Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Satu Buku Tiga Judul Dua Negara
Jika Anda menemukan di medsos nama dan foto Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, maka dipastikan, itu foto Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang, Sumatera Barat, bukan Ahmad Khatib.
“Kami tidak memiliki foto Ahmed Al-Khatib, tetapi kami punya foto putranya, Abdülhamid. Buatlah kisahnya dan saya berikan Anda buku-bukunya dan buku tentang kakek kami. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik,” itu pesan Wa Khalid kepada saya pada 2023, ketika saya menulis novel kakeknya.
Ahmad Khatib, guru para ulama Nusantara yang datang ke Mekkah akhir abad 19 dan awal abad 20. Saya memang tertarik menulis kisah hidupnya. Namun, karena ketokohannya yang luar biasa, keraguan menyergap seketika. Ragu bukan berarti berhenti melangkah. Berselancar mencari sumber untuk buku sejarah biografinya, bukanlah pekerjaan gampang. Kerja berat itu, menjadi ringan ketika dari Riyadh datang kiriman file-file buku Ahmad Katib untuk saya. Dapat dipastikan, sayalah di Indonesia yang punya karya lengkap Ahmad Khatib, 45 judul. Ini, saya buktikan, dengan cara bagaimanapun mencarinya,yang saya dapatkan hanya 10 atau lebih sedikit judul.
Selesai, 300 halaman lebih. Pada 2023 buku ini dicetak Republika Penerbit dengan judul, “ Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Guru Para Ulama Nusantara.” Ludes. Saya sampaikan ke Riyadh, buku kakeknya sudah habis terjual. Lantas ia meminta naskah untuk dicetak di sana.
Lama tak berkabar, tiba-tiba beberapa ahri sebelum Lebaran 2026 kemarin, sebuah pesan masuk ke telepon genggam saya.
“Assalamualaikum. Eid Mubarak. Tahun ini kita merayakan dua Idulfitri. Idulfitri dan ‘Idulfitri’ untuk percetakan novel itu,” dari Khalid cicit Ahmad Khatib di Riyadh, Saudi Arabia, 22 Maret 2026. Ia kemudian mengirim foto-foto saat ia membaca karya saya.
Dengan demikian, maka saya menjadi penulis internasional, seperti juga anak saya JS Khairen dengan novel-noveknya yang best seller, yang novelnya diterbitkan di Kuala Lumpur. Jadi jugalah, untuk diceritakan kepada orang yang bertanya. Itupun jika ada yang bertanya. Di Saudi, judulnya digser sedikit menjadi: Buku versi Arab diberi judul, “Riwayāt al-Syaikh Aḥmad bin ‘Abd al-Laṭīf al- Khatib; Imam dan khatib Masjidil Haram Pengajar dan mufti mazhab Syafi’I Ulama besar dari kepulauan Indonesia.”
Hampir bersamaan dengan itu, edisi Indonesiapindah rumah ke Penerbit PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia Grup. Judulnya menjadi, “Yang Mengajar di Gerbang Nabi: Jejak Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Tanah Suci.” Sebentar lagi beredar, didahului buku saya, yang juga pindah rumah tapi judul tetap, ”Rahmah el Yunisiyyah, Perempuan Yang mendahului Zaman,” sudah masuk toko buku awal 2026.
Riwayat Intelektual
Ahmad Khatib al Minangkabawi, berangkat ke Mekkah pada usia 11 tahun. Ia lahir 1860 dan ke Mekkah pada 1871. Tak lama kemudian balik kampung, karena ibundanya rindu. Dua tahun ia “merana,” di Minangkabau karena siang dan malam ingatannya terpaut ke Tanah Suci. Dalam sebuah perjalanan yang dramatis ia pun kembali ke Mekkah.
Hati hendak ke Mekkah lagi, tapi badan terkurung di kampung halaman. Harapan hanya pada
ayahnya sendiri. Jika itu gagal, maka semua impiannya akan hancurberkeping-keping. Ia takut membayangkan itu, sementara mimpi berada di Mekkah nyaris setiap malam datang menyertai tidurnya. Ahmad hanya mampu melayangkan ribuan doa agar mimpinya menjadi nyata.
Tahun 1294 H atau 1887 M. Usia Ahmad kini sudah 18 tahun. Ia berkunjung ke rumah pamannya, Sutan Mohammad Salim – ayah Haji Agus Salim – yang jaksa di Padang. Lebih dari satu bulan ia di sana, maka suatu hari, serombongan orang turun dari kapal yang membawa calon jemaah haji. Kapal itu dari Batavia. Salah seorang dari mereka, ulama besar Masjidil Haram, yang mengelola perjalanan haji, Utsman Syatha. Ulama ini adalah guru Ahmad Khatib.
Ia mampir karena sudah mendapatkan informasi, paman Ahmad orang berpengaruh di Padang. Lagi pula ayah Ahmad juga berbisnis agen perjalanan haji. Bagai mendapat rembulan, Ahmad riang bukan buatan. Mereka bercakacap-cakap dalam Bahasa Arab. Keesokan harinya, kepada ayah, paman dan keluarga Ahmad, Utsma Syatha meminta agar anak yang satu ini diberikan kepadanya untuk dididik menjadi ulama. Anak yang lain, terserah dididik untuk dengan Pendidikan dunia kafir, terserah.
Akhirnya semua mengizinkan dan dibekali.Tapi, itu bukan akhir, sebab ketika naik kapal di Pelabuhan Muaro Padang, sejumlah orang menyuruhnya pulang, sebab ayahnya tidak mengzinkan pergi. Dilarang keras!
Ahmad tak mau turun. Ia abaikan, sebab dia bingung, gurunya juga, semalam diizinkan, sekarang dilarang. Maka berangkatlah Ahmad dengan kepala Kongsi Tiga milik Belanda. Tadi pagi, ia telah menitipkan sepucuk surat untuk ibundanya, di Balai Guru, Ampek Angkek Canduang, Agam. Ia mohon maaf dan mohon izin, untuk kembali ke Mekkah. Sejak kepergian itu ia tak pernah pulang lagi dan wafat di Mekkah. Tapi, tunggu dulu, ia “memindahkan,” Minangkabau, setidaknya memindahkan kaumnya ke Mekkah.
Ia mula-mula menyuruh datang sepupunya yang masih duduk di Sekolah Rakyat, Tahir Djalaluddin, kelak jadi ulama besar dan ahli Ilmi Falak. Dialah orang Indonesia pertama yang belajar ke Al Azhar. Jika Tahir masih SD, maka Ahmad berangkat ke Mekkah ketika duduk di Sekolah Raja atau Kweekschool, Fort dek Kock yang kemudian bernama Bukittinggi.
Muridnya kemudian Agus Salim, Pendiri Nahdatul Ulama, K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri Muhammadiyah, Kiyai Ahmad Dahlan, pendiri Tarbiyah Ismaliyah, Syekh Sulaiman Arrasuli. Berikut ayah Buya Hamka, Karim Amrullah, Syekh Djamil Dambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek. Nama lain, Syekh Abdul Syakur, Syekh Abbas Padang Japang, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Muhammad Djamil Jaho, Syekh Daun Rasyidi, Haji Abdul Halim dari Majalengka, Syekh Hasan Ma’shum dari Labuhan Deli dan Syekh Muhammad Nur serta sederatan nama ulama lainnya.
Di Mekkah Ahmad Khatib punya dua orang istri beradik kakak. Adik meninggal dunia, ia kemudian dinikahkan dengan kakaknya yang sudah ditalak suaminya. Mertuanya adalah singa penjaga. Orang kaya, syekh terkemuka keturunan Persia, punya tokok buku di dekat Masjidil Haram. Mertuanya itu : Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Faidullah Al-Kurdi. Dua anaknya perempuannya, Khadijah dan kakaknya Fatimah. Ahmad dan Khadijah menikah Rabu 5 Maret 1879, atau 12 Rabiul Awwal 1296 . Khadijah meninggal dunia ketika melarikan. Ahmad panik dan nyaris gila, ia kemudian ingin kembali ke Minangkabau.Namun, mertuanya meminta Ahmad tidak pergi dan kemudian menikahkan dengan kakak almarhum.
Masuk Masjidil Haram
Jemaaj haji dari Hindia Belanda, Semenanjung dan Brunai, jumlahnya tidaklah kecil. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 – juga sekarang – nyaris tidak ada yang bisa berbahasa Arab. Maka, wajar kemudian kelas Ahmad Khatib di Masjidil Haram ramai. Ia bahkan dicemburui dan nyaris dicelakai oleh penduduk asli di sana, karena “bukan asli Arab.” Setelah menjadi guru di “Universitas Haram,” Ahmad dipercaya jadi imam di sana.
Kisahnya beredar dalam dua versi. Pertama, pria Minang ini membetulkan bacaan imam yang salah, kedua karena ia pernah jadi imam di rumah petinggi Mekkah ketika diajak mertuanya. Yang manapun, tak soal. Ia kini jadi imam, berkat kepandaiannya dan pengaruh mertuanya, Singa Penjaga itu. Gajinya paling tinggi di antara semua imam empat mazhab. Kemudian diturunkan karena diprotes,
Dialah kemudian yang diproklamirkan ke seluruh negeri kita, satu-satunya imam besar Masjidil Haram dari Indonesia. Untuk jadi imam di sana, mesti ada surat keterangannya. Ya semacam SK zaman sekarang. Ini penting karena ada kaitannya dengan gaji/honor yang akan diterima. Kedudukannya sebagai guru, khatib dan imam dikukuhkan oleh Syarif atau Gubernur Mekkah, Aunur Rofi q bin Muhammad pada tahun 1880 atau 1279 Hijriah. Dengan posisi ini, Ahmad Khatib telah menjadi tiang tengah mazhab tersebut dan bisa membuat fatwa.
Selama jadi imam iamenulis 45 kitab dengan rujukan yang berat-berat. Antara lain soalsengketa dua masjid di Palembang, soal Isra’ Mi’raj yang menurut Belanda tidak benar, makanya ia tulis kitab. Kitabnya memicu perdebatan amat panjang Kaum Tua dan Kaum Muda sejak 1910 sampai 1954 di Minangkabau. Ini bermula dari surat muridnya Dr Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah Padang yang menanyakan soal tarekat.
Perdebatan itu selaian soal Kaum Tua dan Muda, juga tentang perkawinan dan garis keturunan Matrilinial, harta pusaka ala Minangkabau. Selesai 1954 di Bukittinggi Ketika ayah Buya Hamka menungumpulkan ribuan ulama Minangkabau. Maka lahirlah dua istilah kuat di sana, “Harta Pusaka Tinggi,” dan “Harta Pusaka Rendah.” Yang pertama harta wakaf dari nenek moyang ke nenek moyang hingga tak jelas lagi siapa individu yang punya. Ini diwariskan menurut garis keturunan ibu. Kedua, “Harta Pusaka Rendah,” yaitu harta suami istri, suka hati merekah. Jika diwariskan pada anak, orang lain tidak boleh iktu campur. Makanya, jika And membaca dalam roman-roman yang dikarang orang Minang zaman lampau ada sengketa harta, itu pasti terjadi sebelum 1954.
Wafat
Pada Hari Kamis 3 Muharram 1334 malam atau 11 November tahun 1915, selesai menulis bukunya yang ke 45. Terakhir. Buku itu tipis saja, 52 halaman. Ini tentang Riwayat hidupnya tapi tidaklah lengkap
Dia menulis, “Aku adalah keturunan Melayu. Datang dari negeri muslim yang jauh. Tapi, kemudian Allah memindahkan ke negeri yang suci ini. Allah menanamkan rasa cinta kepada kakekmu untuk mencintaiku. Dia memberikan semua untukku, jiwa dan hartanya. Semua itu adalah berkah dari ilmu dan kemuliaannya. Bukan karena dunia dan kenikmatan. Kita berbeda kewarganegaraan, kemiskinan dan kekayaan. Tapi, dengan berkah ilmu, Allah menundukkan dunia untukku.”
Ia pergi untuk selamanya, proses intelektulnya ditemani ratuan kitab para ulama dari India, Afganistan, Mesir, Delta Sungai Nil, Saudi, Maroko, tepian Danau Galilea, para ulama di tepian Tengah dan tentu saja dari Turki. Bintang di Lanit Hijaz, sebutan untuk ulama ini.
Masjid Raya Sumatera Barat
Pada Minggu, 7 Juli 2024, sekitar 100 orang dari 2000 keturunan Sykeh Ahmad Khatib di Suaid dan Mesir sampai di halaman Masjid Raya Sumatera Barat. Satu dari – kalau tak salah—tujuh masjid dengan arsitektur terindah di dunia. Hari ini, akan diletatkan nama ulama ini pada masjis tersebut. Saat itulah buku saya diluncurkan oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi, dihadiri dua gubernur sebelumnya, Irwan Prayitno dan Gamawan Fauzi serta sahabat saya Khalid yang tinggi besar itu.
Dan, buku saya yang di Arab sana, di sampul belakangnya ditulis: “ Dari kabut putih pegunungan Sumatera, muncul seorang pemuda yang ditakdirkan untuk naik ke mimbar Masjidil Haram, sehingga suaranya menjadi gema abadi yang bergaung di lorong-lorong masjid tua. Novel ini menceritakan bab-bab perjalanan yang dibentuk oleh takdir Allah untuk mengubah wajah sejarah umat: biografi seorang ulama yang memikat hati dengan penjelasannya, dan mengejutkan zamannya dengan ensiklopedisnya yang luar biasa, dia adalah ahli fikih yang mengurai hukum-hukum mata uang sehingga menjadi dasar hukum transaksi, dan ilmuwan yang membawa umat ke orbit planet dan galaksi, serta menggerakkan pikiran dengan kehalusan perhitungan dan matematika. Dia bukan hanya seorang penceramah, tapi juga seorang pembaharu yang membersihkan akidah dari kotoran bid'ah, seorang pendidik yang membawa jiwa ke tangga-tangga spiritual, dan seorang pejuang yang mengunsung pedang kata-kata sehingga bendera-bendera kemerdekaan bergerak di belakangnya dan benteng-benteng penjajahan runtuh. Dalam karya ini, aroma sejarah Mekah bercampur dengan pesona kepulauan Indonesia, dalam narasi yang menghilangkan batas antara fiksi dan dokumentasi: untuk menggambarkan wajah Syaikhul Islam Indonesia yang memicu revolusi ilmiah dan sosial dari mihrab Haram, yang gema pengaruhnya masih bergaung di setiap rumah dan sekolah di Timur, mengungkap rahasia-rahasia kehidupan pribadinya yang lama disembunyikan. Penulis telah berusaha keras untuk menelusuri fakta-fakta dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mengisi kesenjangan dengan penelitian dan studi, untuk akhirnya menyajikan kepada kita gambaran ulama yang selama ini dicari orang dalam hiruk-pikuk sejarah, dan kini ada di tangan Anda.”
Cover buku itu coklat klasik dengan sentuhan golden brown. Di kiri bawah ada gambar Ka’bah lalu seseorang di atas onta. Khas Saudi. Di kanan, menara masjid dan sudut Masjid Raya Sumbar, Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Di antara keduanya, ada gambar kapal layar zaman lampau. Khalid mengirimkan foto-foto selain cover juga saat ia sedang membaca buku tersebut di sebelah kawannya di atas kereta dengan kecepatan 300 Km/jam menuju Riyadh.***
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar