB
Khairul Jasmi
Khairul Jasmi
· 238x dilihat

FIENTJE de Feniks, gadis berusia 19 tahun, dicinta. Disiksa. Dibunuh, dikubur. Digali dan dikubur kembali. Yang tersisa darinya hanya satu foto hitam putih setengah badan. Selebihnya, Nona difitnah sebagai pelacur sampai sekarang, 114 tahun. Kisah hidupnya dimulai setelah Nona dibunuh.

Fientje si Nona Kwitang, gadis Indo-Eropa itu, dalam pemberitaan dibunuh sekali lagi karena keindoannya. Pria berjabatan, anggota klub Concordia yang terkemuka, dianggap tak mungkin membunuh. Itulah sebabnya berita memakai nama Fientje de Feniks, bukan nama si pelaku. Kematian itu dianggap enteng. Inlandsche vrouwen van lichte zeden, ucapan dingin untuk melecehkan perempuan pribumi, seringan kapas tapi setajam sembilu. Yang membunuhnya, Willem Frederik Gramser Brinkman, amtenar di kantor Gouvernement Bedrijven, Weltevreden.

Brinkman yang membawa Nona ke rumah bordil. Brinkman pula yang menyewa kamar di sana. Lalu digaulinya. Disiksanya sampai puas. Tak sekali dua, tapi sering. Nona diseret, menolak, diseret lagi.

Malam Sabtu 13 April 1912, Brinkman menjemput Nona, memaksanya masuk mobil Centrum. Di dalam mobil dipukulinya sampai menangis. Djamiri, sopirnya, mendengar bunyi pukulan itu dari kursi kemudi. Mobil berhenti di Kampung Lima, di rumah pertemuan milik Ny. Jammart. Di sana Ny. Jammart tidak tinggal diam di biliknya. Bersama sopir, diintipnya lewat celah dinding bambu, dikupingnya.

Yang mereka dengar bukan suara perempuan yang melayani. Brinkman menyuruh. Nona menolak sambil menangis, Ik doe het niet, Wim, dat is vies. Saya tidak mau melakukannya, Wim, itu menjijikkan. Brinkman mengancam bunuh. Nona menyerah dalam tangis, lalu berkata akan melaporkan lelaki itu ke polisi.

Kesaksian itu datang dari dalam bordil, dari pemiliknya sendiri. Kalau Nona pelacur, di rumah itulah panggungnya. Di sana kesehariannya. Yang disaksikan pemilik panggung justru perempuan yang diseret naik, menolak, diancam dan menangis.

Beberapa kali Nona mengadu pada kawan dan pada ibunya. Pulang dengan kepala benjol. Muka lebam. Baju robek. Saking sakit kepalanya, ada kalanya rambutnya tak bisa disisir sampai empat hari. Kalau Nona sering ke rumah bordil, itu karena dipaksa ke sana. Dan, waktu akan dibunuh di rumah Oemar Ompong, Nona justru tak tahu itu rumah pelacuran. Berdiri di ambang pintu, bertanya rumah apa gerangan.

Gadis dengan ayah Belanda bernama Willem de Feniks dan Rafia asal Sumatra's Westkust itu dijadikan novel dan sajak. Diberitakan hari demi hari di seluruh Hindia Belanda nyaris tanpa putus sejak 1912 sampai 1915, terus 1926, 1934, terus 1992. Peneliti menyalin sumber sekunder dan mencapnya sebagai pelacur pula. Sumber sekunder disalin lagi, lupa sumber primer, demikian seterusnya.

Secara matrilineal, Nona urang awak. Ibunya, Rafia, lahir di Air Bangis. Ayahnya lahir di sana pula, jadi griffier di Solok. Mati tertembak senapan sendiri ketika berburu pada 1904. Delapan anak ditinggalkannya. Sejak itu Rafia mengayuh biduk sendirian dengan pensiun yang tak cukup.

Cap yang Tumbuh Enam Hari
Saya menggali sumber primer. Di lantai delapan Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, mikrofilm Pantjaran Warta saya putar. Koran Melayu itu terbit saban hari di Batavia, empat halaman, milik penerbit Tionghoa Seng Hoat. Dari gulungan itu, cap kepada Nona bisa dilacak hari demi hari.

Jumat, 17 Mei 1912, jenazah seorang perempuan tersangkut di pintu air Kali Baru, kawasan Tanah Abang, terbungkus karung. Tangan dan kaki terikat. Wajah bengkak, tak dikenali. Anting bermata intan masih terpasang. Senin, 20 Mei, Pantjaran Warta menurunkan berita pertama. Judulnya satu kata: "Mait". Mayat itu disangka nona Tionghoa.

Rabu, 22 Mei, koran meralat. Yang di kali itu "nona Europa S. de F." Pada hari yang sama, berita kedua menyebut nama: "nona de Feniks". Sebutan yang masih hormat. Tanpa cap.

Kamis, 23 Mei, cap itu datang. Di ujung berita penangkapan tiga tersangka, koran menulis satu kalimat: "Penghidoepan nona Fin djadi kembang djalan." Enam hari setelah jenazah ditemukan. Sehari sebelumnya koran yang sama masih menulis "nona de Feniks" polos.

Jumat, 24 Mei, diksi bergeser lagi. Nona disebut pernah kelihatan di "roemah plesiaran" di Pesajoeran. Dua hari sebelumnya tempat yang sama masih ditulis "roemah panggoeng". Tiga hari, satu koran. Tempat dan perempuan itu selesai dicap. Nona tak bisa membantah. Nona sudah di dalam tanah.

Pers Belanda tak kalah. Sebuah koran Batavia menulis kalimat yang kemudian disalin seabad: "Op haar 19e jaar reeds was Fientje een volleerde prostituee." Pada usia 19 tahun Fientje sudah menjadi pelacur berpengalaman. Tak disebut satu bukti. Tak satu saksi. Kalimat itu sampai ke zaman ini justru karena dikutip De Expres di rubrik Kunang-Kunang, 3 Juni 1912.

Cap Berpindah Bahasa

Cap itu tidak berhenti di pers Melayu. Pada 1915 Tan Boen Kim menerbitkan syair dan novel tentang Nona, dijual f 1,25 seeksemplar. Di situ Nona masuk golongan bidadari doenia. Tokoh kekasih Tionghoa bernama Baba Sia Katja-mata direkanya sendiri, tak pernah disebut Siti Rafia.

Fitnah menempel pula lewat orang lain. De Expres 3 Juli 1913 menyebut Micola germo Fientje de Feniks. Bukan De Expres saja. Hampir semua koran zaman itu yang saya baca menulis begitu. Nadanya sama, kalimatnya kadang sama persis, sebab satu koran menyalin koran lain. Salin tempel, seperti sekarang juga. Satu wartawan keliru, sepuluh koran ikut keliru. Micola memang germo di lingkaran bordil, tapi bukan germo Nona. Sekali kalimat itu dicetak, Nona otomatis jadi dagangan. Di laporan sidang hari itu juga, mengutip Java-Bode, wartawan menyelipkan penghakiman sendiri, barangkali ibu korban sedang memikirkan anaknya yang tak mau berperilaku baik dan menempuh jalan salah sejak usia dini. Itu bukan kesaksian. Itu pendapat wartawan yang dicetak sebagai keterangan.

Dari ratusan berita yang saya baca, tak satu pun menyebut tempat, waktu, atau saksi mata pelacuran itu. Tak ada nama rumah. Tak ada seorang pun yang berkata pernah melihat dengan mata kepala sendiri.

Yang ada cap, bukan bukti.

Nona Itu Pembantu Rumah Tangga

Padahal sumber sezaman berkata lain. De Expres, koran Douwes Dekker di Bandung, 3 Juni 1912, halaman satu, menulis:

"W. Gramser Brinkman te Weltevreden, die vroeger de op zoo afschuwelijke wijze vermoorde Fientje de Feniks als huishoudster in zijn huis heeft gehad, is in verband met dien moord onder politie-toezicht gesteld."

W. Gramser Brinkman di Weltevreden, yang dahulu mempekerjakan Fientje de Feniks, yang dibunuh dengan cara begitu mengerikan itu, sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya, telah ditempatkan di bawah pengawasan polisi sehubungan dengan pembunuhan tersebut.

Huishoudster. Pembantu rumah tangga. Sebelumnya Fientje bekerja di rumah ibu Piet de Graauw, lelaki Belanda terhormat, tunangan resminya. De Graauw dipindahtugaskan ke Surabaya, Fientje pulang ke rumah ibunya. Di situlah Brinkman masuk.

Dua tahun kemudian keluarga bicara di muka Raad van Justitie. Rafia bersaksi tentang pertunangan yang patah dan tersiksanya anak gadisnya. Jacoba, adik Nona, ditanya hakim tentang hubungan kakaknya dengan terdakwa. Jawabnya pendek: "Ja, 1e Bekl. was haar man, maar ze waren niet getrouwd." Ya, terdakwa itu suaminya, tapi mereka tidak menikah. Suami, kata anak itu. Bukan tamu. Gadis yang jadi pembantu rumah tangga, bertunangan pula, diawasi tuannya dengan mata elang, kapan ada waktu jadi pelacur?

Satu Koran Berdiri di Sisi Nona

De Expres terbit di Bandung awal Maret 1912, didirikan E.F.E. Douwes Dekker, kerabat Multatuli. Bukan cucu kandung seperti yang sering ditulis orang, melainkan cucu dari Jan, abang Multatuli. Dua bulan sesudah koran itu lahir, di Batavia seorang perempuan muda ditemukan mati di Pintu Air. Pers putih beramai-ramai menstempelnya. Koran anak Pasuruan itu yang berdiri di sebelahnya.

Sejak berita paling awal, 28 Mei 1912, nadanya sudah nada korban, het op zoo afschuwelijke wijze vermoorde meisje De Feniks, gadis De Feniks yang dibunuh dengan cara begitu keji. Empat belas edisi lebih sepanjang 1912 sampai 1915. Detail eksklusif persidangan. Satu-satunya koran yang memuat keterangan keluarga, ayah Nona mati berburu, sembilan anak ditinggalkan.

Satu koran, satu hari, dua halaman. Halaman satu memberi fakta yang membantah cap, huishoudster. Halaman dua menampar cara orang menghakimi. Tapi, Douwes Dekker tidak membantah cap pelacurnya. Dipakainya sendiri malah, de vermoorde prostituee, pelacur yang terbunuh. Yang ditamparnya rasialisme kalimat koran Batavia itu, dosa perempuan kok diukur dari ras pelanggannya. Ditamparnya pula kemunafikan orang-orang yang murka pada perempuan mati, padahal merekalah calon tamunya. Moralis di koran, tamu di Pesajoeran. Sampai pembela pun ikut memakai kata yang dibuat koran lain. Sekuat itu cap bekerja.

Ada satu hal yang tak diketahui siapa pun di ruang redaksi Bandung itu. Enam puluh satu tahun sebelumnya, di lembar Nieuwe Rotterdamsche Courant 18 Desember 1851, nama paman-kakek mereka tercetak berdampingan dalam satu besluit dengan nama seorang pegawai Hindia bernama Lourens van der Vinne. Lourens itu kakek Nona. Sejarah menyilangkan dua keluarga itu dua kali, dua-duanya tanpa sengaja. Sekali lewat tinta besluit, sekali lewat tinta pembelaan. Kebetulan, memang, bukan sebab. Tapi, kebetulan yang membuat saya lama termenung di depan layar.

Nona Hendak ke Padang

Inilah yang membalik sejarah Nona. Nona dibunuh justru karena hendak pergi.

Seorang pengusaha Arab di Passer Baroe menawarinya jalan keluar. Uang sekitar 300 gulden sudah di tangan Nona. Karcis kapal sudah dibeli, kemungkinan SS Esslingen berkapten J. Hellerich, yang singgah di Padang 8 Mei 1912, sembilan hari sebelum Nona ditemukan mati. Guntingan iklan jadwal kapal dari Sumatra-bode 30 Maret 1912 disimpannya. Kapal itu akhirnya berlayar dengan dua penumpang yang tak pernah naik.

Kenapa Padang? Di sana orangtuanya pernah tinggal. Nona pernah ke sana pada usia 14 tahun, menghadiri pernikahan kakaknya pada 1907. Kota di tepi laut, angin dari Samudera Hindia, pedagang Arab dan Minang menunggu lelang kopi di Muaro. Tak ada Brinkman di sana. Tak ada pistol menempel di kening.

Rencana itu bocor. Micola bersaksi dan kesaksiannya dimuat De Nieuwe Vorstenlanden 17 Juli 1913. Brinkman datang malam itu juga dengan mobil. Nona berkata kepadanya, "Aku tidak ingin kembali kepadamu lagi." Brinkman menariknya dengan kasar ke dalam mobil. Brinkman sendiri kelak mengaku di persidangan, dimuat De Preanger-bode 7 Mei 1914, Fientje sering berpamitan, selalu ingin pergi, apa ke Padang atau ke Medan.

Soerabaia Handelsblad, dikutip De Expres 1 Juli 1913, menulis lugas:

"Rencana pembunuhan itu telah disusun matang berhari-hari sebelumnya. Sebuah rumah di Tamboeran, kepunyaan seorang bernama Oemar, disewa khusus untuk maksud tersebut. Sehari sebelum kejadian, di sungai telah ditancapkan sebuah patok, tempat mayat akan ditambatkan agar tetap tenggelam. Fientje telah mengatakan bahwa ia akan pergi ke Padang dan karena itu, vonis kematiannya pun ditentukan."

Rumah bordil Oemar Ompong di Tamboeran disewa f300. Sehari sebelumnya patok sudah ditancapkan di kali supaya jenazah tak timbul. Selasa malam 14 Mei 1912, Nona dijemput paksa dari Mangga Besar. Di kamar timur rumah berlantai tanah itu, Raoena mengintip dari celah dinding bambu. Malam itu memanjat ke dinihari 15 Mei. Tak ada yang tahu persis jamnya, sebab pembunuh tidak melihat jam. Perempuan yang dicap pelacur itu mati karena hendak jadi merdeka.

Dibebaskan, Lalu Membunuh Lagi

Brinkman diadili dan dibebaskan. Lima puluh sembilan saksi, kata orang, disuap. Setelah bebas, lelaki itu membunuh perempuan kedua, Aisha, hanya karena perempuan itu dianggapnya terlalu banyak tahu. Baru hakim menjatuhkan hukuman mati. Brinkman kabur dari Glodok, tertangkap, dirantai, dipindah ke penjara Civiel en Militair. Menurut keterangan pemerintah, Brinkman gantung diri pada September 1915. Menurut isu yang hidup sampai 1938, lelaki itu lolos ke Amerika lewat Singapura. Dua puluh tiga tahun sesudah lelaki itu hilang, koran Soerabaia masih menulisnya sebagai legenda.

Peringatan sejak Zaman Lampau

Ada bocah Belanda tinggal di Batavia. Suatu hari majalah keluarga Weekblad voor Indie tergeletak di meja. Edisi 27 Juli 1913, jaargang 1913 nomor 15, halaman 338 sampai 345. Delapan halaman penuh perkara Nona, lima belas ilustrasi. Laporan sidang Raad van Justitie. Potret Nona di halaman 338. Potret para saksi. Bahkan ada foto rekonstruksi, Raona mengintip di dinding bambu. Bocah tiga belas tahun itu membacanya.

Sesudah itu tidurnya hilang. Malam-malam anak itu menggugau. Terbangun, lalu tak berani memejamkan mata lagi. Siangnya pun tak lepas, sepanjang hari kepalanya penuh oleh isi majalah itu. Mata gadis di halaman itu mengikutinya ke mana-mana. Orang tuanya kehabisan akal. Keluarganya memindahkannya ke Bandung supaya tenang.

Namanya Du Perron. Kelak, waktu dewasa, jadi sastrawan besar di Belanda. Kejadian mengerikan masa kecil itu dikisahkannya sendiri dalam Het Land van Herkomst. Potret Nona diingatnya seumur hidup, mata rusa, mata yang seolah menarik pembunuhan. Edisi 27 Juli 1913 itu saya buru sampai sekarang. Nomornya saya tahu, halamannya saya tahu, daftar gambarnya saya tahu. Fisiknya belum saya pegang sampai hari ini. Yang tinggal hanya kesaksian bocah itu, ditulisnya sesudah dewasa.

Zaman Belanda tidak ada kode etik. Kodenya satu saja, jangan membuat tersinggung penguasa agung di Batavia. Selebihnya libas saja. Du Perron jadi korbannya. Itulah peringatan pertama untuk Indonesia, kenapa kode etik mesti melarang tulisan dan foto sadis. Sebab yang terguncang bukan cuma jiwa anak-anak. Keluarga korban pun ikut terguncang.

Kertas-kertas yang Dijepit

Cap koran itu dipungut Tan Boen Kim, dijadikan syair dan novel pada 1915. Dari sana peneliti menyalin. Salinan disalin lagi. Seratus tahun lebih, Fientje tercatat sebagai pelacur di buku demi buku, oleh orang-orang yang tak pernah membuka koran hari demi hari itu.

Ada satu perempuan yang membela Nona jauh sebelum siapa pun di Indonesia mengingat namanya. Bukan sejarawan. Bukan wartawan. Seorang anak tangsi, lahir di Batujajar 1921, ayahnya kopral KNIL kelahiran Amsterdam, ibunya perempuan Jawa. Namanya Lin Scholte. Baru di usia senja berani memegang pena, menulis dari Belanda, tentang tangsi dan perempuan-perempuan pribumi yang hidup menempel pada serdadu.

Ada satu naskahnya yang tak pernah terbit semasa hidup, judulnya Fientje de Feniks. Delapan puluh lima lembar, lima halaman pertamanya hilang. Vilan van de Loo menemukannya di Den Haag, terbit anumerta 2007. Di situ Lin menulis Fientje sebagai gadis Indo yang dibunuh di Batavia sesudah kisah cinta yang malang. Gadis Indo. Bukan perempuan murahan. Judul artikel van de Loo tentang naskah itu tegas benar, Ter verdediging van Fientje de Feniks, Untuk Membela Fientje de Feniks.

Pembelaan Lin berhenti separuh jalan. Bingkai lamanya tetap dipakai, Nona pergi dari Brinkman lalu menjual diri lalu dibunuh. Kisah cinta yang malang, katanya, padahal di arsip tak ada cinta di situ, yang ada penyiksaan. Lin membela dengan empati, bukan dengan dokumen. Turun ke sumber primer tak sempat dilakukannya. Tapi, dialah suara pertama yang berkata, jangan hina perempuan ini. Buku saya berdiri di atas bahunya.

Potret Lin Scholte dipasang di dalam artikel van de Loo tentang Fientje, dengan keterangan Familiearchief Scholte. Karena letaknya di tulisan yang sama, orang awam kerap salah kira, disangkanya wajah Lin itu wajah Fientje. Sang pembela tertukar dengan yang dibela. Perempuan yang menjaga nama Nona malah dikenakan wajah Nona.

Saya menjelajahi koran-koran tua dengan mata perih di layar laptop, bukan sekadar untuk menulis novel dari bahan yang riuh di awal abad lalu. Bukan hanya itu. Saya mencoba mencari, sesungguhnya Nona itu pelacur atau tidak. Saya menemukan, tidak. Berita berkepanjangan tentang korban, bukan pelaku, itulah awal mula koran kuning di Indonesia.

Ratusan berita Bataviaasch Nieuwsblad saya baca, yang terpakai puluhan. Berita koran itu disalin tempel koran lain di Semarang, Soerakarta, Medan, sampai Den Haag. Koran ini pula yang menulis paling rinci. Nona dibunuh, dimasukkan ke dalam karung, meringkuk, dibuang di Kali Baru. Dikubur di makam pribumi. Digali kembali untuk memeriksa tubuhnya guna mendapat bukti baru, lalu dikubur di pemakaman Belanda Tanah Abang. Sidang berlangsung berhari-hari. Ruangan sidang penuh. Pembunuhnya bebas. Tak lama kemudian membunuh lagi.

Sejujurnya, sembilan puluh delapan persen sumber novel ini koran Belanda. Bukan karena saya pilih kasih. Koran Belanda datang sendiri ke meja saya. Sambil ngopi, sambil mengisap rokok di sudut kafe, tinggal ketik kata kunci di web arsip mereka di Amsterdam sana, meluncur apa yang dicari, melimpah pula.

Koran Melayu tidak begitu. Pantjaran Warta tak ada dalam arsip digital mana pun di dunia. Untuk membaca tujuh berita dari enam edisi itu, saya mesti terbang ke Jakarta, naik ke lantai delapan Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, lalu memutar sendiri gulungan mikrofilm di Layanan Koran dan Majalah Langka.

Saya kejar juga koran Melayu itu, sebab saya ingin membuktikan bukan cuma Belanda yang memberitakan perkara ini. Orang kita pun memberitakannya. Dan dari gulungan itulah ketahuan, cap "kembang djalan" lahir di pers Melayu lebih dulu daripada di pers Belanda.

Keluarganya dicari sampai ketemu. Di basis data catatan sipil, akta kematian ibunya terpegang. Siti Rafia, wafat 8 Oktober 1948 di Jakarta, umur 84 tahun, dicatatkan sehari kemudian. Tiga puluh enam tahun perempuan itu hidup sesudah anaknya dibunuh, menanggung fitnah atas anaknya sepanjang sisa umur. Akta nikah kakak Nona, Adeline Maria de Feniks dengan Eduard Henry Fliers, 5 Juli 1946 di Jakarta, ditemukan pula. Adeline ada di Jakarta ketika ibunya wafat.

Semua kertas itu saya jepit jadi satu, 213 rujukan dari dua benua, terentang delapan puluh enam tahun, 1866 sampai 1952. Koran dan majalah sezaman 142 buah. Seratus empat belas dari pers Hindia Belanda, Dua puluh satu dari pers negeri induk di Belanda. Tujuh dari Pantjaran Warta yang cuma ada di mikrofilm. Sisanya 21 judul buku dan kajian akademik, 20 berkas dokumen, arsip, akta sipil dan peta, lalu 21 rujukan perkara paralel. Saya turun ke lapangan sembilan kali, ke makam, situs dan instansi di Sumatra Barat, Jakarta dan Mandailing. Bataviaasch Nieuwsblad sendiri menyumbang 22 berita, Het Nieuws van den Dag 20, De Expres 14, De Preanger-bode 12.

Koran-koran itu terbit di Batavia, Bandoeng, Semarang, Soerabaia, Medan, Padang, Soerakarta, lalu menyeberang lautan ke Den Haag, Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Arnhem, Haarlem, sampai kota kecil Goes di Zeeland. Perkara seorang pembantu rumah tangga di Kwitang sampai ke meja sarapan orang Belanda di negeri induk. Dosir adik Nona, Richard David de Feniks, tersimpan di Nationaal Archief Den Haag. Tikanaskah Lin Scholte tentang Fientje, sekitar 85 lembar, lima halaman pertamanya hilang, tanpa judul, ada di Literatuurmuseum Den Haag. Jilid ketiga trilogi Tan Boen Kim 1915 tersimpan di Leiden University Libraries, shelfmark M hh 8949 N.

Saya ziarah ke Kerkhof Solok tempat ayah Nona dikubur, ke Taman Prasasti, ke Pintu Air, ke Pakantan. Dr. Suryadi di Universiteit Leiden menelusuri dosir di Belanda. Novelia Musda, alumnus S2 Leiden, menerjemahkan dokumen-dokumen Belanda, jantung riset ini. Dari sanalah novel saya, Nona Kwitang, 34 bab, ditulis.

Yang tercatat di koran hanya pergeseran bahasanya sendiri. Kebenaran capnya tak pernah ada. Fientje de Feniks bukan pelacur. Nona anak orang, dibunuh orang, difitnah orang.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000