Rote, Surga di Ujung Selatan, Siapa yang Punya? #1
PENGANTAR - Indonesia tidak hanya Jakarta. Akhir Mei 2026, saya melakukan perjalanan jurnalistik ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah paling selatan di Indonesia. Berikut catatan perjalanan yang diberi tajuk “Indonesia dari Pinggiran” Bukan dari Jakarta. Bukan juga dari pejabat daerah. Tapi dari observasi dan obrolan dengan orang di jalanan.
Selama empat hari saya berada di Rote. Pulau yang disebut “surga” di paling selatan Indonesia. Dari Jakarta menuju Rote bukan sekadar perjalanan geografis. Terbang hampir tiga jam menuju Kupang. Lalu melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tenau dan mampi sejenak di Ikan Kuah Asam di dekat pelabuhan. Dari sana menyeberang ke Pulau Rote melalu Pelabuhan Ba’a. Atau menggunakan pesawat kecil yang frekuensinya terbatas.
Rote berada di Kabupatan Rotendao. Salah satu Kabupaten di Nusa Tenggara Timur Jumlah penduduknya 154.000. Jaraknya tidak terlalu jauh jika diukur dengan peta. Tetapi terasa sangat jauh jika diukur dari cara hidup. Jakarta dan Rote seolah berada di dua dunia yang berbeda.
Di Jakarta, waktu selalu terasa kurang. Orang bergegas mengejar rapat berikutnya, penerbangan berikutnya, target berikutnya. Di Rote, khususnya di Pantai Nemberala sampai Bo’a waktu berjalan lebih pelan. Orang tidak tampak terburu-buru. Jalanan lengang. Sesekali sapi dan anjing, melintas tanpa merasa bersalah mengganggu lalu lintas. Langit terlihat lebih luas. Dan yang paling terasa: keheningan.
“Saya pernah menabrak sapi yang melintas,” ujar pengemudi yang membawa saya. “Saya bayar pajak tapi sapi melintas seenaknya,” tambahnya lagi.
Itulah realitas.
Irama Berbeda
Irama Berbeda Di kota besar, hidup sering diukur oleh kecepatan. Siapa yang paling cepat. Siapa yang paling sibuk. Siapa yang paling dahulu sampai. Menit menjadi penting bagi mereka yang bermain di pasar saham. Menit-menit itu berarti rupiah. Sekali terlambat, jutaan bisa ambyar di pasar saham.Di Rote, ukuran itu terasa tidak relevan. Slow living, kata anak muda sekarang. Bengong dan termenung menatap laut, ujar yang lain. Di Nembrala, misalnya, kehidupan seperti mengikuti irama alam. Matahari. Angin. Laut. Bukan notifikasi telepon genggam. Bukan agenda rapat.
Mungkin karena itulah banyak peselancar dunia datang ke sini. Mereka mencari ombak, tetapi sesungguhnya mungkin mereka juga mencari sesuatu yang hilang dari kehidupan modern: ritme yang manusiawi. Momentum itulah yang membuat ekonomi menggeliat. Potret kontras ada di Nemberela. Ada bungalow mewah. Tapi ada juga rumah nelayan beratap daun lontar atau jerami di pinggir pantai. Itu adalah rumah singgah nelayan, petani rumput laut.
Indonesia dari PinggirSebagai wartawan, saya terbiasa melihat Indonesia dari pusat. Dari Istana. Dari DPR. Dari kantor kementerian. Dari ruang tempat keputusan besar dibuat. Tetapi perjalanan ke Rote selalu menghadirkan perspektif berbeda. Apa yang dibayangkan Jakarta tak sepenuhnya bisa diterapkan di daerah. Apa yang dipidatokan kadang berbeda dengan yang terjadi di lapangan.
Di sinilah paradoks itu terlihat.
Rote alamnya indah. Lautnya jernih. Pantainya kelas dunia. Tetapi akses energi, transportasi, dan logistik masih menjadi persoalan. Di beberapa tempat, harga BBM bisa jauh lebih mahal dibandingkan harga resmi pemerintah. SPBU hanya beroperasi beberapa jam. Antrean panjang dan habis. Pasar hanya buka sekali seminggu.

Listrik dan konektivitas belum selalu hadir dengan kualitas yang sama seperti di Jawa. Surga alam tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan hidup.

Perjalanan ke Rote kali ini bukan sekadar membuat konten. Bukan hanya merekam pantai, ombak, atau matahari terbenam. Di balik kamera, saya justru menemukan pertanyaan yang lebih besar: Siapa yang sesungguhnya menikmati keindahan Indonesia? Apakah masyarakat lokal? Wisatawan? Investor? Atau kita semua? Pertanyaan itu muncul ketika melihat bentangan pantai yang luar biasa indah, sementara di sisi lain masih ada warga yang harus berjuang untuk mendapatkan layanan dasar yang layak. Keindahan alam sering menjadi cerita. Tetapi kehidupan masyarakat yang menjaganya sering luput dari perhatian.
Rote sering disebut surga di selatan Indonesia. Sebutan itu tidak berlebihan. Pantainya indah. Lautnya memikat. Matahari terbenamnya nyaris sempurna.
Tetapi seperti banyak tempat lain di Indonesia, Rote juga mengingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun hotel, pelabuhan, atau kawasan wisata. Pembangunan adalah memastikan masyarakat yang hidup di sana ikut menikmati hasilnya. Karena surga yang sesungguhnya bukan hanya ketika wisatawan datang dan berfoto. Melainkan ketika warga yang tinggal di sana merasa masa depannya ikut menjadi lebih baik.
Saat pesawat meninggalkan Nusa Tenggara Timur dan membawa saya kembali ke Jakarta, satu pertanyaan terus terngiang: Indonesia yang kita banggakan itu milik siapa? Mungkin jawabannya sederhana. Indonesia akan benar-benar menjadi milik kita semua ketika kemajuan tidak berhenti di pusat, tetapi juga sampai ke pulau-pulau kecil di ujung selatan negeri ini. Dan Rote, di batas paling selatan Indonesia, mengingatkan kita bahwa pekerjaan itu masih belum selesai.***
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar