Sepotong Ingatan Tentang Keringat Rachmat Gobel
FAJAR kala itu pecah diterpa serangan maut yang dingin. Merenggut sesosok tubuh yang lelah dari ranjang Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta Selatan. Tepat pukul 03.20 WIB, pada suatu subuh yang kelam, Jumat, 10 Juli 2026, denyut jantung Rachmat Gobel mendatar menjadi sebaris garis lurus yang kaku.
Pria yang separuh umurnya dihabiskan untuk memikirkan nasib orang lain itu akhirnya menyerah pada keletihan biologisnya sendiri dalam usia 63 tahun. Retno Damayanti, sang istri, menggenggam jemari suaminya yang perlahan mendingin. Sedangkan isak tangis kedua anaknya, Nurfitria Sekarwillis dan Mohammad Arif Gobel memecah keheningan ruang perawatan yang seketika berubah menjadi ruang duka.
Kepergian Rachmat Gobel memang bukan sekadar padamnya sebuah nyawa, melainkan runtuhnya payung teduh tempat ribuan kaum papa bernaung. Ia tiada, meninggalkan kesunyian yang teramat perih di balik dinding-dinding pabrik elektronik raksasa. Pagi itu, ketika sirine pabrik berbunyi menandakan pergantian giliran kerja, ribuan buruh tertegun di depan gerbang. Mesin-mesin produksi tetap berputar, ban berjalan tetap mengalirkan komponen, namun atmosfer di dalam pabrik terasa seperti kuburan yang luas.
Terasa ada yang patah di dada para pekerja. Mereka teringat sosok melankolis yang kerap berjalan di antara deretan mesin. Bukan sebagai majikan yang pongah, melainkan sebagai seorang bapak yang selalu menatap mata buruhnya dengan pandangan penuh takzim. Rachmat adalah pewaris dinasti yang mengorbankan status elitenya demi merasakan langsung perihnya telapak tangan yang kapalan akibat kerja keras.
Kepedihan yang paling menyayat hati justru tersimpan dalam lembaran kehidupan sehari-harinya yang tak pernah tertangkap jepretan fotografer koran dan kameraman televisi. Publik mengenalnya sebagai sosok berjas rapi (ia selalu tampil necis, berjas abu-abu kadang bergaris tipis, dengan dasi dan saputangan penghias jas), sebagai Wakil Ketua DPR RI yang terhormat, atau mantan Menteri Perdagangan yang bervokal lantang.
Fisik Rachmat Gobel sesungguhnya bertarung digerus komitmennya sendiri. Ia menukar jatah istirahatnya, mengabaikan alarm peringatan dari tubuhnya sendiri, demi menembus debu jalanan Gorontalo, demi kewajiban memimpin rapat ketahanan pangan yang melelahkan hingga subuh. Pengorbanannya semata untuk sebuah idealisme: ia menolak beristirahat di saat rakyat yang diwakilinya masih didera kemiskinan.
Ketika jenazahnya diarak menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata, langit Jakarta seolah ikut meredup. Turut berduka, mengantarkan kepergian seorang kesatria industri yang kesepian. Di sepanjang jalan menuju pemakaman, pemandangan mengharukan tersaji tanpa rekayasa. Di luar barikade militer dan upacara salvo yang kaku, ratusan pedagang pasar tradisional, pengrajin anyaman, dan buruh-buruh kasar berkerumun dengan pakaian lusuh mereka.
Mata mereka sembab. Air matanya menetes bebas di atas pipi-pipi yang legam oleh matahari. Mereka berbisik lirih dalam doa yang khusyuk. Meratapi hilangnya satu-satunya pejabat tinggi yang sudi mendengarkan keluh kesah mereka tentang harga beras, tentang gempuran barang impor yang kian mencekik leher, atau tentang banyak hal yang berkaitan dengan masyarakat pinggiran.
Tragedi terbesar di balik kepergian Rachmat Gobel adalah kenyataan bahwa ia berpulang di saat tugasnya belum sepenuhnya usai. Dua hari sebelum nafasnya terhenti, ia masih memaksakan tubuhnya yang rapuh untuk berdiri di Malang, Jawa Timur. Ia memimpin sebuah forum pariwisata dan pangan, seolah tahu bahwa waktunya di dunia ini tinggal menghitung hari, mungkin malah tinggal menghitung jam.
Rachmat Gobel wafat di atas sajadah pengabdian. Ia runtuh seperti sebatang pohon pisang dalam filosofi hidupnya yang legendaris. Pohon yang menyerahkan buahnya, daunnya, hingga pelepah terakhirnya bagi manusia. Lalu ambruk ke tanah setelah memastikan ada tunas baru yang siap melanjutkan perjuangan yang pedih dan penuh resiko.
Pria santun berdarah Gorontalo itu telah membeku dalam keabadian. Ia meninggalkan kita dalam sebuah republik yang kian bising, namun terasa sepi tanpa kehadirannya. Kepergiannya meninggalkan sebaris takziah, bendera setengah tiang di Senayan, dan sebuah pertanyaan yang liris: apa yang sesungguhnya diserahkan seorang manusia ketika memutuskan berjalan dari kenyamanan ruang direksi menuju rimba politik yang bising?
Mungkin jawabannya tersimpan dalam lipatan waktu. Pada sepotong ingatan tentang keringat yang menetes di lantai pabrik puluhan tahun silam. Di tahun-tahun ketika ia muda, Chuo University di Tokyo, Jepang, memberikan selembar ijazah perdagangan internasional yang mentereng.
Namun, pelajaran terbesarnya tidak datang dari ruang kuliah yang steril di Jepang. Ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, seorang perintis industri, sengaja mengirimnya ke lantai pabrik Matsushita bukan sebagai putra mahkota, tapi sebagai buruh magang rendahan. Ia membersihkan lantai, memegang obeng, memilah sekrup dan mencium bau timah solder yang terbakar setiap hari.
Banyak pelajaran yang bisa dipetik ketika dia menjadi buruh magang di sana. Rachmat belajar bahwa industri bukan sekadar akumulasi modal, efisiensi rantai pasok atau deretan angka di atas kertas laporan keuangan. Tapi industri adalah tentang memanusiakan manusia. Pabrik adalah sebuah kuil tempat martabat kaum pekerja dirawat, tempat ribuan impian keluarga kecil digantungkan pada setiap putaran mesin.
Ketika estafet kepemimpinan Gobel Group akhirnya jatuh ke pundaknya, Rachmat tidak sekadar mewarisi sebuah imperium bisnis bernilai triliunan Rupiah. Ia mewarisi sebuah beban moral bernama falsafah pohon pisang tadi. Filosofi hidup sang ayah itu mengajarkan bahwa sebatang pohon pisang harus berguna dari daun, batang, hingga buahnya. Sebelum mati, ia harus memastikan tunas baru telah tumbuh kuat di sekitarnya.
Falsafah ini menghujam begitu dalam di benaknya. Di bawah kendalinya, PT Panasonic Gobel Indonesia, berkembang bukan sekadar sebagai penjual televisi atau penyejuk ruangan yang agresif di pasar domestik. Perusahaan itu menjadi sebuah ekosistem sosial yang gigih melindungi ribuan dapur keluarga buruh agar tetap mengepul.
Di dunia bisnis, Rachmat Gobel boleh dibilang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia punya segalanya: berada di puncak piramida kenyamanan, dihormati di Jakarta, dan dihargai tinggi di Tokyo sebagai jembatan emas diplomasi ekonomi.
Namun, politik adalah sebuah panggung dengan daya pikat yang aneh—barangkali juga kejam. Ia sering kali menuntut pengorbanan yang tak masuk akal bagi nalar rasional pasar. Pada tahun 2014, sebuah ketukan dari istana mengajaknya masuk ke dalam Kabinet Kerja di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Perdagangan.
Di sinilah pengorbanan itu dimulai. Bagi seorang pengusaha, waktu adalah presisi kalkulatif dan kepastian hukum. Bagi seorang birokrat di republik ini, hal itu berarti kompromi yang melelahkan. Ia masuk kabinet dengan ketegasan seorang industrialis yang ingin melindungi pasar domestik. Ia mengharamkan pakaian bekas impor demi menjaga martabat tekstil lokal, membatasi peredaran minuman beralkohol di minimarket demi teguhnya moralitas publik.
Namun, politik adalah sebuah mesin dengan roda-roda gerigi yang tak selalu berputar searah dengan idealisme. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, badai politik dan kebijakan atasan mendadak sontak merombak kabinet. Namanya tergeser. Di titik itu, seorang manusia biasa mungkin akan memilih pulang ke rumahnya yang sejuk di Jakarta Selatan. Ia akan kembali ke pelukan korporasi yang memujanya, dan melupakan urusan republik yang melelahkan.
Tetapi sikap Rachmat Gobel berbeda. Ia memilih untuk tetap terluka, bertarung, dan membiarkan dirinya terpapar debu jalanan. Ia bergabung dengan Partai NasDem, menurunkan egonya sebagai pengusaha kakap, dan turun langsung ke tanah leluhurnya di Gorontalo. Ia menggapai suara petani jagung, pedagang pasar becek, hingga nelayan miskin--ia pernah menanyakan pada saya ihwal bantuan program buat nelayan Gorontalo. Mengapa seorang miliarder yang hartanya melimpah, mau menembus debu jalanan Gorontalo yang panas hanya demi sekeping kursi di Senayan?
Apalagi jika pilihan itu berjung pengorbanan. Rachmat Gobel bukan sekadar kehilangan waktu luang bersama keluarga besarnya. Ia harus rela menaruh nama baik dan reputasi bersihnya di atas altar kritik publik yang kerap kali tak berbelas kasih. Ketika menjadi Wakil Ketua DPR periode 2019-2024, ia tak lagi bisa berlindung di balik dinding kaca kantor Sudirman yang steril. Tapi harus menghadapi demonstrasi mahasiswa, lobi-lobi politik yang pelik—dan juga cibiran sinis yang menyamaratakan semua politisi sebagai pemburu rente.
Kepergiannya meninggalkan sebaris takziah resmi, bendera setengah tiang di Senayan, dan gema tangis para pedagang pisang di tanah leluhurnya, Gorontalo. Namun, di balik seluruh protokoler duka itu, sebuah pertanyaan liris mengapung: apa yang sesungguhnya diserahkan seorang manusia ketika ia memutuskan untuk berjalan dari kenyamanan ruang direksi korporasi global menuju rimba politik yang bising dan penuh curiga?
Rachmat Gobel sepertinya mengorbankan ketenangan demi sepotong ambisi yang mulia: memastikan Kawasan Timur Indonesia tidak selamanya menjadi halaman belakang yang terlupakan. Di parlemen, suaranya vokal tentang kedaulatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM. Ia tahu betul bahwa ekonomi yang kuat tidak dibangun dari balik menara gading di Jakarta. Tapi kekuatan itu dibangun dari denyut nadi pasar-pasar tradisional di pelosok Nusantara.
Ada harga biologis yang sangat mahal yang harus dibayar untuk sebuah pengabdian tanpa jeda. Di balik senyumnya yang tenang, tutur katanya yang santun dan pembawaannya yang anggun ala didikan Jepang, Rachmat Gobel memendam keletihan yang luar biasa. Perjalanan bolak-balik Jakarta–Gorontalo, rapat-rapat maraton hingga larut malam di DPR, serta beban pikiran untuk menjaga keseimbangan antara nasib ribuan buruh pabriknya dan jutaan konstituennya, perlahan-lahan mengikis ketangguhan fisiknya.
Pabrik-pabrik itu, setelah ia tiada, hingga kini tetap beroperasi. Lampu-lampu indikator elektronik tetap berkedip, dan ruang sidang DPR tetap akan menggelar rapat-rapatnya yang bising.
Namun, ada satu kenangan yang tertinggal di lorong-lorong pabrik dan di hati para pedagang kecil di Gorontalo. Secuil kisah yang mengingatkan kita bahwa pernah ada seseorang yang memilih jalan sunyi pengorbanan untuk menjadi berarti bagi tanah airnya. Seperti pohon pisang di pekarangan, ia telah melahirkan tunas-tunasnya. Memberikan seluruh dirinya tanpa sisa. Ia rebah dengan ketenangan yang paripurna.
Selamat beristirahat, Yang Mulia Rachmat Gobel.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar