SW60+, Wadah Untuk yang Masih Produktif
Klik untuk lihat penuh
Lahirnya wadah wartawan senior bernama Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) atau SW60+, betul-betul seolah pelepas dahaga. Di saat, maaf harus kita akui, bahwa dunia jurnalistik kita sedang limbung, ia muncul membawa harapan.
Doeloe, kita biasa menulis berita dengan prinsip 5W+1H lengkap, cover both sides, bukan sepotong komentar yang langsung bisa langsung diangkat. Sekarang semua orang bisa berkomentar mengenai apa saja mulai dari APBN, penyebab kalahnya timnas sepakbola sampai geopolitik. Belum lagi diksi dan penggunaan bahasa yang terasa seenaknya. Ya, kini semua orang bisa jadi “wartawan”. Algoritma mengejaremosi, bukan akurasi.
Nah, semua ini mengingatkan saya ketika masa-masa awal menggeluti profesi wartawan. Itu sebabnya saya tertarik untuk bergabung dengan rekan-rekan yang menamakan diri mereka “wartawan senior”. Saya hadir bergabung dengan mereka dan ikut mendeklarasikan lahirnya wadah SW60+, Jumat sore. 17 April 2026.
Betul saja ruang konvensi LSPR tempat acara berlangsung sudah padat oleh hadirin. Mereka adalah wartawan senior yang punya legitimasi sejarah untuk didengar. Tak semua saya kenal karena kami tersebar, bekerja di berbagai media. Namun momen itu membuat kepala saya tunduk mengingat rekan-rekan yang sudah mendahului. Kepada Fikri Jufri yang menarik saya dari pers kampus ke media professional, puluhan tahun lalu. Masih terngiang wanti-wanti Rosihan Anwar, Amir Daud dan pengajar lainnya dalam KLW PWI kepada kami wartawan muda, waktu itu,untuk selalu berpegang pada kode etika wartawan Indonesia. Dan tentu saja kepada para mentor dan rekan seperti Lukman Setiawan, Syu’b ah Asa, Herry Komar, Sumohadi Marsis, Valens Doy, Leo Runkat dan rekan-rekan lain yang doeloe selalu bareng mengejar berita dan kemudian bersigudu kembali ke kantor masing-masing untuk segera menulis laporan, menggunakan mesin tik yang suaranya berisik.
“Itulah masa jayanya media”, tukas Suryopratomo, ketua Dewan Pengawas yang mantan Pimred KOMPAS. Ketika itu keterbatasan sarana membuat wartawan harus berhati-hati. Wajib check n recheck, verifikasi dan perlu melalui banyak pintu sebelum berita bisa dilepas ke ranah publik.
Tapi situasi sekarang sudah berbeda. Semua orang kini bisa jadi wartawan. Deadline sekarang cuma hitungan menit. Contoh paling dekat, adalah istri saya. Bukan wartawan, tapi baru sampai di suatu acara, belum lagi bersalaman dengan yang punya hajat, ia sudah mengirim foto dengan narasi lengkap kepada “circle of influence”nya. Begitu mudahnya menyebarkan kabar di jaman sekarang. Padahal, doeloe kita, salah kutip satu kata bisa menjadi masalah di ruang redaksi.
Kaidah-kaidah jurnalistik yang dulu sama kita kenal kini seolah boleh diabaikan. Didukung kecanggihan teknologi, kini berita menjadi spekulasi. Publik bingung mana fakta, mana hoaks, mana produk buzzer. Semua ini menyebabkan kredibilitas wartawan jatuh, fungsi kontrolnya ikut berantakan. Dan kalau fungsi kontrol mati, yang rugi bukan cuma jurnalis. Pemerintah kehilangan cermin, publik kehilangan arah.
Kehadiran wartawan senior hari itu adalah untuk menghidupkan lagi akal sehat di ruang publik. Ketua Umum Wahyu Muryadi, mantan Pimpred TEMPO, mengatakan bahwa pembentukan organisasi ini berangkat dari keresahan para wartawan senior yang merasa belum mendapat ruang untuk tetap berkontribusi meski masih produktif.
Di tengah situasi ini SW60+ hadir untuk mengembalikan kejernihan dan menjaga jurnalisme tetap berkualitas. Seperti diungkap oleh Menteri Komdigi Meutya Hafid dan juga Kepala KSP Muhammad Qodari, Pemerintah tak butuh pers yang bertepuktangan terus. Tetapi juga tidak sehat kalau tiap kritik distempel sebagai oposisi. Menurut mereka, wartawan senior tahu caranya kritik tanpa menghina, membongkar tanpa membakar. Wadah baru ini diharapkan menghimpun potensi intelektual jurnalis berusia di atas 60 tahun selama ini yang dinilai belum terakomodasi secara maksimal.
“Kami terpanggil…”, kata Budiman Tanuredjo, sekretaris umum yang juga mantan Pimred KOMPAS, membacakan deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia. Ada lima point penting dalam deklarasi itu. Antara lain… terpanggil meneguhkan keyakinan bahwa kemerdekaan pers, kemerdekaan berpendapat dan berserikat merupakan tiang penyangga terpenting dalam berdemokrasi yang dijamin oleh konstitusi dan terpanggil untuk mendayagunakan pengalaman panjang yang mereka miliki.
SW60+, ditandatangani oleh 17 orang pendiri, dan telah resmi berbadan hukum setelah mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum RI pada 17 April 2026.
Tangerang Selatan, 18 April 2026
Doeloe, kita biasa menulis berita dengan prinsip 5W+1H lengkap, cover both sides, bukan sepotong komentar yang langsung bisa langsung diangkat. Sekarang semua orang bisa berkomentar mengenai apa saja mulai dari APBN, penyebab kalahnya timnas sepakbola sampai geopolitik. Belum lagi diksi dan penggunaan bahasa yang terasa seenaknya. Ya, kini semua orang bisa jadi “wartawan”. Algoritma mengejaremosi, bukan akurasi.
Nah, semua ini mengingatkan saya ketika masa-masa awal menggeluti profesi wartawan. Itu sebabnya saya tertarik untuk bergabung dengan rekan-rekan yang menamakan diri mereka “wartawan senior”. Saya hadir bergabung dengan mereka dan ikut mendeklarasikan lahirnya wadah SW60+, Jumat sore. 17 April 2026.
Betul saja ruang konvensi LSPR tempat acara berlangsung sudah padat oleh hadirin. Mereka adalah wartawan senior yang punya legitimasi sejarah untuk didengar. Tak semua saya kenal karena kami tersebar, bekerja di berbagai media. Namun momen itu membuat kepala saya tunduk mengingat rekan-rekan yang sudah mendahului. Kepada Fikri Jufri yang menarik saya dari pers kampus ke media professional, puluhan tahun lalu. Masih terngiang wanti-wanti Rosihan Anwar, Amir Daud dan pengajar lainnya dalam KLW PWI kepada kami wartawan muda, waktu itu,untuk selalu berpegang pada kode etika wartawan Indonesia. Dan tentu saja kepada para mentor dan rekan seperti Lukman Setiawan, Syu’b ah Asa, Herry Komar, Sumohadi Marsis, Valens Doy, Leo Runkat dan rekan-rekan lain yang doeloe selalu bareng mengejar berita dan kemudian bersigudu kembali ke kantor masing-masing untuk segera menulis laporan, menggunakan mesin tik yang suaranya berisik.
“Itulah masa jayanya media”, tukas Suryopratomo, ketua Dewan Pengawas yang mantan Pimred KOMPAS. Ketika itu keterbatasan sarana membuat wartawan harus berhati-hati. Wajib check n recheck, verifikasi dan perlu melalui banyak pintu sebelum berita bisa dilepas ke ranah publik.
Tapi situasi sekarang sudah berbeda. Semua orang kini bisa jadi wartawan. Deadline sekarang cuma hitungan menit. Contoh paling dekat, adalah istri saya. Bukan wartawan, tapi baru sampai di suatu acara, belum lagi bersalaman dengan yang punya hajat, ia sudah mengirim foto dengan narasi lengkap kepada “circle of influence”nya. Begitu mudahnya menyebarkan kabar di jaman sekarang. Padahal, doeloe kita, salah kutip satu kata bisa menjadi masalah di ruang redaksi.
Kaidah-kaidah jurnalistik yang dulu sama kita kenal kini seolah boleh diabaikan. Didukung kecanggihan teknologi, kini berita menjadi spekulasi. Publik bingung mana fakta, mana hoaks, mana produk buzzer. Semua ini menyebabkan kredibilitas wartawan jatuh, fungsi kontrolnya ikut berantakan. Dan kalau fungsi kontrol mati, yang rugi bukan cuma jurnalis. Pemerintah kehilangan cermin, publik kehilangan arah.
Kehadiran wartawan senior hari itu adalah untuk menghidupkan lagi akal sehat di ruang publik. Ketua Umum Wahyu Muryadi, mantan Pimpred TEMPO, mengatakan bahwa pembentukan organisasi ini berangkat dari keresahan para wartawan senior yang merasa belum mendapat ruang untuk tetap berkontribusi meski masih produktif.
Di tengah situasi ini SW60+ hadir untuk mengembalikan kejernihan dan menjaga jurnalisme tetap berkualitas. Seperti diungkap oleh Menteri Komdigi Meutya Hafid dan juga Kepala KSP Muhammad Qodari, Pemerintah tak butuh pers yang bertepuktangan terus. Tetapi juga tidak sehat kalau tiap kritik distempel sebagai oposisi. Menurut mereka, wartawan senior tahu caranya kritik tanpa menghina, membongkar tanpa membakar. Wadah baru ini diharapkan menghimpun potensi intelektual jurnalis berusia di atas 60 tahun selama ini yang dinilai belum terakomodasi secara maksimal.
“Kami terpanggil…”, kata Budiman Tanuredjo, sekretaris umum yang juga mantan Pimred KOMPAS, membacakan deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia. Ada lima point penting dalam deklarasi itu. Antara lain… terpanggil meneguhkan keyakinan bahwa kemerdekaan pers, kemerdekaan berpendapat dan berserikat merupakan tiang penyangga terpenting dalam berdemokrasi yang dijamin oleh konstitusi dan terpanggil untuk mendayagunakan pengalaman panjang yang mereka miliki.
SW60+, ditandatangani oleh 17 orang pendiri, dan telah resmi berbadan hukum setelah mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum RI pada 17 April 2026.
Tangerang Selatan, 18 April 2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar