Perjalanan Dramatis Nasir Tamara Bersama Khomeini Dari Paris ke Teheran
Nasir Tamara, wartawan Sinar Harapan, pada awal Februari 1979, malam itu bergerak dari sebuah desa di pinggiran Kota Paris. Ia menyertai rombongan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khomeini. Rombongan tersebut akan kembali ke Teheran dari Paris dalam momentum Revolusi Iran.
Peserta perjalanan dalam rombongan itu berangkat tanpa visa. Biaya pun ditanggung secara patungan. Sebagai wartawan, Nasir Tamara hanya memperoleh satu tiket one way dari penerbit Sinar Harapan di Jakarta. Laporan hasil liputannya tentang pergolakan sosial-politik Iran kala itu menjadi sajian unggulan koran yang terbit setiap sore di Jakarta. Pembaca menikmati laporan Nasir langsung dari Teheran.
“Penerbangan dari bandara di Paris memanfaatkan dua pesawat Air France,” kata Nasir dalam percakapan podcast Ruang Tamu BacktoBDM. Nasir berada dalam satu pesawat bersama Ayatollah Khomeini, hanya berjarak sekitar sepuluh baris di belakang kursi sang pemimpin kharismatik.
Perjalanan sipil antarnegara berdaulat bagi orang asing tanpa visa jelas berisiko sangat serius. Apalagi mereka berada dalam satu rombongan dengan tokoh utama yang menjadi lawan dari Sang Raja pemilik kekuasaan besar, Shah Reza Pahlevi. Entah apa yang akan terjadi.
Kerajaan Iran pada masa itu merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang telah memiliki banyak pesawat tempur modern F-16. Negara-negara lain di kawasan bahkan belum memiliki satu unit pun.
Nasir Tamara mengaku sempat membayangkan militer Iran di udara akan menghadang—bahkan merudal—pesawat rombongan Khomeini. Namun demikian, ia menegaskan keyakinannya: jika percaya kepada Tuhan, semua adalah jalan-Nya. “Tuhanlah yang menentukan,” ujarnya.
Sekitar tujuh jam penerbangan berakhir. Rombongan tiba di Bandara Teheran. Apa yang terjadi di luar dugaan. Para petugas imigrasi tiba-tiba menghilang dari tempat tugas mereka. Jangankan memeriksa dokumen keimigrasian rombongan tanpa visa, satu pun petugas tidak terlihat. Entah ke mana, kecuali sejumlah perwira tinggi militer—jenderal, laksamana, dan para komandan—yang tampak di lokasi.
Di luar dugaan pula, jajaran petinggi militer tersebut justru bersikap santun dan hormat. Mereka menjemput Khomeini beserta rombongan dari bandara menuju pusat Kota Teheran.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, jutaan orang memadati jalan. Mereka berdesakan, bersuka cita. Sebagian bahkan terpaksa naik ke helikopter untuk menghindari kerumunan. Tidak tampak tentara bersiaga. Tidak ada pula dukungan partai politik.
Iran tetap menjadi pusat sorotan dunia. Bangsa besar di Persia ini mampu bertahan dari tekanan Israel dan Amerika Serikat. Dan sebagai jurnalis, Nasir terus menuliskan kisah itu dalam bukunya tentang Revolusi Iran yang selalu diperbarui.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar