Feature

Stop Bawa-Bawa Ras

SW60Plus.com, 21 April 2026, 11:41 WIB
Renville Almatsier
Renville Almatsier
· 104x dilihat

Akibat tindakannya, Fadly Alberto Hengga harus  menghadapi hukuman berat sesuai Kode Etik Disiplin PSSI. Alberto adalah pemain berbakat yang menjadi bintang timnas U-17 dalam Piala Dunia U-17 di Qatar akhir tahun lalu. Bersama beberapa orang rekannya se-tim Bhayangkara, ia terlibat perkelahian seusai bertanding melawan Dewa United dalam laga Elite Pro Academy (EPA) di Semarang, pekan lalu. Nasib apes, kasus itu menyorot Alberto, pemain keturunan Papua yang besar di Jawa. Di Qatar tahun lalu dalam 18 kali penampilan, ia mencetak enam gol.


Menurut informasi insiden terjadi karena kekecewaan Tim Bhayangkara terhadap keputusan wasit yang mengesahkan gol pihak lawan yang bernuansa off-side. Mengutip Kompas (21/4/26), insiden itu tidak hanya melibatkan Alberto, tetapi juga kawannya yang lain serta  pelatihnya. Sungguh disayangkan, Alberto menyerang lawannya dengan tendangan kung-fu. Bagaimanapun, kekerasan dalam olahraga menunjukkan bahwa sang atlet tak mampu mengontrol dirinya dan tidak menjunjung tinggi jiwa olahraga.


Tidak bermaksud membenarkan tindakannya itu,  Alberto jelas bersalah. Tak bisa ditawar dan hukuman tetap harus dijalankan.  Mengacu Kode Disiplin PSSI , Alberto berpeluang diganjar skorsing untuk waktu yang cukup lama. Maka kita pun kehilangan satu bintang yang diharapkan memperkuat timnas U-19 di Kejuaraan ASEAN U-19 2026.  Apa salah Alberto?  Pemicu tindakan pribadi Alberto itu  perlu kita perhatikan serius. Menurut info, ketika menjawab interogasi Komisi Disiplin PSSI,  ia mendengar teriakan bernuansa rasis dari pihak lawan dan penonton. Kalau Alberto betul, hal ini yang perlu kita cermati mengingat kondisi masyarakat kita yang sering lupa pada “Bhineka Tunggal Ika”. Maaf kalau terpaksa membawa-bawa Pancasila.


Harus kita akui, pemain asal Papua masih sering jadi sasaran rasisme masyarakat penonton kita. Bentuknya teriakan atau celetukan, sampai stereotip soal fisik dan gaya rambut, dari stadion. Kadang-kadang umpatan kasar itu muncul dari penonton di balik laptop. Bahkan pelatih Patrick Kluivert pun tak luput dari ejekan serupa.


Tidak di pertandingan  lokal saja kebiasaan tercela itu sering terjadi. Di Eropa yang paling sering muncul adalah nyanyian monyet, lemparan buah pisang  dan spanduk bernuansa rasis dengan target pemain berkulit hitam.Kita masih ingat Mario Balotelli, pemain hitam-kekar tim Italia dalam kompetisi Eropa 2012 diteriakkan nyanyian monyet  oleh penonton asal Kroasia. Akibatnya Tim Kroasia didenda 80 ribu Euro. Pemain Inggris Raheem Sterling pun sering diejek dengan nyanyian itu. Yang paling baru,  pemain Senegal di klub Napoli, Kalidou Koulibaly diteriaki monyet sepanjang laga vs Inter Milan.


FIFA dan PSSI sudah tegas dengan sanksinya.  Klub bisa kena denda, pengurangan poin sampai laga tanpa penonton. Selain denda, sejak 2023 FIFA menerapkan sanksi baru untuk  kasus rasisme. Tim yang supporternya rasis bisa langsung kalah WO,  0-3. Kini di layar kaca dalam tayangan pertandingan sepakbola, sering kita lihat banner besar berbunyi:  “No to Racism”.
Rasisme tidak punya tempat di sepakbola dan hidup kita. Di lapangan kita lawan, di luar kita saudara. Di lapangan yang dilihat cuma dua, kerja keras dan gol.


Dukung tim, hargai lawan. Khusus di Indonesia, hargai semua suku. Stop hinaan soal kulit, rambut dan asal daerah. Semua pemain dari mana pun asalnya, sama keringatnya. Bila sanksi diberlakukan, yang rugi klub dan pemain kita juga. Tidak ada tempat untuk rasisme
Mulai dari diri sendiri, kalau mendengar teman atau penonton mulai rasis, mari kita tegur baik-baik.. Kalau kita rasis ke saudara sendiri,  kita sudah kalah sebelum bertanding.*

Tags: Stop Rasisme
Bagikan:

Komentar 1

B
budiman tanuredjo 21 April 2026, 14:15

saya setuju rasisme tidak bisa ditolerir

Tulis Komentar

0 / 2000