Luapan Cinta Nabi di Kitab Burdah dan Barzanji
KOTA Madinah Al-Munawwarah telah lama rebah dalam keheningan malam yang magis. Di sebuah sudut kamar yang bersahaja, tak jauh dari desau angin yang bertiup dari arah makam Rasulullah SAW, Imam Ja'far al-Barzanji duduk bersila menghadapi lembar-lembar kertas kosong.
Suasana kebatinan sang ulama malam itu bukanlah ketenangan yang kosong. Melainkan ruang sakral yang dipenuhi gelombang rindu dan gejolak rasa yang menuntut dialirkan melalui jemari yang bergetar. Hatinya laksana tungku api cinta yang membara, dipenuhi memori dan takzim atas riwayat hidup manusia paling mulia di muka bumi.
Setiap kali jemarinya mencelupkan pena bulu ke dalam wadah tinta, ada desah nafas yang berat. Ada tanggung jawab spiritual yang teramat berat yang menggelayuti pundaknya. Menulis sejarah Nabi bagi Imam Ja'far bukanlah sekadar menyusun fakta kronologis di atas kertas kering. Laku spiritual ini merupakan ziarah batin untuk menghadirkan kembali aroma nubuwah ke dalam relung jiwanya.
Di dalam keheningan itu, Imam Ja’far seolah mampu mendengar gemuruh langkah kaki unta di padang pasir masa lalu. Merasakan kehangatan pelukan Sayyidah Aminah, dan menyaksikan fajar menyingsing di kota suci Mekah pada Senin pagi yang indah itu. Air mata mengambang jernih di pelupuk matanya. Bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang meluap.
Ketika untaian kata demi kata mulai mengalir menjadi bait syair yang ritmis, jiwa Imam Ja'far seolah terangkat tinggi dalam lingkaran ekstasi spiritual. Setiap huruf yang dituliskannya adalah detak jantungnya sendiri yang mengetuk pintu langit. Memohon agar goresan penanya tidak menjadi hijab, melainkan jembatan cahaya bagi umat yang merindukan tuntunan. Malam itu yang menulis kitab bukanlah sekadar seorang mufti, tapi pencinta sejati yang sedang mabuk kepayang lantaran kemuliaan Sang Nabi.
Bayangkanlah kedamaian mistis yang merayap di dalam batinnya. Tersembul sebuah keyakinan tak kasat mata bahwa untaian rindu ini akan melintasi samudera. Menembus abad demi abad, dan dinyanyikan oleh jutaan bibir manusia di tanah-tanah yang jauh yang bahkan belum pernah ia lihat.
Kitab itu telah selesai ditulis dan dilantunkan dalam perayaan maulid Nabi. Namun di dalam suasana kebatinan Imam Ja'far, pujian kepada sang junjungan adalah sebuah lagu abadi yang takkan pernah menemui bait terakhirnya. Sebuah zikir cinta yang akan terus berdengung di dalam jiwanya hingga maut menjemput dan mempertemukannya kembali dengan sang kekasih di telaga al-Kautsar.
Ja'far al-Barzanji dilahirkan pada tahun 1690 Masehi, atau 1103 Hijriyah, di kota suci Madinah, tempat sejarah dan teologi berkelindan dalam denyut nadi sehari-hari. Ia tumbuh dalam asuhan keluarga Al-Barzanji, klan ulama besar keturunan Kurdi yang bermigrasi dari wilayah Shahrazur, dataran subur Kurdistan kuno yang dialiri Sungai Tanjaro di Irak, menuju jazirah Arab. Mereka membawa serta tradisi keilmuan yang kokoh dan kecenderungan sufistik yang kental.
Sejak belia, Ja'far menghirup udara perpustakaan dan ruang-ruang halaqah Masjid Nabawi. Ia merekam lapis demi lapis hukum Islam, gramatika bahasa Arab, logika, hingga hadis-hadis Nabi langsung dari para mahaguru di zamannya. Ketajaman kelananya dalam samudera ilmu mengantarkannya menduduki posisi terhormat sebagai Mufti Mazhab Syafi'i di Madinah, otoritas keagamaan tertinggi yang membuatnya menjadi poros fatwa dan rujukan umat dari berbagai belahan dunia Islam.
Warisan terbesar Ja'far al-Barzanji bukanlah deretan kitab fikih yang kaku dan dingin, melainkan sebuah traktat puitis yang ia beri judul 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Kitab prosa lirik ini ditulis bukan sekadar sebagai catatan kronik sejarah. Tapi sebagai manifestasi cinta yang meluap-luap kepada Nabi Muhammad SAW, sebuah ekspresi kerinduan spiritual yang ditulis dengan tinta estetika sastra yang tinggi.
Karya inilah yang kelak melintasi batas-batas samudera. Singgah sejenak –bisa jadi berlama-lama dan dijadikan tradisi-- untuk disenandungkan di surau-surau, pesantren, dan rumah-rumah penduduk. Barangkali juga di lingkungan tempat Anda bermukim, di seantero Nusantara. Lalu mengalami metamorfosis sebutan menjadi "Kitab Barzanji"—mengabadikan nama keluarga sang pengarang dalam tradisi lisan masyarakat sekuler.
Imam Ja’far wafat pada tahun 1764 Masehi (1177 H) dan dimakamkan di pemakaman Jannatul Baqi, tempat peristirahatan keluarga Nabi, para sahabat dan ulama besar di Madinah. Ia telah memahat namanya bukan hanya sebagai teolog yang menjaga teks-teks hukum. Tapi sebagai seorang penyair sufi yang menyediakan jembatan emosional bagi jutaan muslim untuk menyentuh kembali sisi kemanusiaan dan keagungan Sang Nabi melalui keindahan ritme bahasa.
Perbedaan gaya penulisannya dengan Kasidah Burdah karya Imam al-Bushiri terletak pada anatomi struktur sastranya. Kasidah Burdah murni karya puisi (kasidah) Arab klasik yang tunduk pada aturan metrum yang sangat ketat dan memiliki rima akhir tunggal berupa huruf "Mim" di ratusan baitnya secara konsisten. Pendekatan konten Burdah tidak berfokus pada kronologi sejarah. Melainkan pada metafora sufistik yang sarat akan ratapan penyesalan dosa, pujian atas sifat-sifat maknawi nabi, serta untaian kerinduan spiritual yang mendalam.
Begitulah, di rahim waktu yang lampau, dua jiwa berdiri di hadapan bayang-bayang lelaki yang sama. Namun mereka memahat rindu dengan pahat yang berbeda sehingga melahirkan dua monumen sastra yang punya denyut nadi tak sama. Ja'far al-Barzanji dan Imam al-Bushiri adalah dua peziarah ingatan yang menolak membiarkan nama Rasulullah Muhammad SAW membeku dalam catatan kaki sejarah yang berdebu.
Barzanji memilih jalan linier yang setia pada detak waktu bumi. Ia menorehkan tintanya yang kemudian melahirkan 'Iqd al-Jawahir, sebuah kalung permata yang dirangkai dari benang-benang sejarah yang dipuitiskan. Cara pengungkapan rasa cintanya pada Rasul merupakan hibrida yang ganjil namun memukau. Berwujud persetubuhan antara prosa lirik yang bergulir bebas dan bait-bait puisi (nazham) yang sesekali menyergap untuk memberi jeda nafas.
Gaya bahasanya bersifat deskriptif-naratif. Prosa lirik itu bergerak mengalir layaknya sebuah kronik biografi sejarah (sirah) yang menceritakan silsilah, masa kecil, hingga mukjizat fisik sang nabi, dengan rima akhir kalimat yang berganti-ganti di setiap bab. Ketika membacanya, kita seperti berjalan menyusuri lorong waktu di Madinah dan Mekah. Kita diajak melihat silsilah yang agung, rahim Aminah yang bercahaya, wangi tubuh sang bayi, hingga mukjizat yang meruntuhkan keangkuhan istana Persia.
Bahasanya khas digubah seorang sejarawan yang sedang jatuh cinta. Narasinya selain terikat pada kronologi, pada fakta-fakta sirah yang nyata, tapi menolak gaya penyampaian yang “dingin.” Kalimat prosanya berujung pada rima-rima yang berdentang lembut di ujung lidah. Berganti-ganti warna di setiap bab, seakan-akan sejarah adalah sehelai kain sutra yang coraknya berubah setiap kali terkena sapuan cahaya matahari.
Kitab Kasidah Burdah, melangkah ke arah yang sepenuhnya berbeda. Burdah merupakan salah satu karya sastra Arab paling termasyhur di dunia Islam yang berisi syair pujian (madah), selawat, dan ungkapan kecintaan (mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW. Karya monumental berbentuk puisi klasik ini digubah oleh ulama, sufi, sekaligus penyair ulung asal Mesir, Imam al-Bushiri (1211–1294 M). Judul asli kitab puisi ini sejatinya Al-Kawakib ad-Durriyyah fi Madhi Khairil Bariyyah (Kemilau Surgawi dalam Pujian Sebaik-baik Ciptaan).
Burdah (secara harfiah berarti mantel atau jubah) lahir bukan dari ruang kuliah sang mufti yang tenang. Tapi terwujud dari ranjang kesakitan seorang penyair yang didera kelumpuhan fisik dan batin. Setelah selesai dan melantunkannya, al-Bushiri tertidur lalu bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Di dalam mimpi tersebut, Nabi mengusap bagian tubuh Imam al-Bushiri yang sakit dan menyelimutinya dengan jubah atau burdahnya.
Karena itu, strukturnya menjadi sangat ketat, monolitik, dan tak tergoyahkan. Ia mengikat seluruh keluh kesahnya dalam metrum puisi Arab klasik yang agung, memenjara ratusan baitnya dalam rima akhir huruf Mim yang berulang-ulang tanpa putus. Pengulangan ini bukan sekadar urusan teknis belaka. Melainkan sebuah ketukan palu yang terus-menerus memukul dinding kesadaran kita: sebuah kepasrahan, sebuah zikir ritmis yang magis.
Burdah yang berisi 160 bait syair dan terbagi dalam 10 bab utama ini tidak berkisah tentang kapan nabi lahir atau bagaimana ia berdagang. Tapi melompat langsung ke dalam samudera sifat maknawi sang pilihan. Ia berbicara tentang hawa nafsu yang harus dijinakkan, malam-malam penuh air mata, dan tentang permohonan syafaat di hari ketika bumi tidak lagi bersahabat. Ajaib, begitu tersentak dan terbangun dari tidurnya, al-Bushiri bisa berdiri dan sembuh total dari kelumpuhannya. Karena peristiwa aneh ini, kasidah tersebut juga kerap disebut Al-Bur'ah yang berarti “kesembuhan”.
Barzanji ibaratnya sebuah film dokumenter yang diberi musik latar yang megah. Burdah ditamsilkan sebagai lukisan abstrak yang digoreskan dengan darah dan air mata penyesalan. Namun, teks-teks luhur ini tidak ditakdirkan untuk terpenjara di gurun pasir Arabia. Angin laut membawanya berlayar, menembus gelombang samudera, menuju sebuah gugusan kepulauan yang hijau dan basah: Nusantara.
Masuknya teks Barzanji dan Burdah ke negeri kepulauan ini merupakan drama pertemuan budaya yang senyap namun mendalam. Apalagi pelabuhan-pelabuhan di Sumatra dan Jawa sejak abad ke-14, bukan hanya menjadi tempat bongkar muat rempah-rempah. Melainkan juga tempat bertemunya berbagai macam cara manusia dalam memandang segala urusan yang bersifat spiritual, mistis dan gaib.
Para saudagar dan sufi dari Persia serta Gujarat datang tidak membawa sepasukan tentara, melainkan membawa sekeranjang ritme. Mereka mengedepankan tradisi lisan yang memikat telinga manusia Nusantara yang sejak dahulu kala memang mencintai kidung, mantra, dan nyanyian kosmis. Bait pembuka Burdah mungkin sudah akrab kita dengar: Mawla ya shalli wa sallim da'iman abada, 'ala habibika khayril khalqi kullihimi. (Wahai Tuhanku, limpahkanlah selawat dan salam selalu dan abadi, kepada Kekasih-Mu yang merupakan makhluk terbaik di antara seluruh ciptaan-Mu).
Di tangan Walisongo, kitab pujian buat Nabi itu menemukan rumah barunya yang paling hangat. Para wali, dengan kearifan yang melampaui zaman mereka, melihat bahwa manusia tidak bisa diubah hanya dengan jejalan hukum fikih yang kering. Teks Barzanji, juga Burdah, dengan prosanya yang berirama dan musikalisasi bahasanya yang kental dan indah, digunakan sebagai jembatan spiritual. Mantra dan tembang pemujaan terhadap dewa-dewa perlahan-lahan digantikan dengan selawat yang bersumber dari kedua kitab ini.
Proses ini bukanlah penaklukan budaya yang kasar, melainkan sebuah infiltrasi estetis. Nama Muhammad SAW disusupkan ke dalam struktur kesadaran lokal lewat keindahan bunyi. Hal ini membuat masyarakat agraris saat itu merasa bahwa Islam tidak datang untuk merampas seni mereka. Kehadiran Islam diyakini untuk menyempurnakan ritme hidup mereka. Terjadi proses akulturasi budaya yang bersahaja.
Abad berganti dan jalur pelayaran menuju Mekah serta Madinah semakin ramai pada abad ke-18 dan ke-19. Lalu lintas laut yang semarak ini menumbuhkan penguatan teologis yang luar biasa. Dua kota suci itu menjadi destinasi ibadah sekaligus sumber ilmu. Banyak pemuda dari berbagai pelosok Nusantara menghabiskan berpuluh tahun hidup mereka di bawah bayang-bayang Masjid Nabawi. Di sana, mereka belajar langsung dari para penerus Ja'far al-Barzanji.
Penerimaan kitab ini di bumi Nusantara kian kukuh dan tak tergoyahkan setelah ulama besar asal Banten, Syaikh Nawawi Al-Bantani (1813-1897), menulis kitab Madarij ash-Shu'ud ila Iktisa' al-Burud (Tangga-Tangga Kenaikan Menuju Pemakaian Jubah yang Indah)—koreksi: bukan Madarij As-Su'ud. Ini sebuah kitab syarah atau penjelasan kontekstual yang mengupas kandungan makna di balik keindahan sastra Barzanji.
Kini, berabad-abad setelah kedua penulisnya wafat, Barzanji dan Burdah telah menjelma menjadi bagian dari lanskap batin manusia Nusantara. Teks-teks itu dibaca saat bayi baru lahir, saat sepasang kekasih menikah, saat sebuah rumah baru didirikan, hingga saat tubuh yang fana hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.
Di balik riuh rendah suara para pelantunnya, ada sebuah refleksi kritis yang tertinggal: bahwa keyakinan akan kebenaran agama sering kali lebih awet dan lebih meresap ketika disamarkan sebagai karya seni yang puitis.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar