Feature

Purbaya dan Peter F. Gontha

SW60Plus.com, 20 Mei 2026, 13:08 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 202x dilihat


“Komunikasi kamu jelek banget.” Teguran Peter Gontha kepada Purbaya itu mengungkap ironi besar: fiskal Indonesia mungkin cukup kuat, tetapi negara justru kalah menjelaskan dirinya sendiri kepada publik.

Pada konferensi pers 19 Mei 2026 kemarin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga bercerita bahwa ia pernah didatangi Peter Gontha. Kisah itu awalnya terdengar sederhana, bahkan seperti selingan santai di tengah pembahasan APBN yang penuh angka. Namun justru dari cerita kecil itulah terlihat sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana ekonomi modern tidak hanya ditentukan oleh fundamental fiskal, tetapi juga oleh kekuatan narasi.

Peter Gontha bukan sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai pengusaha senior Indonesia, pendiri jaringan maskapai, pelaku industri hiburan, diplomat, sekaligus figur publik yang lama berkecimpung di dunia bisnis internasional. 

Sebagai mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia dan pelaku bisnis lintas sektor, Gontha merepresentasikan kelas elite bisnis yang terbiasa membaca sinyal ekonomi secara cepat dan pragmatis. Karena itu, ketika sosok seperti Pieter Gontha datang dengan nada skeptis kepada Purbaya, peristiwa tersebut menjadi simbol penting tentang jurang antara realitas ekonomi negara dan persepsi publik elite ekonomi sendiri.

Purbaya menceritakan bahwa Peter Gontha datang sambil mencecarnya dengan berbagai pertanyaan: “Lu gimana ngatur fiskal lu begini begini begini?”
Nada pertanyaan itu penting dibaca secara kritis. Ia menunjukkan bahwa bahkan di kalangan elite bisnis sendiri telah berkembang kecemasan bahwa fiskal Indonesia sedang bermasalah. Persepsi tentang tekanan rupiah, keluarnya dana asing, dan kekhawatiran utang negara tampaknya telah membentuk semacam economic anxiety di ruang publik. 

Dalam bahasa Robert J. Shiller, situasi seperti ini disebut sebagai narrative epidemic: penyebaran cerita ekonomi yang viral dan memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat.
Shiller menjelaskan bahwa ekonomi tidak bergerak hanya oleh data objektif, tetapi juga oleh cerita yang dipercaya publik. Cerita itu bisa menyebar layaknya virus: dari media, percakapan elite, media sosial, hingga rumor pasar. Bahkan ketika fundamental ekonomi cukup kuat, narasi ketakutan tetap dapat menciptakan kepanikan ekonomi.

Di sinilah cerita Purbaya menjadi menarik.
Menanggapi pertanyaan Peter Gontha, Purbaya tidak membela diri secara emosional. Ia justru memaparkan data satu per satu: penerimaan pajak tumbuh belasan persen, keseimbangan primer surplus, rasio pembayaran bunga utang Indonesia dinilai aman oleh S&P, hingga cadangan fiskal melalui SAL mencapai lebih dari Rp430 triliun.
Yang menarik bukan hanya datanya, tetapi reaksi Peter Gontha setelah mendengar penjelasan tersebut. Menurut Purbaya, Pieter Gontha justru tertegun. Ia, menurut Purbaya, “terdiam”.
Momen itu sesungguhnya sangat simbolik.
Seorang pengusaha senior yang setiap hari hidup di tengah arus informasi ekonomi ternyata mengaku tidak pernah mendengar narasi positif semacam itu sebelumnya. Artinya, masalah terbesar pemerintah mungkin bukan semata ekonomi itu sendiri, tetapi kegagalan komunikasi ekonomi negara.
Di titik inilah Peter Gontha melontarkan kritik yang sangat tajam kepada Purbaya:
“Kamu komunikasi jelek banget.”
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki implikasi besar. Kritik tersebut memperlihatkan bahwa negara mungkin berhasil mengelola fiskal, tetapi gagal mengelola narasi. Pemerintah memiliki data, tetapi kalah dalam distribusi persepsi. 
Dalam perspektif narrative economics, kegagalan negara bukan selalu kegagalan kebijakan, melainkan kegagalan membuat cerita ekonomi yang cukup kuat untuk dipercaya publik.
Robert Shiller menulis bahwa narasi ekonomi bekerja seperti epidemi. Cerita yang emosional, sederhana, dan mudah diulang akan jauh lebih cepat menyebar dibanding laporan teknokratik yang penuh angka. Itulah sebabnya rumor krisis sering lebih viral dibanding data stabilitas fiskal. Ketakutan jauh lebih mudah dijual dibanding kehati-hatian statistik.

Karena itu, kemarahan sekaligus frustrasi Purbaya di konferensi pers sebenarnya dapat dipahami sebagai respons terhadap kekalahan negara dalam perang narasi.
Ia bahkan berkata kepada wartawan bahwa ia sudah berkali-kali menjelaskan hal yang sama, tetapi publik tetap tidak menangkap pesannya. Dari sini terlihat bahwa konferensi pers APBN 2026 bukan lagi sekadar forum administratif, melainkan upaya agresif negara merebut kembali kendali atas persepsi ekonomi publik.
Purbaya lalu menjelaskan strategi pemerintah menjaga pasar obligasi:
“Kalau ada yang jual kita beli.”
Kalimat tersebut segera viral karena terdengar sederhana sekaligus penuh percaya diri. Namun di balik kesederhanaannya, terdapat strategi ekonomi yang sangat serius. Pemerintah sedang bertindak sebagai standby buyer di pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk menahan kepanikan dan menjaga stabilitas pasar obligasi.

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan kekuatan SAL Rp430–434 triliun sebagai bantalan fiskal.

Ia bahkan menolak menggunakan perantara lembaga keuangan lain karena merasa Kementerian Keuangan cukup kuat untuk melakukan intervensi sendiri.
“Saya punya SAL Rp 430 triliun... napas saya panjang.”

Metafora “napas panjang” di sini sangat penting. Ia bukan sekadar penjelasan teknis fiskal, tetapi narasi psikologis. Negara sedang dipersonifikasikan sebagai tubuh yang kuat, tahan lama, dan tidak mudah panik.

Dalam perspektif Shiller, narasi semacam ini bekerja karena publik lebih mudah memahami metafora dibanding angka teknis. Orang mungkin tidak memahami keseimbangan primer atau yield obligasi, tetapi mereka memahami simbol “napas panjang”. Dengan kata lain, komunikasi ekonomi yang efektif adalah komunikasi yang mampu mengubah angka menjadi cerita.

Namun justru di sinilah paradoks muncul. Negara semakin sadar bahwa stabilitas ekonomi modern bergantung pada persepsi. Akibatnya, komunikasi ekonomi berisiko bergeser dari transparansi menuju confidence engineering — rekayasa optimisme publik. Ketika Purbaya berulang kali menegaskan bahwa fiskal Indonesia aman, bahwa pemerintah siap membeli obligasi, dan bahwa pasar tidak perlu panik, ia sebenarnya sedang melakukan sentiment management. Negara bukan hanya mengelola APBN, tetapi juga mengelola emosi kolektif publik dan investor.

Di era digital, hal ini menjadi semakin kompleks.

Purbaya sendiri mengakui: “Gua sekarang terpaksa lihat TikTok...”

Kalimat ini penting karena menunjukkan pengakuan negara bahwa narasi ekonomi kini bergerak melalui algoritma media sosial. TikTok, meme, potongan video, bahkan komentar netizen kini ikut membentuk ekspektasi ekonomi publik. Dalam situasi seperti itu, negara dipaksa bermain di arena yang sama: cepat, emosional, viral, dan sangat visual.

Akibatnya, teknokrat seperti Purbaya tidak lagi cukup hanya benar secara data. Ia juga harus komunikatif, populis, bahkan performatif. Ia harus mampu mengubah APBN menjadi cerita yang hidup.

Kisah Peter Gontha dan Purbaya akhirnya bukan sekadar anekdot lucu dalam konferensi pers. Ia adalah cermin dari perubahan besar dalam ekonomi modern: pertarungan ekonomi hari ini bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal siapa yang mampu memenangkan narasi.

Dan di tengah derasnya arus informasi digital, negara tampaknya mulai sadar bahwa angka saja tidak pernah cukup.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000