Rencana Podcast yang Tertunda, Selamat Jalan Angga
KABAR duka itu datang mengejutkan. Airlangga Pribadi Kusman (50), dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Kabar yang saya terima, Angga—demikian Airlangga biasa dipanggil—sempat terjatuh di kawasan Gambir karena tekanan darah tinggi. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit. Takdir berkata lain.
Requiescat in pace.
Saya dua kali bertemu dan ngobrol cukup intens dengan Airlangga. Pertemuan pertama berlangsung di Bentara Budaya Jakarta. Pertemuan kedua justru di rumah saya.
Selasa, 14 April 2026, saya mengundang Angga datang ke rumah. Niat awalnya sederhana: saya ingin mengajaknya tampil dalam podcast Ruang Tamu BacktoBDM. Saya mengikuti sejumlah pandangannya tentang politik Indonesia dan merasa percakapan dengannya akan menarik.
Namun, jadwal kami tidak bertemu. Angga datang hari Selasa, sementara jadwal taping Ruang Tamu biasanya Senin.
Podcast itu akhirnya tidak pernah terjadi.
Kami justru ngobrol tanpa kamera. Tanpa lampu studio. Tanpa keharusan memikirkan judul, thumbnail, atau durasi tayangan. Percakapan mengalir tentang kondisi negeri yang sama-sama kami rasakan sedang tidak baik-baik saja.
Sekarang saya baru menyadari: ada percakapan yang ternyata hanya diberi kesempatan berlangsung sekali.
Intelektual dan Pusaran Kekuasaan
Angga adalah lulusan Universitas Airlangga. Ia kemudian meraih gelar doktor di Murdoch University, Australia. Disertasinya membahas politik good governance, intelektual, dan kekuasaan lokal di Jawa Timur. Dari penelitian itulah kemudian lahir salah satu karya pentingnya, The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era.
Judul buku itu seperti menggambarkan kegelisahan intelektual Angga sepanjang hidup akademiknya: pusaran kekuasaan.
Angga tidak melihat politik hanya sebagai pertarungan di antara partai, kandidat, atau elite politik. Politik baginya adalah pertarungan kepentingan sosial untuk menguasai sumber daya, institusi, dan negara.
Karena itu, salah satu tema yang terus muncul dalam pemikirannya adalah oligarki.
Bagi Angga, oligarki bukan sekadar sebutan buruk kepada orang-orang kaya yang dekat dengan kekuasaan. Oligarki adalah struktur kekuasaan. Ia menjelaskan bagaimana aliansi politik dan bisnis dapat bertahan bahkan setelah sebuah rezim otoriter tumbang. Institusi boleh berubah, pemilu boleh berlangsung rutin, dan bahasa demokrasi boleh semakin fasih dipergunakan, tetapi jaringan kepentingan lama bisa beradaptasi dan menemukan bentuk baru di dalam demokrasi.
Pandangan itu membuat Angga tidak mudah terpesona oleh perubahan kelembagaan. Demokratisasi tidak otomatis berarti demokrasi telah terkonsolidasi. Pemilu tidak otomatis membuat rakyat berkuasa. Dan reformasi institusi tidak dengan sendirinya membongkar struktur kekuasaan lama.
Masyarakat Sipil Pun Harus Dikritik
Yang menarik, pisau analisis Angga tidak hanya diarahkan kepada negara dan oligarki. Ia juga kritis terhadap masyarakat sipil dan kaum intelektual. Dalam salah satu tulisannya tentang kuasa oligarki dan posisi masyarakat sipil, Angga menolak anggapan romantik bahwa masyarakat sipil selalu menjadi kekuatan demokratis yang berhadapan dengan negara atau oligarki. Masyarakat sipil sendiri merupakan arena pertarungan berbagai kekuatan sosial. Akademisi, aktivis, wartawan, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok intelektual tidak otomatis berdiri di luar kekuasaan.
Mereka pun bisa masuk ke dalam pusaran itu.
Dalam penelitian doktoralnya, Angga memperlihatkan bagaimana kaum intelektual dapat berperan bukan hanya sebagai produsen pengetahuan, melainkan juga sebagai konsultan politik, penasihat pemerintah, anggota tim kampanye, bahkan bagian dari mekanisme yang membantu mempertahankan kepentingan politik dan bisnis.
Di sinilah kritik Angga terasa relevan sampai hari ini. Pertanyaan penting bagi seorang intelektual bukan hanya apa yang ia pikirkan, tetapi di mana ia berdiri ketika kekuasaan sedang bekerja.
Demokrasi dan Warga Negara
Perhatian Angga terhadap demokrasi juga tidak berhenti pada institusi.
Ia melihat demokrasi representatif membutuhkan keseimbangan antara negara dan masyarakat sipil serta ruang yang memungkinkan warga negara terlibat dalam pembentukan dan koreksi kebijakan. Demokrasi, dengan demikian, bukan pesta lima tahunan untuk memilih penguasa. Demokrasi membutuhkan warga yang mempunyai kebebasan politik dan kemampuan mengontrol kekuasaan.
Itulah sebabnya Angga belakangan semakin aktif melakukan pendidikan politik.
Ia wira-wiri Jakarta-Surabaya. Di sela aktivitas akademiknya di Universitas Airlangga, ia juga menemani ayahnya yang telah sepuh di Pamulang, Tangerang Selatan. Di kampus, Angga menjadi promotor sejumlah mahasiswa yang sedang menempuh studi doktoral.
Saya mengenalnya sebagai ilmuwan progresif.
Sejak muda ia mengikuti dari dekat kiprah Partai Rakyat Demokratik. Ketika belajar di Australia, ia semakin mendalami teori-teori politik kiri dan ekonomi-politik. Tetapi kekiriannya bukan sekadar romantisme simbolik. Ia mencoba menggunakan tradisi pemikiran itu untuk membaca siapa memperoleh apa, siapa menguasai sumber daya, siapa tersingkir, dan bagaimana kekuasaan bekerja di balik institusi formal demokrasi.
Angga juga menaruh perhatian pada Sukarno dan gagasan pembebasan Indonesia. Bukunya, Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia, memperlihatkan pencariannya terhadap tradisi pemikiran progresif yang mempunyai akar dalam sejarah Indonesia sendiri.
Barangkali itulah benang merah perjalanan intelektual Angga: mencari kemungkinan politik yang memberi ruang lebih besar kepada mereka yang selama ini berada di pinggiran kekuasaan.
Kursi yang Tak Pernah Terisi
Saya kembali teringat Selasa siang, 14 April 2026 itu.
Seandainya jadwal taping kami cocok, mungkin sekarang ada rekaman percakapan dengan Angga di kanal BacktoBDM. Saya bisa membuka kembali video itu. Mendengar suaranya. Melihat ekspresinya ketika menjelaskan oligarki, demokrasi, kaum progresif, atau kegelisahannya terhadap arah republik.
Tetapi rekaman itu tidak pernah ada. Yang tertinggal hanya ingatan tentang sebuah percakapan di rumah. Dalam dunia digital, kita sering merasa segala sesuatu bisa ditunda. Pertemuan bisa dijadwalkan ulang. Podcast bisa dibuat bulan depan. Percakapan bisa diteruskan lain waktu.
Kematian mengingatkan bahwa manusia tidak mempunyai kemewahan itu. Ada percakapan yang tidak pernah memperoleh episode kedua. Ada rencana yang selamanya tinggal rencana.
Dan ada kursi di Ruang Tamu BacktoBDM yang akhirnya tidak pernah diduduki Airlangga Pribadi Kusman.
Selamat jalan, Angga.
Gagasan boleh kehilangan pemiliknya. Tetapi gagasan yang pernah dilemparkan ke ruang publik mempunyai kehidupannya sendiri. Barangkali di situlah seorang intelektual memperoleh umur keduanya. (bdm)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar